Kajian Kamis Sore yang diselenggarakan oleh Masjid Kampus UGM pada Kamis (11/6) menghadirkan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog. sebagai pemateri dengan tema “Doom Scrolling sebagai Pelarian dari Tekanan Akademik”. Kegiatan yang berlangsung di ruang utama Masjid Kampus UGM tersebut diikuti mahasiswa dan masyarakat umum sebagai ruang refleksi mengenai kesehatan mental di era digital.
Dalam pemaparannya, Anisa menjelaskan bahwa doom scrolling merupakan kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus, terutama untuk mengonsumsi informasi negatif, saat seseorang sedang mengalami stres, cemas, atau tekanan emosional. Menurutnya, perilaku tersebut banyak dilakukan mahasiswa sebagai bentuk pelarian dari tuntutan akademik, seperti tugas menumpuk, ujian, hingga tekanan deadline.
“Awalnya hanya ingin istirahat lima menit, tetapi tanpa sadar bisa berlangsung setengah jam bahkan lebih. Setelah selesai pun, rasa cemas justru bertambah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar persoalan kurang disiplin, melainkan bentuk coping mechanism atau mekanisme pengalihan dari perasaan tidak nyaman. Aktivitas menggulir media sosial memberikan sensasi nyaman sementara sehingga seseorang terdorong untuk terus mengulanginya meskipun menyadari dampaknya kurang baik.
Anisa juga memaparkan bahwa doom scrolling berkaitan dengan cara kerja otak, khususnya sistem penghargaan (reward system) dan hormon dopamin. Rasa penasaran terhadap konten berikutnya membuat seseorang terus terdorong membuka media sosial. Selain itu, manusia cenderung lebih mudah terikat pada informasi negatif dibandingkan informasi positif atau dikenal sebagai negativity bias.
Baca juga: Kepala PSP UGM: Pancasila Harus Menjadi Kompas Etik Pengembangan Ilmu Pengetahuan
“Konten negatif lebih mudah melekat di otak kita. Akibatnya, seseorang menjadi lebih cemas, sulit rileks, dan terus mencari informasi lain tanpa sadar,” jelasnya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik, seperti meningkatnya stres dan kecemasan, gangguan tidur, menurunnya produktivitas, hingga ketergantungan terhadap media sosial. Ia menambahkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan pada malam hari juga dapat menurunkan kualitas tidur meskipun durasi tidur terlihat cukup.
Dalam sesi diskusi, peserta turut membagikan pengalaman terkait kebiasaan menonton konten secara berlebihan sebagai bentuk pelarian dari stres. Menanggapi hal itu, Anisa menyarankan agar seseorang mulai mengenali aktivitas alternatif yang lebih sehat untuk membantu mengelola emosi, seperti olahraga, journaling, mengikuti kajian, atau melakukan kegiatan yang memberi efek menenangkan.
Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi screen time, memilih informasi yang dikonsumsi, serta menunda dorongan impulsif untuk membuka media sosial. Menurutnya, langkah kecil seperti menanyakan tujuan saat ingin membuka media sosial dapat membantu seseorang mengontrol perilakunya dengan lebih sadar.
“Yang kita butuhkan bukan distraksi terus-menerus, tetapi keberanian untuk menghadapi kecemasan dan mencari strategi coping yang lebih sehat,” tuturnya.
Kajian ditutup dengan ajakan kepada peserta untuk mulai mengurangi kebiasaan doom scrolling secara perlahan melalui peningkatan regulasi emosi dan pengelolaan penggunaan media sosial yang lebih bijak.
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Indra Oktafian Hidayat