• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Edgar Hamas Bongkar Hasbara, Senjata Israel Menguasai Opini Dunia

Edgar Hamas Bongkar Hasbara, Senjata Israel Menguasai Opini Dunia

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 10 Maret 2026, 20.00
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Penulis sekaligus pendakwah Islam, Muhammad Edgar Hamas, menilai generasi muda saat ini memiliki peran penting dalam perjuangan isu Palestina, terutama dalam melawan propaganda global yang selama ini dibangun oleh Israel. Hal tersebut ia sampaikan dalam Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA), Jumat (6/3) yang mengangkat tema “Kemerdekaan untuk Segala Bangsa: Melawan Genosida, Solidaritas untuk Palestina”. Menurut Edgar, salah satu kekuatan utama Israel bukan hanya pada kekuatan militernya seperti sistem pertahanan atau persenjataan, melainkan pada strategi propaganda yang dikenal sebagai hasbara. Melalui strategi ini, narasi tentang konflik Palestina kerap dibentuk sedemikian rupa agar memengaruhi opini publik dunia.

“Senjata utama Israel bukan hanya tank atau sistem pertahanannya, tapi hasbara. Mereka berusaha mendikte apa yang menjadi common sense dunia melalui media dan media sosial,” ujarnya.

Namun, Edgar menilai munculnya Generasi Z menjadi tantangan baru bagi propaganda tersebut. Ia menyebut generasi muda saat ini lebih kritis dan tidak mudah menerima narasi yang disampaikan media begitu saja. Mengutip survei yang dilakukan oleh Harvard University, Edgar menyebut bahwa lebih dari separuh generasi muda di Amerika Serikat menunjukkan simpati yang lebih besar terhadap kemerdekaan Palestina dibandingkan keberlangsungan Israel. Temuan ini menarik mengingat Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai sekutu utama Israel.

“Generasi ini tidak langsung percaya pada apa yang dikatakan media. Mereka bertanya, ‘Benarkah demikian?’ Nalar kritis anak muda ini sangat memengaruhi masa depan konflik tersebut,” katanya.

Baca juga: Dosen FIB UGM Ingatkan Bahaya Fanatisme Golongan dalam Tubuh Umat Islam

Suasana pembagian kupon buka, Jumat (6/3)

Kekalahan dalam Perjuangan Bukan Akhir

Dalam sesi diskusi, salah satu peserta menanyakan mengapa banyak tokoh perjuangan Palestina tampak gagal dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Menanggapi hal tersebut, Edgar menilai kekalahan dalam beberapa pertempuran tidak selalu berarti kekalahan dalam perang besar. Ia mencontohkan sejarah perjuangan berbagai bangsa, termasuk Indonesia, yang mengalami banyak kekalahan dalam pertempuran sebelum akhirnya meraih kemerdekaan.

“Kebenaran tidak selalu menang dalam setiap pertempuran. Seseorang bisa kalah dalam banyak battle, tapi pada akhirnya menang dalam war,” jelasnya.

Menurut Edgar, sejarah perjuangan panjang sering kali membutuhkan daya tahan yang kuat. Dalam konflik yang panjang, pihak yang mampu bertahan paling lama memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan perjuangan. Ia juga menambahkan bahwa para tokoh yang gugur dalam perjuangan justru dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Edgar juga menyinggung sikap umat Islam dalam menyikapi konflik global, termasuk dinamika politik di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan keberpihakan kepada pihak yang terzalimi, tanpa harus selalu terikat pada kesamaan ideologi.

Menurutnya, dalam hubungan internasional terdapat berbagai bentuk aliansi, mulai dari aliansi taktis, strategis, hingga ideologis. Dalam konteks konflik di Timur Tengah, ia menilai banyak kerja sama yang terjadi lebih bersifat strategis daripada ideologis.

“Dalam Islam, kita diajarkan membela pihak yang terzalimi. Bukan karena kesamaan ideologi, tetapi karena nilai keadilan itu sendiri,” ujarnya.

Palestina dalam Perspektif Al-Quran

Dalam kesempatan tersebut, Edgar juga menjelaskan pertanyaan peserta terkait ayat Al-Qur’an yang menyebut bahwa tanah Palestina pernah dijanjikan kepada Bani Israil. Ia menekankan bahwa janji tersebut memiliki syarat moral dan spiritual.

Menurutnya, dalam perspektif Al-Qur’an, janji tersebut hanya berlaku selama syarat-syarat keimanan dan keadilan dijalankan. Jika syarat tersebut dilanggar, maka janji tersebut tidak lagi berlaku.

“Dalam setiap janji ada syaratnya. Ketika syarat itu dilanggar, maka janji tersebut tidak berlaku lagi,” jelasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Tags: genosida Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja kajian Masjid Kampus UGM Kajian Maskam Jogja Konflik Masjid Kampus UGM palestina Ramadan rdk ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Edgar Hamas Bongkar Hasbara, Senjata Israel Menguasai Opini Dunia
  • Dosen FIB UGM Ingatkan Bahaya Fanatisme Golongan dalam Tubuh Umat Islam
  • Jusuf Kalla: Perdamaian Lebih Tinggi Nilainya dari Salat dan Puasa
  • Wakil Rektor UGM: Tiga Dimensi Keragaman Indonesia, Modal Besar sekaligus Ujian Pembangunan
  • Arqom Kuswanjono Kritik Dikotomi Pendidikan Modern yang Memisahkan Ilmu dan Agama
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY