• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Wakil Rektor UGM: Tiga Dimensi Keragaman Indonesia, Modal Besar sekaligus Ujian Pembangunan

Wakil Rektor UGM: Tiga Dimensi Keragaman Indonesia, Modal Besar sekaligus Ujian Pembangunan

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 10 Maret 2026, 09.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Kamis (5/3). Pada kesempatan ini, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan kajian bertajuk “Geospatial Inequality: Ketimpangan Sosial dan Implikasinya terhadap Pembangunan Manusia.”

Dalam pemaparannya, Danang mengawali dengan ilustrasi peta kawasan Eropa yang kemudian dioverlay dengan peta Indonesia. Ia menjelaskan bahwa jarak dari wilayah barat Irlandia hingga timur Uzbekistan setara dengan jarak dari ujung barat Pulau Sumatra hingga Merauke di Papua.

“Kalau Anda menempuh perjalanan dari Irlandia sampai Uzbekistan, Anda akan melewati belasan negara dengan presiden atau perdana menteri yang berbeda. Sementara kita dari Sumatra sampai Papua masih memiliki satu presiden,” ujarnya.

Menurutnya, perbandingan tersebut menunjukkan betapa luasnya wilayah Indonesia, bahkan hampir setara dengan lebih dari dua puluh negara di kawasan Uni Eropa.

Kekayaan Alam dan Keragaman Indonesia

Danang menjelaskan bahwa sekitar dua pertiga wilayah Indonesia merupakan perairan, sementara daratannya hanya sekitar sepertiga dari total luas wilayah. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam konteks tersebut, ia menyoroti tiga dimensi keragaman utama yang dimiliki Indonesia.

Pertama adalah biodiversity atau keanekaragaman hayati. Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Perhitungan tersebut bahkan baru mencakup biodiversitas daratan, sementara biodiversitas laut diperkirakan jauh lebih besar dan masih banyak spesies yang belum teridentifikasi.

Kedua adalah geodiversity atau keragaman geologi. Indonesia memiliki sekitar 129 gunung api aktif di daratan. Jumlah tersebut belum termasuk gunung api bawah laut yang diperkirakan juga sangat banyak. Selain itu, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral, tanah yang subur, serta sumber daya air yang melimpah.

Ketiga adalah cultural diversity atau keragaman budaya. Meski memiliki satu bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, masyarakat Indonesia tetap memelihara berbagai bahasa daerah yang menjadi bagian penting dari identitas budaya.

Menurut Danang, seluruh kekayaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Namun, potensi tersebut juga menghadirkan tantangan besar, terutama terkait pemanfaatan dan distribusi sumber daya secara adil.

Baca juga: Arqom Kuswanjono Soroti Dikotomi Pendidikan Modern yang Memisahkan Ilmu dan Agama

Jemaah kajian mendapatkan kupon untuk buka puasa

Ketimpangan Spasial dan Lingkaran Kemiskinan

Dalam kajian tersebut, Danang juga membahas konsep spatial poverty traps atau jebakan kemiskinan berbasis lokasi. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan sering kali dipengaruhi oleh faktor geografis, seperti jarak dari pusat pertumbuhan ekonomi, keterbatasan infrastruktur, serta akses terhadap pendidikan dan layanan dasar. Ia mencontohkan kondisi pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang kualitasnya masih jauh tertinggal dibandingkan daerah perkotaan. Ketimpangan kualitas pendidikan ini berdampak pada rendahnya daya saing sumber daya manusia di wilayah tersebut.

Rendahnya daya saing kemudian mempersulit akses masyarakat terhadap sumber-sumber ekonomi, sehingga melahirkan generasi baru yang menghadapi keterbatasan serupa. Akibatnya, siklus kemiskinan terus berulang dari generasi ke generasi. Karena itu, menurutnya pendidikan merupakan kunci penting dalam memutus rantai kemiskinan tersebut.

“Pendidikan merupakan salah satu senjata paling kuat untuk membangun sebuah negara dan mengubah nasib suatu bangsa,” ujarnya.

Perubahan sebagai Gerak Kolektif

Danang juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Ia menekankan bahwa ayat tersebut tidak hanya dimaknai secara individual, tetapi juga sebagai gerakan kolektif untuk mengubah kondisi masyarakat. Perubahan, menurutnya, membutuhkan kolektivitas, sistem yang terorganisasi, dan kerja bersama.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan para mahasiswa untuk menyadari privilese yang mereka miliki karena dapat menempuh pendidikan tinggi.

“Teman-teman semua memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pemantik perubahan dan memberikan dampak bagi masyarakat, khususnya bagi saudara-saudara kita di Papua, NTT, dan wilayah 3T lainnya,” tuturnya.

Teladan Rasulullah dalam Membangun Keadilan Sosial

Danang kemudian menyinggung kisah hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah sebagai contoh praktik pembangunan sosial yang inklusif. Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah bukan membangun infrastruktur, melainkan membangun institusi berupa masjid. Masjid pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, musyawarah, pengambilan kebijakan, hingga distribusi zakat dan sumber daya.

Langkah kedua adalah membangun modal sosial (social capital) melalui persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Kerja sama ini memungkinkan integrasi ekonomi dan sosial di tengah masyarakat Madinah yang majemuk.

Selanjutnya, Rasulullah membangun pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi. Pasar tersebut dirancang sebagai ruang ekonomi yang terbuka dan adil, dengan larangan terhadap monopoli serta manipulasi harga. Dalam perspektif pembangunan modern, menurut Danang, kebijakan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menciptakan inclusive economic access atau akses ekonomi yang inklusif.

Langkah berikutnya adalah penyusunan konstitusi yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Dokumen ini mengatur tata kehidupan masyarakat yang multikultural dan multireligius, sekaligus menjamin keadilan dalam pengelolaan ruang dan sumber daya. Terakhir, Rasulullah memastikan distribusi sumber daya yang adil, sehingga akses terhadap kekayaan tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang, tetapi juga menjangkau kelompok rentan dan masyarakat lemah.

Di akhir kajian, Danang mengajak civitas akademika UGM untuk mengambil peran aktif sebagai agen perubahan. Ia menegaskan pentingnya kontribusi nyata bagi masyarakat, baik di lingkungan sekitar maupun di daerah-daerah yang masih tertinggal.

Ia juga menyinggung berbagai program afirmasi yang telah dilakukan UGM, termasuk pemberian beasiswa bagi pelajar dari wilayah 3T sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang inklusif dan keberpihakan terhadap kelompok rentan merupakan langkah penting dalam mewujudkan pembangunan manusia yang lebih adil di Indonesia.

Penulis: Renaldhi G. Pranyata

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 39
Tags: danang sri hadmoko Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja kajian ugm Masjid Kampus UGM Ramadan rdk rpl samudra

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Empat Gagasan Memajukan Masjid di Era AI Dibahas dalam Bedah Buku Masjid Kampus UGM
  • Rahasia Manajemen Waktu Menurut Psikolog UGM: Awali Hari dari Magrib agar Lebih Produktif
  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
  • Menilik Sejarah Tahun Baru Islam, Guru Besar Hukum UGM Ajak Jamaah Refleksikan Jejak Hijrah Indonesia
  • Self-Compassion bagi Mahasiswa: Pesan Aisha Sekar Lazuardini, Psikolog UGM, untuk Berdamai dengan Target dan Ekspektasi
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY