• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Muhammad Zaki Afif: Keluarga yang Sakinah Bukan Berarti Bebas Stres, tapi Tahu Cara Memanajemennya

Muhammad Zaki Afif: Keluarga yang Sakinah Bukan Berarti Bebas Stres, tapi Tahu Cara Memanajemennya

  • Sakinah Academy
  • 16 September 2025, 09.21
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Stres dan trauma bukan hanya pengalaman individu, melainkan memengaruhi kehidupan keluarga. Topik ini dibahas dalam Kajian Sakinah Academy dengan tema “Pengaruh Stress dan Trauma pada Keluarga”. Kajian ini diselenggarakan pada Kamis, 15 September 2025 di Ruang Utama Masjid Kampus Lantai 1 yang menghadirkan Muhammad Zaki Afif, S.Psi., M.Psi., Konselor Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia (LAKI) sebagai pembicara.

Sebagai awalan, Zaki mengingatkan bahwasannya ada sebuah kesempatan yang sangat mewah untuk bisa masuk ke surga dan itu tidaklah sendirian. Beliau mengatakan ini sesuai dengan firman Allah surat Ar-Ra’d ayat 23 di mana manusia dapat memasuki surga bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan.

Stres dan Stresor

Zaki menyampaikan perbedaan kedua istilah stres dan stresor. Secara harfiah, stres berasal dari bahasa inggris yang artinya tekanan. Ia menyebutkan bahwa stres merupakan kondisi yang dialami oleh individu sedangkan stressor merupakan penyebab dari kondisi stres tersebut. Stressor juga bisa diartikan sebagai kejadian atau pemicu yang mengakibatkan individu menjadi stres.

Jenis Stres

Dalam teori psikologi, Zaki menerangkan bahwa ada 2 jenis pengalaman stress: eustress dan distress. Eutress berdampak baik pada individu yang mengakibatkan perkembangan dan pertumbuhan emosional seperti ujian dan perlombaan. Sementara itu, distress memiliki dampak yang sebaliknya di mana mengakibatkan efek negatif dan menghambat pertumbuhan jika stressor dikelola dengan buruk.

Berdasarkan waktu, Zaki mengategorikan stres menjadi stres akut dan stres kronis. Stres akut datang dan hilang dalam waktu yang singkat seperti kejadian sehari hari: cekcok dengan teman, ditegur, adu argumen, dan lainnya. Selanjutnya, zaki menerangkan stres kronis sebagai tekanan yang berlaku jangka panjang dan tidak hilang dalam waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Salah satu contoh yang ia ambil adalah seorang suami yang terjerat judi online dan pinjaman online sehingga menimbulkan musibah bunuh diri karena tekanan yang begitu kuat.

“Tidak semua stressor itu buruk. Tidak semua stress itu buruk,” ujar pembicara.

Setiap individu itu sejak lahir dan setelah pengalaman hidupnya masing-masing membawa kerentanan yang berbeda sekaligus ketangguhan yang berbeda. Pada individu yang sehat, stressor sehari hari itu tidak menimbulkan masalah. Ini dikarenakan Allah telah memberikan otak, sistem saraf, dan hati yang didesain untuk tahan ditempa. “Namun, apakah itu berlaku untuk semua orang dan selamanya?” tanya pembicara.

Baca juga: Kekerasan Aparat Terus Berulang: Fatahillah Akbar Kritik Kekuasaan Berlebih dan Disiplin Bangkai

Trauma

Zaki menyoroti fenomena media sosial di mana banyak individu dengan mudahnya menyebut dirinya trauma. “Apakah dengan mudahnya bisa mengatakan dan melabeli hal itu tuh trauma?” tanyanya.

Zaki menjelaskan bahwa trauma adalah luka mendalam (too overwhelming) yang saking banyaknya menenggelamkan individu sampai sistem saraf itu selalu mengisyaratkan bahaya. Individu tersebut dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang begitu menekan walaupun sudah terjadi di masa lampau. “Bukan sekedar luka, harus mendalam sampai merasa bahwasannya cara pandang begitu berubah yang tidak ada rasa aman meskipun aslinya aman,” tegasnya.

Sumber Stres pada Keluarga

Zaki menjelaskan stres pada keluarga berasal dari dalam maupun luar keluarga. Orang tua, anak, dan pasangan bisa menjadi sumber stres. Tidak hanya itu, faktor luar keluarga seperti tempat kerja, pendidikan, bahkan tetangga bisa juga menjadi sumber stres. Zaki menegaskan bahwa tidak ada keluarga yang tidak memiliki stressor. Sakinah dalam keluarga (tenang dan damai) itu bukan berarti stress-free atau tidak adanya stressor maupun luka. 

Kutipan dari Abu Zayd Albalkhy sempat disampaikan oleh pembicara. Kutipan itu memiliki arti dunia ini tidak diciptakan untuk membuat manusia mendapat apapun yang diinginkan tanpa manusia mendapat kecemasan, kekhawatiran, dan perasaan yang tidak nyaman.

Zaki menegaskan prinsip utama dalam ajaran Islam di mana kita menerima dunia itu adalah tempat untuk diuji dan berlomba lomba untuk mengumpulkan kebaikan. Kalau ingin hidup tanpa stres, tanpa cemas maka tempatnya di surga.

Solusi mengatasi stres dan trauma

“Bukan stres-nya yang dihilangkan, melainkan diri dan keluarganya yang ditangguhkan,” ujar pembicara. Zaki mengutip sebuah model oleh peneliti ribuan keluarga dari berbagai budaya dan mendapati beberapa ciri keluarga yang sehat. Berikut ini 6 ciri keluarga sehat yang bisa dibangun

  1. Komunikasi positif
  2. Apresiasi dan afeksi satu sama lain
  3. Menikmati dan menghabiskan waktu bersama
  4. Komitmen pada keluarga
  5. Kemampuan untuk mengatur stress dan krisis secara efektif
  6. Perasaan kesejahteraan dan spiritual dan berbagai nilai

Di akhir sesi, Zaki berharap agar peserta merasa penting untuk mengingat bahkan menerima bahwa tujuan berkeluarga itu bukan untuk terhindar dari segala stres atau hanya untuk bahagia. Keluarga akan tangguh, akan kuat, akan terbentengi menghadapi stressor kalau menyadari tujuan keluarga itu untuk mendekat kepada Allah, membangun hubungan kuat, dan menenangkan dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Dalam keluarga, perspektif manusia bukan untuk menghindari stres, melainkan untuk membangun ketangguhan dalam keluarga. Dengan ketangguhan itu, keluarga bisa saling menguatkan. Single maupun berkeluarga tetap akan mendapatkan stress, tetapi ketika bisa membangun keluarga yang tangguh kita akan bisa mengelola stress dan krisis secara lebih efektif. (Isa Maliki)

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=clpPK76UgA4[/embedyt]

Tags: Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Maskam UGM Psikologi Keluarga.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ketua Senat Akademik Fakultas Kehutanan UGM Sebut Indonesia Mengalami Penghancuran Ekologi secara Sistematis
  • Dewan Pengarah PSE UGM Dorong Yogyakarta Menjadi Hydrogen Valley Nasional
  • Direktur RZIS UGM: Paradigma Wirausaha Islam Menjauhkan Keluarga dari Praktik Riba
  • Dekan Fakultas Biologi UGM: Alam Rusak karena Manusia Gagal Menjaga Amanah
  • Ketua Departemen Antropologi FIB UGM Kritik Penggunaan Istilah “Bencana Alam”
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY