• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Ashar Saputra: Pembangunan Sejati adalah yang Memuliakan Manusia

Ashar Saputra: Pembangunan Sejati adalah yang Memuliakan Manusia

  • Tulisan dan Khotbah
  • 12 Oktober 2025, 14.13
  • Oleh: safitriingka
  • 0

Pada Khutbah Jumat yang diselenggarakan pada 10 Oktober 2025 di ruang utama Masjid Kampus UGM, Ir. Ashar Saputra berbicara terkait keseimbangan antara kemajuan dan kesejahteraan dalam pembangunan. Dalam khutbahnya, Ashar mengajak jamaah merenungkan pelajaran dari Surah Al-Baqarah ayat 30, yang berisi dialog antara Allah SWT dan para malaikat tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi.

Manusia sebagai Khalifah

Ashar juga mengajak jamaah mengkaji isi Surah Al-Baqarah ayat 30 dengan sudut pandang ilmu mantiq (logika), yaitu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum penalaran yang benar agar dapat mencapai kesimpulan yang valid dan terhindar dari kesalahan berpikir. Menurut beliau, ayat tersebut mengandung makna mendalam tentang kedudukan manusia di hadapan Allah. Ketika malaikat mempertanyakan tujuan penciptaan manusia karena khawatir akan menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah, Allah menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat.

Lebih lanjut, Ashar menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu mantiq, Allah ingin mengajarkan definisi khalifah melalui konteks dialog di ayat tersebut. Hal ini dibuktikan dengan yang pertama kali disebut adalah “hendak menciptakan khalifah”. tapi tidak menjelaskan siapa yang dimaksud khalifah, justru penjelasannya muncul dari kekhawatiran malaikat. Dari sini bisa ditarik garis bahwa khalifah sebagai negasi dari kerusakan dan penderitaan. “Tugas khalifah adalah memuliakan, merawat, dan memelihara kehidupan agar manusia menjadi hamba Allah yang sesungguhnya.” tutur Ashar.

Mengutip tafsir Ibnu Katsir, Ashar menambahkan bahwa ayat ini juga menjadi bentuk penghargaan Allah kepada manusia. Sebelum manusia diciptakan, Allah telah memberitahukan rencana itu kepada malaikat, menandakan betapa mulianya kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi (khalifah fil ardh).

Baca juga: Soroti Penyakit Hati, Guru Besar Fakultas Psikologi UGM: Obati Hati dengan Lima Langkah Ini

Khalifah sang Penggerak Pembangunan

Sampai pada pembahasan yang lebih dalam, Ashar menghubungkan tugas khalifah pada konteks pembangunan. Ashar menegaskan bahwa manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kemajuan selalu selaras dengan kesejahteraan. Ia mencontohkan dua kisah sejarah Islam yang sarat makna.

Kisah pertama datang dari Khalifah Umar bin Khattab ketika menghadapi persoalan perluasan masjid di Mesir pada masa Amr bin Ash sebagai gubernur. Seorang Yahudi menolak rumahnya dibongkar untuk proyek perluasan masjid karena itu satu-satunya tempat tinggalnya. Sang yahudi akhirnya memutuskan bertemu dengan Umar bin Khattab untuk menyampaikan permasalahan ini. Setelah selesai mengutarakan kepada Umar, sang khalifah mengirim pesan simbolik berupa garis pada tulang yang dibuat dengan pedangnya kepada Amr. Memahami pesan yang disampaikan, Amr akhirnya tidak memaksakan kehendak perluasan pembangunan masjid tersebut, dan justru dari tindakan ini akhirnya dengan hidayah Allah, sang yahudi justru mengikhlaskan rumahnya untuk dijadikan bagian dari masjid. Melalui peristiwa ini, Ashar menekankan pentingnya menghormati hak dan martabat manusia bahkan dalam proyek keagamaan sekalipun.

Kisah kedua berasal dari pengalaman Ibnu al-Haitam, ilmuwan muslim abad ke-10 masehi yang diminta oleh Khalifah Fatimiyah untuk mengatasi banjir di Sungai Nil. Meskipun dalam proses pembangunannya banyak terjadi perselisihan dengan sang Khalifah, Ia meniatkan bahwa pembangunan bendungan tersebut untuk mengatasi penderitaan rakyat. Dari sini, Ashar mengingatkan bahwa pembangunan sejati harus berpijak pada kemaslahatan manusia, bukan sekedar pencapaian fisik atau ambisi kekuasaan.

Pembangunan Menuju Kesejahteraan Hakiki

Ashar kemudian mengajak jamaah untuk merenungkan kembali makna kesejahteraan. Menurutnya, kesejahteraan bukan dari banyaknya harta, tingginya jabatan, dan sebagainya. Kesejahteraan adalah ketika umat Islam semakin mudah dan berkualitas dalam menjadi hamba Allah. Orang yang sejahtera adalah yang terpenuhinya kebutuhan material dan spiritualnya, sehingga bisa beribadah dengan tenang, sehat, dan penuh semangat.

Menutup khutbahnya, Ashar menegaskan dua prinsip utama dalam pembangunan. Pertama, proses pembangunan tidak boleh keluar dari tugas utama manusia sebagai khalifah, yaitu menjaga, memuliakan, dan menebar kebaikan di bumi. Kedua, tujuan akhir dari setiap kemajuan haruslah mengarah pada kesejahteraan hakiki yaitu semakin mudah dan berkualitasnya manusia dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dari khutbah yang disampaikan oleh Ashar membawa pesan yang kuat yaitu mengingatkan jamaah bahwa kemajuan tanpa kesejahteraan adalah kosong, dan kesejahteraan tanpa keimanan adalah rapuh.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=8NEOuRmvXPg[/embedyt]

Tags: Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja Masjid Kampus UGM Maskam UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ramadan Jadi Awal, Dosen SV UGM Tekankan Konsistensi
  • Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan
  • Khotbah Idulfitri, Ahmad Syauqi: Ketakwaan Harus Terasa dalam Kehidupan Sosial
  • Dirmawa UGM Tegaskan Negara Tak Boleh Abai terhadap Kemiskinan Struktural
  • CEO Haltech Indonesia: Masjid Tak Hanya Tempat Ibadah, Harus Jadi Episentrum Teknologi
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY