SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) di Masjid Kampus UGM kembali menghadirkan diskusi reflektif mengenai tantangan kehidupan modern. Pada Jumat (13/3), kajian ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., M.HSc., Ph.D., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Kepala Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM, yang membawakan tema “Merawat Kesehatan Mental di Dunia yang Dilipat.”
Dalam paparannya, Diana menjelaskan bahwa dunia modern kini berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital. Ia menyebut kondisi ini sebagai “dunia yang dilipat,” yakni dunia yang seakan berada di dalam genggaman melalui ponsel dan internet.
“Sekarang kita hidup tidak hanya di satu dunia, tetapi di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia digital,” ujarnya di hadapan jemaah Masjid Kampus UGM.
Menurutnya, perubahan ini membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan berbagai risiko bagi kesehatan mental, terutama bagi generasi muda.
Risiko Kesehatan Mental di Era Digital
Diana mengungkapkan sejumlah tantangan psikologis yang muncul akibat kehidupan digital yang serba cepat dan terkoneksi. Salah satu yang paling umum adalah kecanduan digital (digital addiction), yaitu ketergantungan pada gawai yang dapat memicu gangguan tidur, menurunnya produktivitas, hingga isolasi sosial. Ia juga menyoroti fenomena social comparison yang marak di media sosial. Menurutnya, banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan mereka, sehingga orang lain mudah merasa tertinggal atau tidak cukup baik.
“Di media sosial, orang cenderung membagikan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Padahal kita tidak melihat perjuangan atau kesulitannya,” jelasnya.
Fenomena ini sering memicu insecurity, kecemasan, hingga depresi, terutama ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Selain itu, Diana juga menyinggung beberapa masalah lain seperti cyberbullying, fear of missing out (FOMO), hingga information overload akibat banjir informasi yang terus-menerus diterima setiap hari.
“Teknologi membuat kita sangat terhubung, tetapi pada saat yang sama banyak orang justru merasa semakin kesepian. Ini yang disebut paradox of connection,” katanya.
Baca juga: Direktur Penelitian UGM Dorong Transformasi dari Ekonomi SDA ke Ekonomi Inovasi
Memahami Makna Sehat Mental
Dalam kajian tersebut, Diana menekankan bahwa kesehatan mental bukan sekadar tidak mengalami gangguan jiwa. Menurutnya, seseorang disebut sehat secara mental jika memiliki kondisi kesejahteraan psikologis yang baik.
Ia menyebutkan beberapa indikator utama kesehatan mental, di antaranya:
- Mengenali potensi dan tujuan hidup
- Mampu menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari
- Tetap produktif dalam aktivitas
- Mampu berkontribusi dan memberi manfaat bagi orang lain
“Kalau seseorang baik-baik saja tetapi tidak produktif, itu juga tanda bahwa kesehatan mentalnya belum optimal,” jelasnya.
Menurut Diana, kunci utama menjaga kesehatan mental adalah cara seseorang memandang kehidupan. Pikiran yang dimiliki seseorang sangat menentukan emosi yang ia rasakan.
“Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang kita rasakan. Jika kita berpikir negatif, emosi kita juga akan negatif,” ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa satu peristiwa yang sama bisa menimbulkan respons berbeda tergantung cara seseorang memaknainya. Karena itu, ia mendorong peserta kajian untuk belajar menempatkan kehidupan dalam perspektif yang tepat.
“Stres dan tekanan hidup adalah bagian dari kehidupan dunia. Cara kita memandangnya yang menentukan apakah kita menjadi kuat atau justru terpuruk,” jelasnya.
Perspektif Islam tentang Kehidupan
Diana juga mengajak jemaah melihat persoalan mental dari perspektif Islam. Ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, dan tempat ujian bagi manusia. Dengan memahami hakikat kehidupan tersebut, seseorang diharapkan tidak terlalu larut dalam kesedihan maupun kesombongan terhadap apa yang dimilikinya.
“Allah sudah memberi koridor yang jelas tentang kehidupan. Dengan perspektif yang tepat, kita tidak perlu merasa insecure terhadap apa yang kita lihat di dunia maya,” tuturnya.
Di akhir kajian, Diana menekankan pentingnya memaafkan sebagai salah satu cara menjaga kesehatan mental. Menurutnya, menyimpan dendam justru akan membebani diri sendiri.
“Dendam itu seperti kita meminum racun tetapi berharap musuh yang mati,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa memaafkan mungkin terasa berat pada awalnya, namun dalam jangka panjang akan membuat seseorang lebih tenang dan sehat secara emosional.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat