Masa kanak-kanak awal atau golden age sering disebut sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Namun, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menerapkan pola asuh yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan. Dalam Sakinah Public Lecture: Great Mother Sessions, Aninda, S.Psi., M.Psi.T, praktisi psikologi anak usia dini, mengajak para orang tua untuk berhenti menyamaratakan cara mendidik dan mulai memahami fitrah serta kebutuhan psikologis anak secara lebih mendalam.
Aninda menekankan bahwa perbedaan anak laki-laki dan perempuan bukan sekadar soal perilaku, melainkan berkaitan erat dengan perkembangan fungsi otak. Pada anak perempuan, perkembangan otak kiri dan kanan cenderung berjalan lebih seimbang sejak dini. Hal inilah yang membuat mereka relatif lebih cepat dalam kemampuan berbahasa, bercerita, dan memahami detail. Sebaliknya, pada anak laki-laki, otak kanan yyang berhubungan dengan gerak, imajinasi, dan aktivitas fisik berkembang lebih dahulu dibandingkan otak kiri. Inilah sebabnya anak laki-laki kerap terlihat lebih aktif, suka bergerak, dan belajar melalui permainan.
Melalui penjelasan yang sederhana, Aninda mengajak orang tua untuk tidak tergesa-gesa memberi label “nakal”, “bandel”, atau “sulit diatur” pada anak laki-laki yang aktif. Aktivitas bergerak dan bermain justru merupakan bagian penting dari proses belajar mereka. Tantangannya bukan pada mengurangi gerak anak, melainkan mengarahkan energi tersebut agar tetap terstimulasi secara positif dan seimbang dengan perkembangan kemampuan berpikir.
Baca juga : Ratri Wulandari Tekankan Seribu Hari Pertama Kehidupan sebagai Fase Paling Krusial
Tidak hanya soal perbedaan otak, kajian ini juga membahas pentingnya pembentukan gender identity sejak usia dini. Anak mulai mengenali identitas gendernya dari lingkungan terdekat, terutama dari ayah dan ibu. Cara berpakaian, pembagian peran dalam keluarga, hingga pola interaksi orang tua menjadi “buku pelajaran” pertama bagi anak. Karena itu, Aninda menegaskan bahwa keteladanan orang tua jauh lebih berpengaruh dibandingkan nasihat verbal semata.
Dalam sesi ini, Aninda juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki temperamen yang berbeda. Ada anak yang mudah beradaptasi, ada yang butuh waktu, dan ada pula yang cenderung lebih sulit diatur. Perbedaan temperamen ini membuat karakter anak tidak bisa diseragamkan, meskipun memiliki jenis kelamin yang sama. Pemahaman terhadap temperamen anak membantu orang tua menyesuaikan pendekatan, sehingga proses pengasuhan menjadi lebih efektif dan minim konflik.
Lebih jauh, Aninda mengajak orang tua untuk memaksimalkan potensi anak tanpa terjebak pada ambisi berlebihan. Tes minat dan bakat pada usia dini, menurutnya, tidak selalu dibutuhkan. Yang jauh lebih penting adalah observasi keseharian: melihat di mana anak terlihat kuat, di mana ia masih membutuhkan stimulasi, dan bagaimana orang tua dapat menyeimbangkan perkembangan otak kiri dan kanan melalui aktivitas yang sesuai usia.
Kajian ini ditutup dengan pesan reflektif bahwa mengasuh anak adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ilmu, dan kesadaran. Memahami perbedaan anak laki-laki dan perempuan bukan untuk membandingkan, melainkan untuk menghargai fitrah yang telah Allah titipkan. Dengan pola asuh yang tepat di masa golden age, orang tua tidak hanya membentuk anak yang cerdas, tetapi juga pribadi yang sehat secara emosional dan siap menghadapi masa depan.