Isu Palestina kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang posisi hati dan kualitas keimanan. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Ketika Palestina Masih Mengetuk: Bagaimanakah Ketetapan Hati Seorang Mukmin?”, Dosen Departemen Hukum Internasional FH UGM, Fajri Matahati Muhammadin, S.H., LL.M., Ph.D. mengajak jemaah merefleksikan persoalan Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan batu uji keteguhan hati seorang mukmin.
Di awal khotbahnya, Fajri mengangkat kisah sejarah Perang Surabaya 1945. Ia menyinggung bagaimana media Barat kala itu melabeli para pejuang Indonesia sebagai “muslim fanatics” dan menyebut tokoh perjuangan sebagai “terrorist leader”.
“Sejarah itu sering berulang, meskipun tidak dengan cara yang sama persis,” ujarnya.
Menurutnya, pola delegitimasi terhadap perjuangan umat bukanlah hal baru. Karena itu, persoalan Palestina hari ini seharusnya tidak dipandang sebagai isu jauh yang tidak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sebagai cermin sikap hati terhadap kezaliman.
Palestina sebagai Batu Uji Ghirah
Fajri menegaskan bahwa persoalan Palestina merupakan salah satu peristiwa yang menguji apakah umat masih memiliki ghirah, rasa tidak rela terhadap kemungkaran dan ketidakadilan.
Mengutip hadis riwayat Sahih Muslim, ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad tentang kewajiban mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, atau setidaknya dengan hati.
“Pertanyaannya, selemah-lemahnya iman itu masih ada atau tidak dalam diri kita?” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun mengingkari dengan hati disebut sebagai selemah-lemahnya iman, hal itu tetap menunjukkan adanya iman. Namun, jika hati sudah tidak terusik oleh kemungkaran, di situlah letak persoalan yang lebih dalam.
Baca selengkapnya: Pendiri Wonderful Family Institute Ulas Kaitan Erat Pornografi dengan Adiksi Gawai
Hati sebagai Pangkal Sikap
Lebih lanjut, Fajri menekankan bahwa seluruh sikap dan tindakan berakar pada kondisi hati. Jika hati tidak berada pada tempat yang benar, maka amalan bisa menjadi sia-sia, bahkan tampak baik tetapi tidak bernilai di sisi Allah.
Ia juga menyoroti kecenderungan membatasi solidaritas hanya pada batas nasionalisme. Menurutnya, kecintaan pada tanah air bukanlah sesuatu yang keliru, namun tidak boleh menghapus ikatan keimanan dan kemanusiaan.
“Kalau garisnya hanya batas negara, mungkin terasa jauh. Tapi kalau garisnya adalah kemanusiaan dan keimanan, itu saudara kita,” tegasnya.
Sikap apatis, sinis, atau bahkan meremehkan isu Palestina, menurutnya, menjadi bahan muhasabah bersama tentang di mana posisi hati seorang mukmin.
Memulai dari Diri dan Lingkungan Terdekat
Dalam khotbahnya, Fajri mengingatkan bahwa kekuatan umat dan persatuan tidak lahir secara instan. Semua berawal dari hati yang lurus, yang memiliki kesadaran dan ghirah terhadap agamanya.
“Umat yang kuat dan bersatu itu bermula dari para mukmin yang hatinya berada pada tempat yang benar,” ungkapnya.
Ia mendorong jemaah untuk mengambil langkah konkret sesuai kapasitas masing-masing, yaitu memperbanyak doa, meningkatkan kepedulian, lebih bijak dalam konsumsi, serta mendukung alternatif yang tidak terafiliasi dengan penjajahan.
Menutup khotbahnya, Fajri mengajak seluruh jemaah untuk melakukan refleksi diri, terlebih di momentum Ramadan yang penuh keberkahan.
“Mudah-mudahan Allah membersihkan hati kita dan membimbing kita untuk mampu mendiagnosis kondisi hati kita sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat