Ramadan Public Lecture (RPL) pada Rabu (11/3) menghadirkan Rektor Universitas Alma Ata, Prof. Dr. Hamam Hadi, M.S., Sc.D., SpGK. Ia menyampaikan materi bertajuk “Masa Depan Bangsa di Piring Anak: Menyelamatkan Generasi dari Stunting” di hadapan jemaah salat isya dan tarawih di Masjid Kampus UGM.
Stunting Berawal dari Isi Piring
Dalam pemaparannya, Hamam menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama. Secara definisi, anak dikatakan stunting jika tinggi badan menurut usianya berada di bawah standar rata-rata. Ia menegaskan bahwa masalah ini sangat erat kaitannya dengan kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
“Stunting itu erat sekali dengan isi piring kita. Terjadi karena defisiensi asupan makanan dalam waktu yang panjang, bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun,” jelasnya.
Menurutnya, kekurangan gizi dapat terjadi karena keterbatasan akses terhadap makanan bergizi atau karena penyakit infeksi yang berulang. Kedua faktor ini sering kali saling berkaitan dan memperburuk kondisi anak.
Baca juga: Maskam UGM dan Prof. Avin Resmikan Kerja Sama Pengelolaan Rumah Quran di Gemawang
Indonesia Masih Lima Besar Dunia
Hamam mengungkapkan bahwa stunting masih menjadi masalah global yang serius. Secara global terdapat sekitar 150 juta anak balita yang mengalami stunting, atau sekitar 23 persen dari total balita di dunia. Di Indonesia sendiri, prevalensi stunting saat ini berada pada angka 19,8 persen, yang berarti sekitar satu dari lima anak Indonesia mengalami kondisi tersebut.
Ia menambahkan bahwa dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia termasuk dalam lima negara penyumbang kasus stunting terbesar di dunia, setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan. Meski demikian, tren penurunan stunting di Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Angka tersebut menurun dari 37,6 persen pada 2013, menjadi 30,8 persen pada 2018, hingga 19,8 persen pada 2024.
Menurut Hamam, dampak stunting tidak hanya terkait tinggi badan, tetapi juga memengaruhi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang sepanjang hidupnya. Anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, hingga kanker. Bahkan dampaknya bisa berlanjut hingga generasi berikutnya.
Selain itu, stunting juga berdampak pada perekonomian negara. Ia menjelaskan bahwa jika proporsi orang dewasa dengan riwayat stunting mencapai 20 persen, maka kerugian ekonomi dapat mencapai 2–3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp400–600 triliun per tahun.
Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan
Hamam menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak awal kehidupan, khususnya pada periode 1000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Ia mengutip firman Allah dalam Surah ‘Abasa ayat 24 yang mengingatkan manusia untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsinya.
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Ini bukan hanya soal halal, tetapi juga apakah makanan itu bergizi, sehat, dan cukup jumlahnya,” ujarnya.
Menurutnya, gizi ibu hamil sangat menentukan kualitas generasi berikutnya karena kekurangan gizi pada masa janin dapat memengaruhi kesehatan dan kemampuan seseorang sepanjang hidupnya.
Dorongan Kebijakan yang Lebih Efektif
Dalam kesempatan tersebut, Hamam juga menyoroti pentingnya kebijakan yang efektif dalam menurunkan stunting. Ia menilai pendekatan yang berfokus pada kelompok rentan—terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini lebih tepat dibandingkan pendekatan yang bersifat universal. Pendekatan yang terarah tersebut dinilai lebih efisien dari sisi anggaran sekaligus lebih tepat sasaran dalam mengatasi akar masalah stunting.
Menutup pemaparannya, Hamam mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperhatikan kualitas gizi masyarakat demi masa depan bangsa.
“Jika kita ingin memiliki generasi yang kuat, maka kita harus memastikan anak-anak kita tidak mengalami stunting,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat