Pada Sakinah Academy (19/1), Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M. (Dosen Departemen Manajemen FEB UGM) menyampaikan materi mengenai “Strategi Bisnis Keluarga dalam Menghadapi Dinamika Pasar dan Keberlanjutan Ekonomi Rumah Tangga”. Kajian tersebut berangkat dari pengalaman beliau dalam membangun usaha bersama istrinya, yang kemudian melahirkan sejumlah karya berupa buku dan film.
Dalam pemaparannya, Rangga menekankan pentingnya kembali pada akar bisnis keluarga. Ia menjelaskan perbedaan cara pandang bisnis dalam konsep homo economicus dan homo islamicus. Menurutnya, bisnis dalam ekonomi konvensional cenderung berorientasi pada keuntungan pribadi. Sementara dalam Islam, bisnis tidak hanya bertujuan mencari profit, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ia juga menyebut, ketika bisnis dijalankan dengan orientasi kemaslahatan, keuntungan akan mengikuti. Tidak hanya itu, Ia menyampaikan bahwa bisnis dalam perspektif Islam bersifat jangka panjang tepatnya sebagai investasi abadi, yang nilainya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat.
Lebih lanjut, terkait dinamika pasar, Rangga menegaskan bahwa bisnis perlu fokus pada penciptaan nilai. Dalam konteks bisnis keluarga, khususnya yang dijalankan pasangan suami istri, ia menilai bahwa hubungan personal menjadi faktor penting. Ia menyarankan agar pasangan tidak hanya mengandalkan passion, tetapi membangun hubungan berbasis pertemanan. Menurutnya, rasa nyaman dan saling mendukung menjadi pondasi penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Baca juga: Dosen DTETI FT UGM Ingatkan Risiko Jika Ulama Tidak Terlibat dalam Menjawab Isu Kontemporer
Dalam kajian tersebut, Rangga turut menyinggung kerangka VUCA yang menggambarkan kondisi pasar saat ini, yakni volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Ia menjelaskan bahwa perubahan harga yang cepat mencerminkan volatilitas pasar, sementara ketidakjelasan arah perubahan menunjukkan adanya ketidakpastian. Kompleksitas muncul dari banyaknya faktor yang saling berkaitan, yang kemudian memunculkan situasi yang ambigu.
Untuk merespons kondisi tersebut, Rangga memaparkan beberapa pendekatan. Volatilitas perlu dihadapi dengan visi yang jelas agar bisnis memiliki arah. Ketidakpastian perlu dihadapi dengan pemahaman terhadap kondisi internal usaha, seperti sumber daya, karyawan, produk, dan lingkungan bisnis. Kompleksitas menuntut fokus dan kejelasan prioritas bisnis, sementara ambiguitas menuntut kelincahan dalam merespons perubahan lingkungan bisnis.
Menutup kajian di hari tersebut, Rangga menegaskan bahwa bisnis tidak cukup hanya mengandalkan nilai atau semangat awal. Diperlukan konsistensi dalam menjalankannya. Ia juga menekankan pentingnya prinsip saling memberi dalam keluarga, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam mengelola bisnis bersama. (Safitri Ingka / Editor: Indra Oktafian Hidayat )