Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng, mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 berpotensi berubah menjadi “Indonesia cemas” jika bangsa ini tidak mampu berdaulat dalam teknologi.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM sebelum salat tarawih yang mengangkat tema “Menyambut Intelligent Age: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas” pada Selasa (17/3).
Dalam ceramahnya, Selo mengajak jemaah untuk tidak hanya memikirkan Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, tetapi juga membayangkan kondisi Indonesia 20 tahun ke depan, tepat saat bangsa ini memperingati 100 tahun kemerdekaan.
“Mari kita bayangkan tidak lima hari ke depan, tetapi 20 tahun yang akan datang. Tahun 2045 Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan. Pertanyaannya, apakah kita bisa mencapai Indonesia emas yang maju, berdaulat, adil, dan makmur?” ujarnya.
Indonesia Belum Benar-Benar Maju dan Berdaulat
Menurut Selo, target Indonesia Emas secara tidak langsung menunjukkan bahwa kondisi saat ini belum sepenuhnya memenuhi kriteria negara maju, berdaulat, adil, dan makmur. Ia mencontohkan kemandirian teknologi negara lain, seperti Iran yang tetap mampu mengembangkan teknologi persenjataan secara mandiri meskipun mengalami embargo selama puluhan tahun. Sementara itu, Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi asing, termasuk dalam sektor strategis seperti persenjataan, industri, dan perangkat elektronik.
“Roket, rudal, pesawat, mana yang kita buat sendiri? Sebagian besar buatan asing,” jelasnya.
Ia juga menyoroti praktik industri teknologi di Indonesia yang sering kali hanya sebatas perakitan produk impor, bukan pengembangan teknologi dari hulu.
Ancaman Generasi “Rebahan” di Era Digital
Selain persoalan teknologi, Selo menilai tantangan besar Indonesia juga datang dari perilaku masyarakat di era digital. Berdasarkan data yang ia kutip, rata-rata masyarakat Indonesia memiliki screen time sekitar 7,6 jam per hari, dengan sebagian besar waktu digunakan untuk media sosial dan hiburan.
“Untuk kerja di bawah satu jam. Yang tiga jam lebih untuk media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook,” katanya.
Fenomena ini menurutnya berpotensi melahirkan generasi instan dan kurang produktif, terutama jika teknologi hanya digunakan sebagai sarana hiburan, bukan alat peningkatan kapasitas diri.
Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai
Dalam paparannya, Selo menjelaskan bahwa penguasaan teknologi modern, termasuk Artificial Intelligence (AI), sebenarnya terdiri dari lima lapisan utama, yaitu:
- Energi
- Chip atau semikonduktor
- Infrastruktur jaringan
- Model atau algoritma (termasuk AI)
- Aplikasi
Saat ini, menurutnya, Indonesia mayoritas hanya berada di lapisan terakhir, yaitu sebagai pengguna aplikasi, bukan pencipta teknologi. Ia mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk mulai berkontribusi dalam pengembangan teknologi dari level yang lebih mendasar, seperti desain chip, pengembangan algoritma AI, hingga teknologi energi.
Teknologi Harus Jadi Alat, Bukan Tujuan
Di akhir ceramahnya, Prof. Selo menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian bangsa, bukan sekadar sarana hiburan. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan akademisi, untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi agar Indonesia benar-benar dapat mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
“Teknologi adalah alat bantu kita, bukan tujuan. Indonesia emas bisa kita wujudkan jika kita ikut berperan dan berkontribusi,” tuturnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat