Masa depan generasi muda kini tengah dipertaruhkan di balik layar gawai mereka. Menyadari mahasiswa sebagai kelompok yang paling rentan terpapar konten negatif, panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM menggelar Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) hari kedua, pada Kamis (19/2) dengan mengangkat isu krusial, yakni pornografi dan adiksi gadget.
Bertajuk “Menyelamatkan Generasi Digital dari Tantangan Pornografi dan Adiksi Gadget”, kajian ini menghadirkan narasumber yang merupakan konselor ketahanan keluarga, sekaligus pendiri Wonderful Family Institute, apt. Cahyadi Takariawan, S.Si.
Pornografi Sebagai Buah dari Adiksi Gadget
Fenomena adiksi gawai memicu berbagai dampak negatif pada remaja, salah satunya meningkatnya paparan pornografi. Mengutip riset Raifah (2020), Cahyadi memaparkan fakta mencengangkan. Menyitir sumber tersebut, beliau menyampaikan bahwa tercatat sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMA di 12 kota di Indonesia telah terpapar konten pornografi.
Sebagai pakar ketahanan keluarga, Cahyadi mengatakan bahwa pornografi dan adiksi gadget merupakan dua problema yang saling terikat. “Pornografi itu merupakan buah dari adiksi penggunaan gadget itu sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut, Cahyadi mengutip studi Mar Alvarez Segura (2025) yang menyebutkan bahwa akses anak dan remaja terhadap konten pornografi kian meningkat. “Kondisi ini dipengaruhi oleh desain platform pornografi yang secara sistematis menarik rasa ingin tahu seksual pada usia perkembangan tersebut,” jelasnya.
Baca juga: Imam Besar Masjid Kampus UGM Ungkap Sembilan Prinsip Maqashid Syariah Menuju Negarawan Sejati
Laki-laki Lebih Terpapar Pornografi
Berlanjut pada bahasan berikutnya, Cahyadi kembali menegaskan dampak negatif yang dihasilkan dari adiksi gadget. Menurutnya, selain berbahaya bagi generasi muda, paparan tayangan pornografi juga dapat menyerang bahtera rumah tangga.
Sebelum itu, konselor keluarga sekaligus penulis buku ini menyebutkan delapan tahapan kehidupan dalam pernikahan yang dirincikan sebagai berikut:
- Pengantin baru yang belum memiliki anak
- Pengantin baru yang sudah memiliki anak
- Usia anak sudah masuk taman kanak-kanak
- Usia anak sudah masuk sekolah dasar
- Usia anak sudah menginjak remaja
- Anak sudah menjadi pribadi yang dewasa
- Semua anak sudah tidak lagi tinggal di rumah
- Ketika pasangan (suami/istri) sudah meninggal
Cahyadi menjelaskan bahwa fenomena pelik kerap muncul ketika seorang pria yang semasa mudanya kecanduan pornografi berupaya “sembuh” dengan cara menikah. Pada fase awal pernikahan, ia berhenti mengakses konten tersebut karena merasa bahagia dengan pasangannya.
Namun, tantangan sesungguhnya muncul pada fase kedua, yaitu ketika telah memiliki anak dan relasi suami istri tidak lagi seintens sebelumnya. “Suami mulai mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Rasa penolakan saat keinginan untuk dekat tidak terpenuhi memicu perasaan terabaikan yang kemudian mendorongnya kembali pada pornografi sebagai pelampiasan lama yang pernah menjadikan candu,” jelasnya.

Solusi Dimulai dari Rumah
Cahyadi menekankan bahwa adiksi pornografi bersifat repetitif dan cenderung terus meningkat apabila tidak ditangani secara serius. Sebagai langkah preventif, Cahyadi menawarkan solusi yang berakar dari rumah. Menurutnya, upaya pencegahan paling efektif harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dan utama.
Orang tua, lanjutnya, memiliki tanggung jawab membangun komunikasi terbuka dengan anak, termasuk dalam membicarakan isu seksualitas sesuai dengan usia anak. “Edukasi dini menjadi fondasi penting agar anak memiliki pemahaman yang benar serta mampu membentengi diri dari potensi adiksi,” ungkapnya.
Upaya tersebut dilakukan agar keluarga dapat melahirkan generasi yang menjadi qurrata a’yun atau penyejuk hati bagi orang tua. Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6 yang menegaskan kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual dalam membina ketahanan keluarga.
Menutup pemaparannya dengan peringatan keras, Cahyadi menegaskan bahwa kecanduan pornografi adalah labirin tanpa ujung yang tidak akan memberikan rasa puas. “Yang namanya kecanduan pornografi itu ga ada akhirnya dan ga akan pernah ada puasnya,” pungkasnya menutup pemaparan.
Penulis: Farah
Editor: Naila A. Cetta, Aldi Firmansyah, & Indra Oktafian Hidayat