SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) pada Selasa (17/3) mengangkat tema “Masjid Kampus sebagai Ruang Temu Peneliti dan Inovator untuk Membangun Kemandirian Teknologi Bangsa”, kegiatan ini menghadirkan Ir. Yarabisa Yanuar, S.T., M.Sc., IPP., seorang praktisi teknologi sekaligus CEO Haltech Indonesia.
Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Dalam pemaparannya, Yarabisa menekankan bahwa sejak masa Rasulullah, masjid telah berfungsi sebagai pusat peradaban. Ia mencontohkan bagaimana Masjid Nabawi menjadi pusat komando, pendidikan, hingga layanan sosial seperti kesehatan.
“Masjid itu bukan hanya tempat salat. Dari dulu, masjid adalah pusat aktivitas umat, termasuk diskusi, riset, bahkan pelayanan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengangkat konsep episentrum, yakni masjid sebagai titik utama lahirnya gagasan dan inovasi. Menurutnya, ketika nilai wahyu bertemu dengan akal manusia dalam ruang masjid, maka akan lahir peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga beretika.
Baca juga: Dekan Fakultas Teknik UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia
Menghidupkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam
Yarabisa mengulas sejarah kejayaan peradaban Islam, di mana masjid menjadi pusat berkembangnya berbagai disiplin ilmu seperti matematika, kedokteran, hingga teknik. Ia menyinggung tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, hingga Al-Jazari sebagai bukti bahwa integrasi ilmu agama dan sains pernah mencapai puncaknya. Namun, ia juga mengkritisi kondisi saat ini di mana terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains.
“Jangan sampai kita terjebak, yang di masjid hanya paham agama tapi tidak paham sains, dan sebaliknya. Padahal dulu para ulama itu polimatik,” ujarnya.
Masjid Kampus sebagai Ruang Kolaborasi
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Masjid Kampus UGM memiliki potensi besar sebagai titik temu lintas disiplin. Interaksi antar mahasiswa, dosen, dan peneliti dari berbagai bidang menjadi modal utama lahirnya kolaborasi inovatif. Menurutnya, kunci pengembangan masjid kampus adalah menciptakan ekosistem diskusi yang aktif, tidak hanya terbatas pada kajian keagamaan, tetapi juga isu-isu kontemporer seperti teknologi, ekonomi, hingga kecerdasan artifisial.
Ia mencontohkan berbagai program seperti public lecture dan tema Ramadan yang mengangkat isu integrasi iman dan ilmu sebagai bentuk nyata upaya tersebut. Menariknya, Yarabisa juga membagikan pengalaman konkret bagaimana aktivitas di masjid kampus melahirkan berbagai inovasi teknologi. Di antaranya pengembangan 3D printer lokal, alat kesehatan untuk dokter gigi, hingga proyek pesawat amfibi ringan untuk konektivitas antar pulau di Indonesia.
“Semua ini berawal dari diskusi kecil di masjid. Dari obrolan setelah salat, kemudian berkembang menjadi kolaborasi nyata,” ungkapnya.
Tantangan dan Harapan
Dalam sesi tanya jawab, peserta mengangkat isu kesenjangan pengembangan masjid di daerah yang masih terbatas sumber daya. Menanggapi hal tersebut, Yarabisa menekankan pentingnya memulai dari langkah kecil.
“Tidak perlu langsung besar. Mulai dari diskusi kecil, kelas sederhana, atau aktivitas yang memantik minat anak muda. Perubahan itu butuh waktu panjang, bahkan lintas generasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan nasional seperti rendahnya hilirisasi riset dan fenomena brain drain. Menurutnya, diperlukan ekosistem kolaboratif yang kuat, termasuk peran masjid sebagai penggerak moral dan intelektual.
Masjid sebagai Pusat Peradaban Masa Depan
Kajian ini menegaskan kembali bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat peradaban modern. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang lahirnya ide, riset, dan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Dengan mengintegrasikan nilai spiritual dan intelektual, Masjid Kampus UGM diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan masjid di Indonesia.
“Masjid bukan museum sejarah, tapi ruang operasi peradaban,” pungkas Yarabisa.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat