Kepala Pusat Kajian Paradigma Profetik Masjid Kampus UGM, Dr. Arqom Kuswanjono, M.Hum. menyampaikan materi bertajuk “Integrasi Ilmu dan Agama dalam Islam” pada Ramadan Public Lecture, Rabu (4/3).
Dalam pemaparannya, Arqom menjelaskan bahwa hubungan antara ilmu dan agama telah lama menjadi perdebatan dalam sejarah pemikiran. Ia merujuk pada tipologi hubungan ilmu dan agama yang dikemukakan sejumlah pemikir modern, yang membaginya ke dalam empat pola, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi.
Menurutnya, konflik antara ilmu dan agama pernah terjadi dalam sejarah Barat, terutama pada masa abad pertengahan ketika sejumlah ilmuwan dihukum karena pandangan ilmiahnya dianggap bertentangan dengan otoritas keagamaan.
“Puncaknya adalah pengadilan terhadap Galileo yang mengemukakan pandangan heliosentris, bahwa matahari merupakan pusat tata surya, bukan bumi,” jelasnya. Namun, Arqom menegaskan bahwa pengalaman tersebut berbeda dengan tradisi keilmuan dalam peradaban Islam.
Pencerahan Islam Lahir dari Persatuan Ilmu dan Agama
Arqom menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam, justru masa pencerahan muncul ketika ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama berkembang secara bersama-sama. Para pemikir Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd tidak melihat adanya pertentangan antara agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Ketiganya dipahami sebagai jalan untuk memahami kebenaran yang bersumber dari Tuhan.
“Ilmu, agama, dan filsafat adalah tiga hal yang saling berkaitan. Untuk memahami agama secara mendalam, kita membutuhkan ilmu pengetahuan sekaligus pemikiran filosofis,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung bahwa Al-Qur’an sendiri banyak memuat dorongan untuk berpikir dan meneliti alam semesta. Ayat pertama yang turun, Iqra, menurutnya menjadi simbol kuat bahwa Islam menempatkan aktivitas membaca dan mencari pengetahuan sebagai bagian penting dari keimanan.
“Iqra itu bahasa ilmu pengetahuan. Kita membaca alam semesta, membaca manusia, membaca lingkungan. Tetapi semuanya dilakukan bismi rabbik, atas nama Tuhan,” jelasnya.
Baca juga: Antropolog UGM Soroti Jarak antara Nilai Moral dan Perilaku Kekuasaan

Tauhid sebagai Dasar Integrasi Ilmu
Secara filosofis, Arqom menekankan bahwa integrasi ilmu dan agama dalam Islam berakar pada konsep tauhid. Dalam pandangan ini, seluruh pengetahuan pada dasarnya bersumber dari Tuhan yang sama. Karena itu, menurutnya, pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum sebenarnya bukan persoalan mendasar dalam Islam.
“Secara ontologis, ilmu dan agama berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Karena itu keduanya tidak mungkin benar-benar dipisahkan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam aspek epistemologis, Islam mengenal berbagai sumber pengetahuan, mulai dari rasio, pengalaman empiris, intuisi, hingga wahyu. Semua potensi tersebut harus digunakan secara bersama untuk memahami kebenaran. Arqom juga menegaskan bahwa dalam Islam ilmu tidak bersifat bebas nilai. Berbeda dengan pandangan positivisme Barat yang mencoba memisahkan ilmu dari nilai-nilai moral, Islam justru menempatkan ilmu dalam kerangka kemaslahatan. Ia menyebut bahwa ilmu harus mengandung empat dimensi nilai yang meliputi kebenaran, kebaikan, keindahan, dan nilai ketuhanan.
“Ilmu harus benar secara rasional, tetapi juga harus baik dan bermanfaat. Ilmu tidak boleh merusak atau merugikan manusia maupun alam,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya selalu diarahkan untuk menjaga kemanusiaan dan kelestarian alam semesta.
Tantangan Integrasi dalam Dunia Pendidikan
Di akhir pemaparannya, Arqom menyoroti tantangan dunia pendidikan yang masih cenderung memisahkan pelajaran agama dari ilmu pengetahuan umum. Menurutnya, pendekatan seperti ini membuat nilai-nilai spiritual tidak terintegrasi dalam pengembangan ilmu.
Ia berharap kurikulum pendidikan ke depan mampu menghadirkan pendekatan yang lebih integratif, sehingga pembelajaran ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat kesadaran ketuhanan.
“Ketika seseorang mempelajari ilmu pengetahuan, ia juga menyadari bahwa ilmu itu berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan,” tuturnya.
Arqom berharap pemahaman integratif ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi akademik untuk mengembangkan ilmu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Ilmu dan agama menjadi fondasi penting untuk membangun peradaban yang berkeadaban,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat