• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Founder Blood4Life Ajak Mahasiswa Jadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup Kemanusiaan

Founder Blood4Life Ajak Mahasiswa Jadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup Kemanusiaan

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 15 Maret 2026, 12.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) kembali dilaksanakan di Masjid Kampus UGM pada Kamis (12/3). Kegiatan ini menghadirkan Valencia Mieke Randa, pendiri komunitas kemanusiaan Blood4Life Indonesia dan Rumah Harapan Indonesia, yang membawakan materi bertajuk “Setetes Darah, Sejuta Kehidupan: Solidaritas untuk Kemanusiaan.”

Dalam kajian tersebut, Valencia mengajak mahasiswa untuk melihat donor darah bukan sekadar aktivitas kesehatan, melainkan bentuk solidaritas kemanusiaan yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Berawal dari Pengalaman Pribadi

Valencia menceritakan bahwa lahirnya gerakan Blood4Life berawal dari pengalaman pribadinya ketika mendampingi sang ibu yang menjalani perawatan serius di rumah sakit. Ia menyaksikan langsung bagaimana sulitnya mencari pendonor darah bagi pasien yang membutuhkan.

“Di rumah sakit saya melihat banyak orang yang sangat membutuhkan darah, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Dari situ saya berpikir, pasti ada banyak orang yang ingin membantu, hanya saja mereka tidak tahu siapa yang harus dibantu,” ungkapnya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, pada tahun 2009 ia memulai gerakan Blood4Life melalui media sosial dengan jaringan kecil berisi 44 orang relawan. Kini komunitas tersebut telah berkembang menjadi jaringan lebih dari 180.000 pendonor di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM: Akal Saja Tak Cukup untuk Menemukan Kebenaran

Satu Kantong Darah Selamatkan Tiga Nyawa

Dalam pemaparannya, Valencia menjelaskan bahwa satu kantong darah yang didonorkan sebenarnya dapat membantu lebih dari satu pasien.

“Darah yang didonorkan akan diproses dan dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti trombosit dan sel darah merah. Itu sebabnya satu kantong darah bisa menyelamatkan hingga tiga nyawa,” jelasnya.

Ia juga menyoroti rendahnya tingkat partisipasi donor darah di Indonesia. Menurutnya, standar kebutuhan darah suatu negara sekitar 2% dari jumlah penduduk, namun di Indonesia jumlah pendonor masih berada di bawah angka tersebut. Karena itu, ia mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk aktif menjadi pendonor sukarela.

Donor Darah Tidak Membatalkan Puasa

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul di kalangan masyarakat adalah anggapan bahwa donor darah dapat membatalkan puasa. Valencia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menyampaikan bahwa Majelis Ulama Indonesia telah menjelaskan bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, sehingga umat Muslim tetap dapat mendonor selama bulan Ramadan, misalnya setelah berbuka atau menjelang sahur.

“Berbagi makanan itu baik, berbagi uang juga baik. Tapi ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu berbagi darah. Padahal itu bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Valencia juga mengajak mahasiswa UGM untuk kembali membangun komunitas Blood for Life di Yogyakarta. Ia berharap semakin banyak relawan yang siap menjadi pendonor siaga bagi pasien yang membutuhkan darah secara mendesak. Menurutnya, kehadiran komunitas donor darah sangat membantu rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan darah pasien, terutama bagi penderita penyakit berat seperti kanker yang sering memerlukan transfusi.

“Kalau semakin banyak orang yang bersedia donor, kita bisa memastikan tidak ada lagi orang kehilangan nyawa hanya karena tidak ada darah,” tuturnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Tags: Blood for Life Indonesia donor darah Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja kajian SAMUDRA UGM mahasiswa UGM Masjid Kampus UGM Maskam UGM pentingnya donor darah Ramadan Ramadan di Kampus UGM rdk ugm Rumah Harapan Indonesia solidaritas kemanusiaan Valencia Maikeranda

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial
  • Kepala BRIN Ajak Umat Islam Bangun Mentalitas Inovator dan Pencipta Masa Depan
  • Dosen President University: Puasa Harus Mengantarkan Manusia Mengenal Allah
  • Dari Talkshow hingga Drama Teater, RDK Festival Semarakkan Setengah Abad RDK UGM
  • Diana Setyawati Ajak Mahasiswa Mengubah Cara Pandang untuk Menjaga Kesehatan Mental
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY