• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Dirmawa UGM Tegaskan Negara Tak Boleh Abai terhadap Kemiskinan Struktural

Dirmawa UGM Tegaskan Negara Tak Boleh Abai terhadap Kemiskinan Struktural

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 18 Maret 2026, 17.36
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Menjelang penghujung Ramadan 1447 H, Masjid Kampus UGM kembali menghadirkan Ramadan Public Lecture (RPL) pada Selasa (17/3) yang sarat refleksi sosial. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., membawakan tema “Welfare State of Indonesia: Meninjau Ulang Konsep Masyarakat Sejahtera di Negara Kesejahteraan”, ia mengajak jemaah meninjau ulang konsep welfare state atau negara kesejahteraan, sekaligus menegaskan bahwa makna sejahtera tidak semata-mata diukur dari aspek material.

Ketimpangan Masih Jadi PR Bangsa

Dalam ceramahnya, Hempri menyoroti bahwa persoalan kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Ia memaparkan bahwa angka kemiskinan masih berada di kisaran 8,25 persen, dengan indeks ketimpangan (gini ratio) sekitar 0,39.

“Pendapatan per kapita memang naik, tetapi kenaikan itu tidak merata. Kelompok terkaya justru mengalami peningkatan jauh lebih besar dibanding masyarakat bawah,” ujarnya.

Ia juga mengangkat berbagai realitas sosial yang memprihatinkan, mulai dari anak putus sekolah hingga kasus kemiskinan ekstrem yang berujung tragis. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga: CEO Haltech Indonesia: Masjid Tak Hanya Tempat Ibadah, Harus Jadi Episentrum Teknologi

Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Konsep

Hempri menegaskan bahwa dalam konsep welfare state, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Hal ini tercermin dalam amanat konstitusi, seperti Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945.

“Negara harus hadir dalam memastikan akses pendidikan, kesehatan, dan distribusi ekonomi yang adil. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan nilai Islam, seperti dalam Al-Qur’an yang menekankan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Lebih jauh, Hempri mengajak jemaah untuk memahami kesejahteraan secara lebih holistik. Menurutnya, kesejahteraan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi non-material seperti ketenangan, rasa aman, dan harmoni hidup.

“Orang merasa sejahtera ketika hidupnya tenteram, tidak hanya ketika memiliki kekayaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat tidak hanya sebatas kebutuhan pangan, tetapi juga rasa aman dari ketakutan dan ketidakpastian.

Ramadan sebagai Momentum Kolektivitas

Momentum Ramadan, lanjut Hempri, seharusnya menjadi ruang refleksi untuk memperkuat solidaritas sosial. Ia menekankan pentingnya aksi kolektif dalam membantu sesama, terutama kelompok rentan.

“Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga momentum membangun keadilan sosial dan kepedulian,” tegasnya.

Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf di Indonesia dinilai sangat besar dan dapat menjadi solusi alternatif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan optimal.

Kritik Budaya Flexing Saat Lebaran

Dalam bagian akhir ceramahnya, Hempri menyoroti fenomena flexing yang kerap muncul menjelang Idulfitri. Ia mengingatkan agar tradisi Lebaran tidak bergeser menjadi ajang pamer kesuksesan.

“Jangan sampai Lebaran hanya menjadi panggung menunjukkan status sosial. Hakikatnya adalah silaturahmi dan saling memaafkan,” ujarnya.

Ia menilai budaya materialistik yang berlebihan justru dapat mengaburkan makna sejati kesejahteraan dan kebahagiaan. Mengakhiri materinya, Hempri mengajak jemaah untuk menyeimbangkan antara aspek material dan spiritual dalam kehidupan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada angka ekonomi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.

“Agama harus menjadi benteng agar kita tidak terjebak dalam ukuran-ukuran materialistik semata,” pungkasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 207
Tags: Idulfitri kemiskinan kesejahteraan ketimpangan sosial Masjid Kampus UGM Ramadan solidaritas sosial ugm welfare state zakat

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Menjaga Bumi, Menjaga Iman: Mengapa Melestarikan Lingkungan Merupakan Manifestasi Tauhid dan Amanah?
  • Mengapa Harta Warisan Sering Menghancurkan Persaudaraan? Menyingkap Titik Buta Pembagian Harta
  • Mengapa Peradaban Modern Gagal Memanusiakan Manusia? Titik Buta Eksistensial Tanpa Integrasi Tauhid dan Akhlak
  • Menjamin Keadilan Gender Domestik: Mengapa Hukum Positif Wajib Melindungi Hak Ekologis Istri dan Anak
  • Sebelum Terjebak Utang Berkelanjutan: Simak Analisis Ihda Arifin Faiz Tentang Navigasi Krisis Keuangan Domestik
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY