• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Direktur Penelitian UGM Dorong Transformasi dari Ekonomi SDA ke Ekonomi Inovasi

Direktur Penelitian UGM Dorong Transformasi dari Ekonomi SDA ke Ekonomi Inovasi

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 15 Maret 2026, 15.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM kembali dilaksanakan pada Rabu malam (12/3). Dalam kesempatan tersebut, Direktur Penelitian UGM, Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc. menyampaikan public lecture bertajuk “Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi untuk Rahmatan Lil Alamin.”

Di hadapan jemaah, Mirwan menegaskan bahwa riset dan inovasi tidak hanya bertujuan menghasilkan teknologi atau meningkatkan daya saing bangsa, tetapi juga harus membawa kemaslahatan yang luas bagi manusia, makhluk hidup, dan lingkungan.

Riset Sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Menurut Mirwan, investasi pada riset dan pengembangan teknologi merupakan faktor penting yang menentukan kemajuan suatu negara. Ia menjelaskan bahwa negara maju tidak lagi hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tetapi berfokus pada produksi pengetahuan dan inovasi.

“Ekonomi mereka sudah berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), yaitu pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh penciptaan, penyebaran, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti besarnya kesenjangan investasi riset antara Indonesia dan negara maju. Korea Selatan mengalokasikan sekitar 4,8 persen dari PDB untuk riset dan pengembangan, Jepang sekitar 3,2 persen, China 2,4 persen, sementara Indonesia masih berada di kisaran 0,2–0,3 persen. Perbedaan ini berdampak langsung pada kapasitas teknologi dan daya saing global suatu negara. Karena itu, ia menilai Indonesia perlu bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya (resource-based economy) menuju ekonomi berbasis inovasi (innovation-based economy).

Baca juga: Founder Blood4Life Ajak Mahasiswa Jadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup Kemanusiaan

Budaya Riset Harus Dimulai Sejak Dini

Mirwan menjelaskan bahwa membangun ekosistem riset tidak bisa instan. Ia harus dimulai sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Menurutnya, pada tingkat pendidikan awal, anak-anak perlu dibiasakan dengan rasa ingin tahu dan keberanian bertanya. Nilai-nilai sederhana yang dipelajari sejak kecil seperti kejujuran, kerja sama, dan keingintahuan menjadi fondasi penting bagi lahirnya peneliti dan inovator di masa depan.

Di tingkat sekolah menengah, rasa ingin tahu tersebut dapat dikembangkan menjadi keterampilan observasi dan eksperimen sederhana. Sementara di tingkat perguruan tinggi, budaya riset kemudian terintegrasi dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Penelitian menjadi inti dari tridharma, karena dari situlah lahir inovasi yang kemudian diterapkan kepada masyarakat,” jelasnya.

Kolaborasi Universitas, Industri, dan Pemerintah

Lebih lanjut, Mirwan menekankan pentingnya kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam mengembangkan inovasi. Model kolaborasi ini dikenal sebagai konsep triple helix. Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi terapan, paten, hingga produk industri yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan strategi tersebut, riset dapat meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Menariknya, Mirwan juga menyoroti dimensi spiritual dalam kegiatan riset. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, riset dan inovasi merupakan sarana untuk mengenal kebesaran Allah melalui pengamatan terhadap alam. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

“Riset dan inovasi sebenarnya adalah sarana kita untuk mempelajari pola-pola ciptaan Allah. Dari situlah kita belajar bersyukur dan memahami kebesaran-Nya,” tuturnya.

Ia kemudian memberi contoh riset teknologi machine vision yang mampu mendeteksi kualitas produk atau kondisi tanaman melalui analisis citra digital. Teknologi tersebut meniru kemampuan manusia dalam melihat pola visual, namun tetap membutuhkan kecerdasan manusia untuk mengembangkannya.

AI Harus Menjadi Mitra, Bukan Pengganti Manusia

Dalam kesempatan tersebut, Mirwan juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Ia mengingatkan bahwa AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

“Pertanyaannya, apakah kita mau bergantung pada AI atau menjadikannya mitra tanpa kehilangan critical thinking kita sebagai manusia?” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa manusia tidak boleh kalah “manusiawi” dibandingkan mesin yang diciptakannya sendiri.

Pada akhirnya, Mirwan menegaskan bahwa riset yang ideal bukan hanya menghasilkan dampak ekonomi, tetapi juga membawa manfaat luas bagi kehidupan. Riset harus menghargai keberlanjutan lingkungan, menjaga biodiversitas, serta memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

“Riset dan inovasi tidak hanya berdampak, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran spiritual bagi kita sebagai muslim untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam,” pungkasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Tags: artificial intelligence budaya riset ekonomi berbasis pengetahuan ekosistem riset Inovasi Teknologi Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja kajian ugm Masjid Kampus UGM Maskam UGM Mirwan Ushada penelitian dan pengembangan rahmatan lil alamin Ramadan riset dan inovasi riset UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial
  • Kepala BRIN Ajak Umat Islam Bangun Mentalitas Inovator dan Pencipta Masa Depan
  • Dosen President University: Puasa Harus Mengantarkan Manusia Mengenal Allah
  • Dari Talkshow hingga Drama Teater, RDK Festival Semarakkan Setengah Abad RDK UGM
  • Diana Setyawati Ajak Mahasiswa Mengubah Cara Pandang untuk Menjaga Kesehatan Mental
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY