Masjid tidak hanya menjadi ruang pembelajaran keagamaan, tetapi juga dapat menjadi tempat lahirnya gagasan yang mempertemukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam. Gagasan tersebut dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi: Antropologi Profetik sesi kedua yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM secara daring pada Rabu (12/8). Kegiatan bertajuk “Paradigma Profetik Islam: Basis Filosofis” tersebut menghadirkan Prof. Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ph.D., Guru Besar Antropologi dan Seni Budaya UGM, dengan Dr. Arqom Kuswanjono, S.S., M.Hum. sebagai penanggap.
Dalam pemaparannya, Heddy menjelaskan bahwa gagasan mengenai paradigma profetik dan ilmu sosial profetik sebelumnya telah diperkenalkan oleh Prof. Kuntowijoyo. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah bagian yang perlu dikembangkan, terutama berkaitan dengan konsep paradigma, unsur-unsur paradigma, basis epistemologis, serta implikasinya terhadap kegiatan keilmuan.
Menurut Heddy, pengembangan tersebut diperlukan agar paradigma profetik tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi memiliki kerangka filosofis yang jelas dan dapat digunakan dalam kegiatan penelitian maupun pengembangan ilmu pengetahuan.
Memahami Paradigma sebagai Kerangka Pemikiran
Heddy mengawali pemaparannya dengan mempertanyakan kembali makna paradigma yang selama ini banyak digunakan dalam berbagai diskursus keilmuan. Menurutnya, istilah paradigma sering digunakan untuk menyebut perubahan cara pandang, tetapi tidak selalu disertai pemahaman mengenai bentuk dan unsur yang membangunnya.
Ia merujuk pada pemikiran Thomas Kuhn melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions yang memperkenalkan konsep paradigm shift atau pergeseran paradigma sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, Heddy menilai konsep paradigma dalam pemikiran Kuhn masih menyisakan sejumlah persoalan, terutama karena belum menjelaskan paradigma secara cukup rinci.
Heddy kemudian mengembangkan definisi paradigma sebagai seperangkat konsep yang saling berhubungan secara logis dan membentuk kerangka pemikiran untuk memahami, menafsirkan, menjelaskan kenyataan, maupun persoalan yang dihadapi.
“Paradigma adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan, menjelaskan kenyataan dan atau masalah yang dihadapi.”
Menurutnya, konsep-konsep dalam sebuah paradigma tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan logis yang membentuk suatu kerangka berpikir. Kerangka tersebut kemudian menjadi dasar bagi seseorang dalam memahami realitas dan menentukan cara melakukan penelitian.
Sembilan Unsur dalam Paradigma
Dalam upayanya melengkapi pemahaman mengenai paradigma, Heddy mengidentifikasi sembilan unsur yang menurutnya terdapat dalam paradigma ilmu sosial budaya. Kesembilan unsur tersebut meliputi asumsi dasar, nilai-nilai, model, masalah yang diteliti, kata kunci, metode penelitian, metode analisis, teori, dan representasi.
Ia menjelaskan bahwa sebagian unsur paradigma bersifat implisit, sedangkan sebagian lainnya harus dinyatakan secara eksplisit. Asumsi dasar, nilai, dan model dapat berada pada tingkat yang tidak selalu disadari oleh peneliti. Sementara itu, masalah penelitian, kata kunci, metode penelitian, metode analisis, teori, dan representasi perlu dinyatakan secara jelas dalam proses keilmuan.
Heddy mencontohkan penggunaan bahasa untuk menjelaskan keberadaan unsur yang tidak disadari. Seseorang dapat menggunakan bahasa dengan baik tanpa mampu menjelaskan tata bahasa yang digunakannya. Hal serupa dapat terjadi dalam paradigma, ketika seseorang sebenarnya menggunakan kerangka berpikir tertentu tanpa menyadari unsur-unsur yang membentuknya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan memiliki peran untuk membuat paradigma yang digunakan menjadi lebih sadar sehingga dapat dikritisi, diperbaiki, dan digunakan secara tepat.
Ia juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak sepenuhnya bebas nilai. Setiap paradigma membawa nilai tertentu yang perlu disadari oleh peneliti. Karena itu, pandangan mengenai value free science perlu ditinjau kembali karena kegiatan keilmuan pada dasarnya tidak terlepas dari nilai yang menyertainya.
Basis Filosofis sebagai Fondasi Paradigma
Heddy menjelaskan bahwa setiap paradigma dalam ilmu pengetahuan memiliki basis filosofis tertentu. Dalam antropologi, misalnya, terdapat berbagai paradigma seperti evolusionisme, etnosains, simbolisme, dan interpretivisme yang memiliki landasan filosofis berbeda.
Hal serupa juga ditemukan dalam sosiologi dan psikologi. Fungsionalisme struktural memiliki kedekatan dengan positivisme, sementara etnometodologi dan konstruksionisme memiliki keterkaitan dengan fenomenologi. Dalam psikologi, psikoanalisis dapat dikaitkan dengan hermeneutika, sedangkan behaviorisme lebih dekat dengan positivisme.
Menurut Heddy, keberagaman tersebut menunjukkan bahwa paradigma dan filsafat ilmu memiliki hubungan yang erat. Karena itu, pemahaman terhadap filsafat ilmu menjadi penting bagi siapa pun yang ingin mendalami ilmu sosial secara lebih mendalam.
“Kalau kita ingin mendalami ilmu sosial betul-betul, maka kita harus mendalami filsafatnya.”
Dalam konteks pembangunan paradigma profetik Islam, basis filosofis tersebut perlu dirumuskan terlebih dahulu agar paradigma yang dibangun memiliki landasan yang jelas.
Menempatkan Profetik Islam sebagai Paradigma
Heddy menjelaskan bahwa istilah “profetik Islam” digunakan secara sengaja untuk menegaskan posisi kenabian dalam paradigma yang dikembangkan. Istilah profetik sendiri merujuk pada sesuatu yang memiliki sifat atau karakter kenabian.
Menurutnya, penggunaan kata “profetik” saja belum cukup karena konsep kenabian juga dikenal dalam agama-agama lain. Penambahan kata “Islam” menjadi penanda bahwa paradigma tersebut berangkat dari konsep kenabian dalam Islam.
Ia menilai keberadaan dan peran nabi menjadi unsur penting karena nabi merupakan pihak yang menerima dan menyampaikan wahyu kepada manusia. Tanpa konsep kenabian, gagasan mengenai wahyu sebagai sumber pengetahuan dalam paradigma profetik Islam tidak dapat dibangun.
Dalam paradigma tersebut, asumsi dasar juga mencakup keyakinan terhadap Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, nabi sebagai manusia yang diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia, keberadaan wahyu, serta kehidupan dunia dan akhirat.
Heddy menekankan bahwa asumsi dasar perlu dinyatakan secara eksplisit agar posisi filosofis sebuah paradigma dapat diketahui. Asumsi dasar tersebut menjadi pijakan sebelum paradigma digunakan untuk memahami objek dan persoalan yang diteliti.
Model Tauhid sebagai Kerangka Integrasi
Salah satu gagasan penting yang ditawarkan Heddy adalah model Tauhid sebagai model dasar paradigma profetik Islam. Model tersebut menempatkan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, nabi sebagai utusan Allah SWT, manusia sebagai khalifah di bumi, serta alam sebagai ciptaan yang harus dikelola dan dijaga keberlangsungannya.
Dalam model tersebut, wahyu menjadi pengetahuan yang disampaikan Allah SWT kepada nabi, kemudian diteruskan kepada manusia untuk diterapkan dalam kehidupan, termasuk dalam mengelola alam.
Menurut Heddy, model ini diperlukan agar hubungan antara Allah SWT, nabi, manusia, dan alam tidak dipandang sebagai unsur yang terpisah. Integrasi tersebut menjadi dasar untuk memasukkan wahyu ke dalam sistem pengetahuan manusia.
Ia menilai bahwa integrasi ilmu dan agama tidak cukup dilakukan dengan menempelkan ayat atau konsep keagamaan pada ilmu pengetahuan yang telah ada. Integrasi harus dibangun melalui kerangka berpikir yang benar-benar menyatukan keduanya.
“Tanpa ini sebetulnya tidak akan terjadi integrasi. Betul-betul itu hanya slogan. Tapi kerangka berpikir tidak integrated.”
Wahyu sebagai Sumber Pengetahuan
Heddy kemudian membandingkan paradigma profetik dengan paradigma ilmu pengetahuan modern yang banyak dipengaruhi positivisme. Dalam positivisme, pengetahuan sangat ditekankan pada penggunaan nalar dan observasi, sementara wahyu tidak ditempatkan sebagai sumber pengetahuan ilmiah.
Sebaliknya, paradigma profetik Islam menempatkan wahyu sebagai salah satu sumber pengetahuan yang berasal dari Allah SWT. Wahyu menjadi dasar untuk memahami dunia dan segala isinya sekaligus menjadi bagian dari konstruksi realitas dalam perspektif Islam.
Gagasan tersebut juga sejalan dengan pemikiran Kuntowijoyo mengenai epistemologi Islam yang menempatkan wahyu sebagai salah satu sumber pengetahuan penting. Dalam konteks paradigma profetik, wahyu tidak lagi ditempatkan terpisah dari ilmu pengetahuan, tetapi diintegrasikan sebagai salah satu unsur pembentuk kerangka pengetahuan.
Membangun Paradigma Profetik sebagai Kerangka Keilmuan
Bagi Heddy, pembangunan paradigma profetik Islam masih merupakan proses yang perlu terus dikembangkan melalui penelitian dan pengkajian. Paradigma tersebut tidak cukup hanya dirumuskan secara filosofis, tetapi juga harus dapat digunakan untuk menghasilkan penelitian, teori, serta representasi ilmiah.
Ia menegaskan bahwa keberadaan paradigma baru akan bermakna apabila sembilan unsur yang telah dirumuskan dapat dibangun secara utuh dan diterapkan dalam kegiatan keilmuan. Karena itu, pengembangan paradigma profetik Islam membutuhkan penelitian nyata untuk menguji dan mengembangkan kerangka tersebut.
Melalui pengembangan basis filosofis, model tauhid, serta integrasi wahyu dengan ilmu pengetahuan, paradigma profetik Islam diharapkan dapat menjadi kerangka keilmuan yang tidak hanya mempertemukan agama dan ilmu, tetapi juga memberikan cara pandang baru dalam memahami manusia, alam, dan realitas kehidupan.
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Alkansa Fauziyyah