Pengurus Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara, Fadhlurrahman Yusuf Fardan, S.T., menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas beragama dari sekadar menjalankan ritual menjadi sebuah pandangan hidup yang menyeluruh. Materi tersebut dipaparkan dalam kajian Mimbar Subuh yang dilaksanakan selepas salat subuh berjemaah di Masjid Kampus UGM pada Ahad (8/3).
Mengangkat tema “Berislam di Akhir Zaman: Menjaga Jati Diri Umat di Era Modernitas”, Fardan menjelaskan umat Islam saat ini seringkali terjebak dalam ‘tingkatan beragama’ yang hanya bersifat lahiriah. Hal ini mencakup pelaksanaan rukun Islam seperti syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji tanpa pendalaman makna. Kondisi tersebut dinilai menjadi alasan mengapa umat mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan zaman.
Trilogi Islam, Iman, dan Ihsan
Dalam paparannya, Fardan merujuk pada hadis Jibril yang menjelaskan tiga tingkatan dalam beragama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Seseorang yang baru menjalankan syariat disebut sebagai muslim, namun belum tentu mencapai derajat mukmin karena keimanan belum tentu meresap ke dalam hati.
“Sudah semestinya sebagai seorang muslim kita berusaha untuk naik tingkat,” ujar Fardan. Ia menjelaskan bahwa tingkatan tertinggi adalah Ihsan, yaitu kondisi ketika seseorang beribadah seolah-olah melihat Allah SWT atau meyakini sepenuhnya bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya.
Fardan menekankan bahwa Islam adalah agama sempurna yang memberikan panduan dalam seluruh aspek kehidupan, baik privat maupun publik. Perbedaan cara pandang seorang muslim dengan nonmuslim dapat dilihat dari hal sederhana seperti menyikapi makanan.
Seorang muslim tidak hanya melihat kelezatan atau gizi suatu makanan, tetapi pertama kali akan mempertanyakan kehalalannya. Menurutnya, cara berpikir ini harus diterapkan pula dalam memandang ekonomi, politik, serta sains dan teknologi.
Baca juga: Mahfud MD Sentil Demokrasi Elektoral yang Rawan Politik Transaksional
Trilogi Ilmu, Iman, dan Amal
Untuk menghadapi tantangan dunia modern, Fardan menawarkan trilogi lain yaitu ilmu, iman, dan amal. Ia menilai salah satu kelemahan umat saat ini adalah mengetahui sudut pandang Islam namun tidak meyakininya sebagai kebenaran mutlak.
“Ketika kita sudah mengetahui segala sesuatu diatur dalam Islam dan kita mengimaninya, secara otomatis amal kita akan selaras dengan identitas keislaman,” jelasnya. Oleh karena itu, penguatan ilmu dan iman menjadi pondasi utama sebelum melakukan amal perbuatan.
Terdapat tiga pekerjaan rumah (PR) besar bagi umat Islam dalam menghadapi kompleksitas dunia modern. Pertama, adalah memahami atau mengilmui posisi Islam terhadap berbagai permasalahan yang ada saat ini. Kedua, umat harus memahami kondisi zaman yang lahir dari sejarah panjang dan kompleks.
Menurup kajiannya, Fardan menekankan pentingnya kemampuan menyaring budaya dan pemikiran modern. Ia mengutip pemikiran tokoh Muslim Amerika, Seyyed Hossein Nasr, yang mengibaratkan peradaban seperti sistem pencernaan manusia.
“Kita harus bisa menjadi orang yang memahami cara menyaring dan mencerna tantangan zaman ini,” pungkasnya. Melalui analogi tersebut, umat diharapkan mampu menyerap hal-hal bermanfaat dari modernitas dan membuang hal-hal yang tidak memberikan kemaslahatan.
Penulis: Indis Nizhani
Editor: Naila A. Cetta