• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Dekan Fakultas Teknik UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia

Dekan Fakultas Teknik UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 17 Maret 2026, 17.30
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0
Dekan Teknik UGM menyampaikan materinya di Maskam UGM

Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng, mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 berpotensi berubah menjadi “Indonesia cemas” jika bangsa ini tidak mampu berdaulat dalam teknologi.

Hal tersebut ia sampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM sebelum salat tarawih yang mengangkat tema “Menyambut Intelligent Age: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas” pada Selasa (17/3).

Dalam ceramahnya, Selo mengajak jemaah untuk tidak hanya memikirkan Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, tetapi juga membayangkan kondisi Indonesia 20 tahun ke depan, tepat saat bangsa ini memperingati 100 tahun kemerdekaan.

“Mari kita bayangkan tidak lima hari ke depan, tetapi 20 tahun yang akan datang. Tahun 2045 Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan. Pertanyaannya, apakah kita bisa mencapai Indonesia emas yang maju, berdaulat, adil, dan makmur?” ujarnya.

Indonesia Belum Benar-Benar Maju dan Berdaulat

Menurut Selo, target Indonesia Emas secara tidak langsung menunjukkan bahwa kondisi saat ini belum sepenuhnya memenuhi kriteria negara maju, berdaulat, adil, dan makmur. Ia mencontohkan kemandirian teknologi negara lain, seperti Iran yang tetap mampu mengembangkan teknologi persenjataan secara mandiri meskipun mengalami embargo selama puluhan tahun. Sementara itu, Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi asing, termasuk dalam sektor strategis seperti persenjataan, industri, dan perangkat elektronik.

“Roket, rudal, pesawat, mana yang kita buat sendiri? Sebagian besar buatan asing,” jelasnya.

Ia juga menyoroti praktik industri teknologi di Indonesia yang sering kali hanya sebatas perakitan produk impor, bukan pengembangan teknologi dari hulu.

Baca juga: Dosen Psikologi UGM: Cara Pandang Manusia Dapat Membentuk Realitas, Tapi Tetap di Bawah Kehendak Allah

Ancaman Generasi “Rebahan” di Era Digital

Selain persoalan teknologi, Selo menilai tantangan besar Indonesia juga datang dari perilaku masyarakat di era digital. Berdasarkan data yang ia kutip, rata-rata masyarakat Indonesia memiliki screen time sekitar 7,6 jam per hari, dengan sebagian besar waktu digunakan untuk media sosial dan hiburan.

“Untuk kerja di bawah satu jam. Yang tiga jam lebih untuk media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook,” katanya.

Fenomena ini menurutnya berpotensi melahirkan generasi instan dan kurang produktif, terutama jika teknologi hanya digunakan sebagai sarana hiburan, bukan alat peningkatan kapasitas diri.

Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai

Dalam paparannya, Selo menjelaskan bahwa penguasaan teknologi modern, termasuk Artificial Intelligence (AI), sebenarnya terdiri dari lima lapisan utama, yaitu:

  1. Energi
  2. Chip atau semikonduktor
  3. Infrastruktur jaringan
  4. Model atau algoritma (termasuk AI)
  5. Aplikasi

Saat ini, menurutnya, Indonesia mayoritas hanya berada di lapisan terakhir, yaitu sebagai pengguna aplikasi, bukan pencipta teknologi. Ia mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk mulai berkontribusi dalam pengembangan teknologi dari level yang lebih mendasar, seperti desain chip, pengembangan algoritma AI, hingga teknologi energi.

Teknologi Harus Jadi Alat, Bukan Tujuan

Di akhir ceramahnya, Prof. Selo menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian bangsa, bukan sekadar sarana hiburan. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan akademisi, untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi agar Indonesia benar-benar dapat mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Teknologi adalah alat bantu kita, bukan tujuan. Indonesia emas bisa kita wujudkan jika kita ikut berperan dan berkontribusi,” tuturnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 403
Tags: chip semikonduktor generasi digital Indonesia Emas 2045 kemandirian teknologi kuliah umum UGM Masjid Kampus UGM pengembangan AI Prof Selo UGM screen time Indonesia teknologi AI Indonesia

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Menjaga Bumi, Menjaga Iman: Mengapa Melestarikan Lingkungan Merupakan Manifestasi Tauhid dan Amanah?
  • Mengapa Harta Warisan Sering Menghancurkan Persaudaraan? Menyingkap Titik Buta Pembagian Harta
  • Mengapa Peradaban Modern Gagal Memanusiakan Manusia? Titik Buta Eksistensial Tanpa Integrasi Tauhid dan Akhlak
  • Menjamin Keadilan Gender Domestik: Mengapa Hukum Positif Wajib Melindungi Hak Ekologis Istri dan Anak
  • Sebelum Terjebak Utang Berkelanjutan: Simak Analisis Ihda Arifin Faiz Tentang Navigasi Krisis Keuangan Domestik
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY