SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) kembali dilaksanakan di Masjid Kampus UGM pada Kamis (12/3). Kegiatan ini menghadirkan Valencia Mieke Randa, pendiri komunitas kemanusiaan Blood4Life Indonesia dan Rumah Harapan Indonesia, yang membawakan materi bertajuk “Setetes Darah, Sejuta Kehidupan: Solidaritas untuk Kemanusiaan.”
Dalam kajian tersebut, Valencia mengajak mahasiswa untuk melihat donor darah bukan sekadar aktivitas kesehatan, melainkan bentuk solidaritas kemanusiaan yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Berawal dari Pengalaman Pribadi
Valencia menceritakan bahwa lahirnya gerakan Blood4Life berawal dari pengalaman pribadinya ketika mendampingi sang ibu yang menjalani perawatan serius di rumah sakit. Ia menyaksikan langsung bagaimana sulitnya mencari pendonor darah bagi pasien yang membutuhkan.
“Di rumah sakit saya melihat banyak orang yang sangat membutuhkan darah, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Dari situ saya berpikir, pasti ada banyak orang yang ingin membantu, hanya saja mereka tidak tahu siapa yang harus dibantu,” ungkapnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, pada tahun 2009 ia memulai gerakan Blood4Life melalui media sosial dengan jaringan kecil berisi 44 orang relawan. Kini komunitas tersebut telah berkembang menjadi jaringan lebih dari 180.000 pendonor di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM: Akal Saja Tak Cukup untuk Menemukan Kebenaran
Satu Kantong Darah Selamatkan Tiga Nyawa
Dalam pemaparannya, Valencia menjelaskan bahwa satu kantong darah yang didonorkan sebenarnya dapat membantu lebih dari satu pasien.
“Darah yang didonorkan akan diproses dan dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti trombosit dan sel darah merah. Itu sebabnya satu kantong darah bisa menyelamatkan hingga tiga nyawa,” jelasnya.
Ia juga menyoroti rendahnya tingkat partisipasi donor darah di Indonesia. Menurutnya, standar kebutuhan darah suatu negara sekitar 2% dari jumlah penduduk, namun di Indonesia jumlah pendonor masih berada di bawah angka tersebut. Karena itu, ia mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk aktif menjadi pendonor sukarela.
Donor Darah Tidak Membatalkan Puasa
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul di kalangan masyarakat adalah anggapan bahwa donor darah dapat membatalkan puasa. Valencia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menyampaikan bahwa Majelis Ulama Indonesia telah menjelaskan bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, sehingga umat Muslim tetap dapat mendonor selama bulan Ramadan, misalnya setelah berbuka atau menjelang sahur.
“Berbagi makanan itu baik, berbagi uang juga baik. Tapi ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu berbagi darah. Padahal itu bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Valencia juga mengajak mahasiswa UGM untuk kembali membangun komunitas Blood for Life di Yogyakarta. Ia berharap semakin banyak relawan yang siap menjadi pendonor siaga bagi pasien yang membutuhkan darah secara mendesak. Menurutnya, kehadiran komunitas donor darah sangat membantu rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan darah pasien, terutama bagi penderita penyakit berat seperti kanker yang sering memerlukan transfusi.
“Kalau semakin banyak orang yang bersedia donor, kita bisa memastikan tidak ada lagi orang kehilangan nyawa hanya karena tidak ada darah,” tuturnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat