Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2015–2020, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, M.A. menegaskan bahwa peristiwa Nuzululquran mengandung pesan besar tentang pentingnya ilmu bagi kebangkitan dan kemajuan peradaban Islam. Menurutnya, Alquran tidak hanya hadir sebagai wahyu, tetapi juga sebagai sumber nilai sekaligus inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal tersebut disampaikan Din dalam kegiatan Ramadan Public Lecture (RPL) yang digelar di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/3). Melalui pendekatan hermeneutika, ia mengajak umat Islam membaca kembali makna turunnya Alquran dalam konteks kehidupan modern.
Tiga Manifestasi Nuzulul Qur’an
Din menjelaskan bahwa peristiwa Nuzululquraan dapat dipahami melalui tiga manifestasi penting. Manifestasi pertama adalah kasih sayang Allah kepada manusia. Turunnya Alquran menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk. Karena kasih sayang-Nya, manusia dibekali hidayah sejak awal kehidupannya. Hidayah tersebut, menurut Din, hadir dalam dua bentuk. Pertama adalah hidayah internal, yang melekat dalam diri manusia berupa naluri, indra, dan akal pikiran. Kedua adalah hidayah eksternal, yaitu wahyu yang diturunkan melalui Alquran sebagai pedoman hidup manusia.
Manifestasi kedua adalah manifestasi ilmu Allah SWT. Din menjelaskan bahwa jumlah ayatr Alquran sebenarnya tidak terlalu banyak. Secara umum disebut sekitar 6.666 ayat, bahkan jika pengulangan ayat tidak dihitung jumlahnya mungkin tidak sampai lima ribu ayat. Namun ayat yang relatif sedikit itu mengandung keluasan ilmu yang sangat besar. Menurutnya, Alquran memang bukan buku ilmiah yang disusun secara sistematis. Meski demikian, di dalamnya terdapat banyak isyarat ilmiah yang mendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Manifestasi ketiga adalah ayat sebagai tanda kekuasaan Allah. Ayat-ayat Alquran tidak hanya dipahami sebagai teks, tetapi juga sebagai tanda atau bukti kebesaran Allah yang dapat dibaca melalui fenomena alam semesta.
Baca juga: Edgar Hamas Bongkar Hasbara, Senjata Israel Menguasai Opini Dunia
Ayat Qur’aniyah dan Ayat Kauniyah Tidak Bertentangan
Dalam tradisi keilmuan Islam, Din menjelaskan adanya hubungan erat antara ayat Quraniyah dan ayat Kauniyah. Ayat Quraniyah adalah wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat Kauniyah merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta.
Hubungan keduanya dapat dianalogikan sebagai mikrokosmos dan makrokosmos, yaitu hubungan antara manusia dan alam. Dari relasi inilah lahir dasar ontologis dan epistemologis bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Menurut Din, jika ilmu pengetahuan dikembangkan berdasarkan kerangka tersebut, maka tidak akan terjadi pertentangan antara wahyu dan ilmu pengetahuan.
“Kalau ada pertentangan antara ilmu dan wahyu, kemungkinan besar ada kekeliruan dalam kerangka ontologis atau epistemologinya,” tegasnya.
Pesan “Iqra”: Membaca Realitas Kehidupan
Din juga menyoroti makna wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yaitu perintah “Iqra” (bacalah). Menurutnya, perintah tersebut tidak hanya berarti membaca teks, tetapi juga membaca realitas sosial dan fenomena alam. Ia menggambarkan bagaimana Muhammad ketika berkhalwat di Gua Hira merenungkan kondisi masyarakat Arab yang saat itu terjebak dalam masa jahiliyah, ditandai oleh kebodohan, kemusyrikan, dan ketidakadilan sosial.
Ketika malaikat Jibril memerintahkan “Iqra”, Nabi menjawab “ma ana bi qari’”. Menurut sejumlah ulama, jawaban tersebut tidak sekadar berarti tidak bisa membaca tulisan, tetapi juga menggambarkan ketidaksanggupan membaca realitas kehidupan secara utuh. Karena itu, Al-Qur’an hadir untuk membimbing manusia agar mampu membaca kehidupan dengan benar.
Community of Knowledge untuk Kemajuan Peradaban Islam
Lebih jauh, Din menegaskan bahwa pesan Nuzululquran adalah mendorong umat Islam menjadi umat yang beriman sekaligus berilmu. Dalam sejarah Islam, semangat tersebut melahirkan tradisi keilmuan yang kuat, salah satunya melalui pusat ilmu Bayt al-Hikmah yang melahirkan banyak ilmuwan besar seperti Ibn Sina.
Namun saat ini, menurutnya, masih terjadi pemisahan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Di satu tempat dipelajari ayat Quraniyah, sementara di tempat lain dipelajari ayat Kauniyah. Padahal, Din menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, melainkan harus kembali menjadi produsen ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tanpa semangat intelektual tersebut, ia menilai kebangkitan peradaban Islam akan sulit terwujud. Menutup pemaparannya, Din mengingatkan pentingnya menjadikan Alquran sebagai fondasi kehidupan intelektual umat.
“Jangan hilangkan Alquran dalam pembelajaran kita sehari-hari, di kampus atau di mana pun,” pungkasnya.
Penulis: Al Hafiz P. Arif
Editor: Indra Oktafian Hidayat