Menunda mengerjakan tugas kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, di balik kebiasaan tersebut sering kali tersimpan persoalan psikologis yang lebih kompleks. Hal itu disampaikan Psikolog Ilma Putri Istianda, M.Psi., Psikolog, dalam kajian bertajuk “Prokrastinasi Akademik: Ketika Rasa Takut Disamarkan sebagai Malas” yang diselenggarakan di Masjid Kampus UGM pada Kamis (4/6).
Dalam pemaparannya, Ilma menjelaskan bahwa prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan menunda memulai maupun menyelesaikan tugas akademik secara sengaja, meskipun seseorang menyadari adanya tenggat waktu yang harus dipenuhi.
“Fenomena ini sudah sangat umum terjadi, terutama di kalangan mahasiswa. Namun penyebabnya tidak sesederhana rasa malas. Ada banyak faktor psikologis yang melatarbelakanginya,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi berkaitan dengan depresi, kecemasan, perfeksionisme, rendahnya kepercayaan diri, hingga ketakutan akan kegagalan. Kondisi tersebut membuat seseorang terjebak dalam siklus penundaan yang terus berulang.
“Orang yang mengalami prokrastinasi sering kali sebenarnya ingin menyelesaikan tugasnya. Namun rasa takut, cemas, atau merasa tidak mampu justru membuat mereka menghindari pekerjaan tersebut,” jelasnya.
Ilma menambahkan, akar persoalan tersebut juga berkaitan dengan fungsi eksekutif otak, yakni kemampuan mengatur diri, merencanakan pekerjaan, mengendalikan impuls, hingga menjaga fokus dalam menyelesaikan tugas.
“Ketika fungsi eksekutif mengalami hambatan, seseorang menjadi lebih mudah terdistraksi, sulit memulai pekerjaan, buruk dalam mengatur waktu, dan kesulitan mempertahankan konsentrasi,” katanya.
Ia mencontohkan, kebiasaan membuka media sosial ketika hendak belajar bukan sekadar persoalan disiplin, melainkan bentuk kegagalan mengendalikan dorongan sesaat.
Baca juga: Wakil Dekan Filsafat UGM Ingatkan Bahaya Pandangan Materialistik terhadap Pekerjaan
“Kadang kita sudah duduk di depan laptop, tetapi akhirnya justru membuka media sosial. Itu menunjukkan adanya kesulitan menahan impuls demi tujuan jangka panjang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ilma menjelaskan bahwa kondisi emosional yang tidak stabil juga memengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Saat individu mengalami stres atau kecemasan tinggi, bagian otak yang mengatur emosi menjadi lebih dominan dibandingkan bagian otak yang bertugas mengambil keputusan dan menyusun perencanaan.
“Ketika kita sedang cemas, otak lebih fokus pada rasa tidak nyaman dibandingkan menyelesaikan tugas. Akhirnya kita mencari pelarian yang memberikan kenyamanan sesaat, misalnya scrolling media sosial, menonton video, atau melakukan aktivitas lain yang sebenarnya tidak mendesak,” terangnya.
Ia menyebut siklus tersebut sebagai lingkaran prokrastinasi. Semakin lama tugas ditunda, kecemasan meningkat. Kecemasan itu kemudian mendorong seseorang kembali mencari distraksi sehingga pekerjaan semakin tidak terselesaikan.
Untuk memutus siklus tersebut, Ilma menyarankan mahasiswa membangun target yang realistis dan terukur, bukan hanya berfokus pada hasil akhir.
“Kalau targetnya terlalu besar, otak akan merasa terbebani. Pecahlah menjadi langkah-langkah kecil, misalnya hari ini membaca satu jurnal atau menulis satu paragraf. Yang penting ada progres setiap hari,” tuturnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan pekerjaan, membuat pengingat tenggat waktu, serta memberikan apresiasi kepada diri sendiri ketika berhasil menyelesaikan target yang telah ditetapkan.
“Rasa puas setelah mencentang daftar pekerjaan yang selesai sebenarnya menjadi bentuk penghargaan bagi diri sendiri. Itu akan meningkatkan keyakinan bahwa kita mampu menyelesaikan tugas berikutnya,” katanya.
Ilma juga mengingatkan pentingnya mengenali emosi yang muncul sebelum seseorang memutuskan menunda pekerjaan.
“Kenali dulu apa yang sedang dirasakan. Apakah takut gagal, bingung memulai, atau sedang banyak masalah. Ketika emosi itu kita sadari dan kita terima, biasanya kita lebih mudah berpikir jernih untuk mencari solusi,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, Ilma turut menanggapi pertanyaan mengenai tekanan akademik yang dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh ketika mengalami stres berkepanjangan.
“Tubuh adalah alarm yang paling jujur. Kita mungkin bisa mengatakan baik-baik saja, tetapi tubuh tidak bisa berbohong. Kalau sudah muncul gangguan fisik akibat tekanan yang berat, itu menjadi tanda bahwa kita perlu segera mengelola stres atau mencari bantuan profesional,” ujarnya.
Di akhir kajian, Ilma menegaskan bahwa dukungan lingkungan memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa keluar dari kebiasaan menunda pekerjaan. Menurutnya, keberadaan teman seperjuangan, komunitas belajar, maupun pendamping akademik dapat meningkatkan motivasi sekaligus menjaga konsistensi dalam menyelesaikan tugas.
Ia juga mengaitkan pengendalian diri dengan nilai-nilai Islam yang telah mengajarkan disiplin sejak lama melalui ibadah.
“Dalam Islam kita sudah dilatih mengendalikan diri melalui salat tepat waktu maupun puasa. Nilai-nilai itu dapat menjadi latihan untuk membangun disiplin dan kemampuan mengendalikan dorongan sesaat demi tujuan yang lebih besar,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat