• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Ratri Wulandari Tekankan Seribu Hari Pertama Kehidupan sebagai Fase Paling Krusial

Ratri Wulandari Tekankan Seribu Hari Pertama Kehidupan sebagai Fase Paling Krusial

  • Sakinah Academy
  • 16 Desember 2025, 13.29
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Sakinah Akademy mengangkat tema “Continuum of Care: dari Kehamilan, Persalinan, hingga 42 Hari Postpartum” pada Senin (15/12), sebuah pendekatan layanan kesehatan berkelanjutan yang menempatkan ibu dan anak sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan.

Sebagai narasumber utama, hadir dr. Ratri Wulandari, M.Sc., Ph.D., Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, yang memaparkan secara komprehensif bagaimana konsep continuum of care berperan penting dalam menurunkan risiko komplikasi kehamilan, mencegah stunting, serta memastikan tumbuh kembang anak secara optimal.

1000 Hari Pertama Kehidupan: Periode Emas yang Tak Terulang

Dalam pemaparannya, Ratri menekankan pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu periode sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Masa ini disebut sebagai fase paling krusial karena menentukan kualitas kesehatan fisik, kognitif, dan emosional seseorang sepanjang hidupnya.

“Pertumbuhan otak anak mencapai sekitar 85 persen pada usia satu hingga tiga tahun. Jika kebutuhan gizi, kesehatan fisik, dan mental ibu tidak terpenuhi sejak awal, dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa, mulai dari stunting, gangguan konsentrasi, hingga masalah sosial,” jelasnya.

Oleh karena itu, kesehatan ibu, baik jasmani, mental, maupun spiritual menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat dan berdaya saing.

ANC Terpadu: Lebih dari Sekadar Pemeriksaan Kehamilan

Ratri menjelaskan bahwa Antenatal Care (ANC) bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan layanan terpadu yang mencakup pemeriksaan fisik, laboratorium, skrining kesehatan mental, hingga konseling psikososial. Di Indonesia, ANC minimal dilakukan enam kali selama kehamilan, dengan setidaknya dua kali bertemu dokter.

Ia juga menyoroti pentingnya Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA atau Buku Pink) sebagai panduan komprehensif yang harus dimiliki sejak awal kehamilan. Buku ini tidak hanya mencatat kondisi ibu, tetapi juga memantau tumbuh kembang anak hingga usia enam tahun.

Selain itu, berbagai isu krusial seperti anemia, hipertensi kehamilan (preeklamsia), diabetes gestasional, hingga kesehatan mental ibu hamil menjadi bagian dari skrining ANC terpadu. Menurut Ratri, pergeseran penyebab kematian ibu dari perdarahan ke penyakit metabolik menuntut deteksi dini yang lebih serius dan sistematis.

Baca juga: Wakil Dekan FT UGM: Setiap Manusia Pasti Diuji, Itu Konsekuensi Hidup

Kehamilan adalah “Maraton” Sembilan Bulan

Dengan analogi yang kuat, Ratri menyebut kehamilan sebagai lari maraton selama sembilan bulan, di mana kebutuhan energi ibu meningkat hingga dua kali lipat. Karena itu, ibu hamil dianjurkan tetap aktif secara fisik, menjaga pola makan bergizi seimbang, cukup istirahat, serta menghindari paparan zat berbahaya seperti rokok, alkohol, bahan kimia, dan kosmetik berisiko.

“Lelah saat hamil itu wajar, tetapi bagaimana kelelahan itu diolah menjadi pengalaman kehamilan yang positif, itulah tujuan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Persalinan hingga Pascapersalinan

Kajian ini tidak berhenti pada masa kehamilan. Ratri mengulas secara detail persiapan persalinan sejak trimester kedua, mulai dari penentuan tempat melahirkan, kesiapan finansial dan transportasi, hingga antisipasi kegawatdaruratan seperti perdarahan.

Pada fase pascapersalinan (postpartum), ibu dianjurkan tetap melakukan kunjungan kesehatan hingga empat kali dalam 42 hari masa nifas. Isu seperti pemulihan fisik, menyusui, kesehatan mental, hingga pencegahan depresi postpartum menjadi perhatian utama.

Ia juga meluruskan berbagai mitos yang masih beredar di masyarakat, seperti membuang kolostrum, membatasi asupan protein, atau mengikat perut terlalu kencang setelah melahirkan, yang justru berisiko bagi kesehatan ibu dan bayi.

Peran Sentral Suami dan Keluarga

Salah satu poin yang mendapat perhatian besar peserta adalah peran suami. Menurut Ratri, dukungan suami bukan hanya bersifat finansial, tetapi juga emosional, informasional, dan partisipatif dalam pengambilan keputusan medis.

“Suami yang hadir, mau belajar, mendampingi kontrol kehamilan, dan terlibat dalam pengasuhan akan sangat menentukan kesehatan ibu dan anak,” tegasnya. (Thareeq Arkan)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ini Tiga Kunci Hidup Bermakna Menurut Syatori Abdurrauf
  • Sambut Ramadan, Syatori Abdurrauf Ajak Jemaah Kelola Hati dan Kendalikan Diri
  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
  • Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid
  • Ekonom UGM Soroti Kesenjangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pasar Kerja Pascakrisis
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY