Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini tidak hanya mengubah dunia industri dan ekonomi, tetapi juga strategi peperangan global. Hal tersebut disampaikan oleh Ajar Edi, Senior Vice President Regulatory & Government Affairs PT Indosat Ooredoo Hutchison, dalam kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) yang diselenggarakan di Masjid Kampus UGM pada Rabu (11/3).
Kajian yang dimoderatori oleh Alri Putra Riko Suud ini mengangkat tema “Perang Dunia Ketiga di Era Kecerdasan Buatan: Sudah Siapkah Indonesia?”. Dalam pemaparannya, Ajar Edi menjelaskan bahwa wajah konflik global kini mengalami perubahan besar karena kemajuan teknologi digital.
Ia menegaskan bahwa perang modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah senjata atau pasukan, tetapi oleh kemampuan mengelola data dan algoritma.“Kita hidup di zaman ketika perang tidak selalu diawali dentuman, tetapi dimulai dari algoritma yang diam-diam menentukan arah dunia,” ujarnya.
AI Mengubah Pola Peperangan Modern
Menurut Ajar Edi, beberapa konflik global saat ini menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan digunakan untuk mempercepat pengambilan keputusan militer, analisis intelijen, hingga pengendalian sistem persenjataan.
Ia mencontohkan konsep hyper war, yaitu perang dengan tempo sangat cepat karena didukung sistem AI yang mampu menganalisis data dan menentukan target dalam waktu singkat.“Ketika perang menjadi sangat cepat, keputusan serangan bahkan bisa terjadi dalam waktu kurang dari dua menit,” jelasnya.
Selain itu, teknologi seperti drone cerdas, analisis big data, hingga sistem pengenalan objek berbasis AI semakin banyak digunakan dalam operasi militer modern. Hal ini membuat konflik tidak hanya berlangsung di medan tempur fisik, tetapi juga di ruang digital.
Baca juga: Maskam UGM dan Prof. Avin Resmikan Kerja Sama Pengelolaan Rumah Quran di Gemawang
Inovasi Asimetris dalam Konflik
Dalam paparannya, Ajar Edi juga menyoroti fenomena inovasi asimetris, yaitu strategi negara yang memiliki sumber daya lebih terbatas namun mampu menyeimbangkan kekuatan lawan melalui teknologi yang lebih efisien.
Ia mencontohkan penggunaan drone murah yang mampu mengganggu sistem pertahanan mahal milik negara lain.
Menurutnya, strategi semacam ini menunjukkan bahwa kecerdasan dan inovasi sering kali lebih menentukan dibandingkan sekadar kekuatan ekonomi atau militer.

Pentingnya Kedaulatan AI bagi Indonesia
Lebih lanjut, Ajar Edi menegaskan bahwa Indonesia perlu membangun kedaulatan AI agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi global. Ia menjelaskan bahwa ekosistem AI yang kuat membutuhkan beberapa komponen penting, mulai dari energi, pusat data (data center), chip komputasi seperti GPU, hingga pengembangan aplikasi yang relevan dengan kebutuhan nasional.
“Kalau datanya dari Indonesia tetapi diproses di luar negeri, maka kita hanya akan menjadi pasar teknologi. Kita bukan pembuatnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pengembangan teknologi AI nasional harus didukung oleh kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat riset dan pengembangan talenta, sementara industri menyediakan implementasi dan investasi teknologi.
AI sebagai Mitra Berpikir, Bukan Pengganti Manusia
Dalam sesi tanya jawab, peserta juga menyoroti fenomena mahasiswa yang menggunakan AI secara penuh untuk mengerjakan tugas akademik. Menanggapi hal tersebut, Ajar Edi menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai mitra berpikir yang membantu manusia, bukan menggantikan proses intelektual. Ia menyarankan agar mahasiswa menggunakan AI untuk berdiskusi, menguji ide, dan memperdalam analisis, bukan sekadar menyalin jawaban yang dihasilkan.
“Menjadi pintar bersama AI atau menjadi bodoh karena AI itu pilihan masing-masing,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Ajar Edi mengingatkan bahwa sepanjang sejarah, bangsa yang menguasai teknologi biasanya akan menentukan arah peradaban dunia. Karena itu, ia berharap Indonesia tidak melewatkan momentum perkembangan AI yang saat ini sedang berlangsung.
“Kalau kita lewat momentum ini, kita hanya akan menjadi market. Tapi kalau kita serius membangun ekosistemnya, AI bisa memberi manfaat ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat