Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) yang berlangsung di Masjid Kampus UGM kembali menghadirkan diskusi bernas pada Sabtu (7/3). Kali ini, Irvan Nugraha, S.H., M.M., hadir dengan tema “Gotong Royong Digital: Dari Sedekah Konvensional ke Crowdfunding Kemanusiaan”.
Irvan membuka paparannya dengan fakta membanggakan bahwa Indonesia kerap dianugerahi predikat sebagai negara paling dermawan di dunia. “Potensi zakat, infak, dan sedekah di Indonesia itu mencapai 327 triliun,” ungkapnya.
Bagi Irvan, kedermawanan ini adalah hal yang luar biasa. Ia menekankan bahwa ciri negara maju bukan hanya dilihat dari kekuatan ekonominya, melainkan juga dari kemampuan masyarakatnya menyelesaikan persoalan bersama melalui semangat gotong royong yang menjadi akar budaya kedermawanan di Indonesia.
Pentingnya Gotong Royong di Negara Rawan Bencana
Irvan menjelaskan bahwa budaya filantropi di Indonesia memiliki akar gotong royong yang jauh lebih kuat dibandingkan budaya Barat. “Tugas kami itu bagaimana menguatkan budaya dan ekosistem itu terjaga,” tegasnya. Hal ini menjadi krusial mengingat posisi geografis Indonesia yang rawan bencana alam. Dalam situasi darurat, semangat gotong royong inilah yang menjadi penyelamat pertama bagi para korban.
“Dan siapa yang paling pertama membantu masyarakat? Itu adalah masyarakat di sekitar ataupun masyarakat yang ada di situ. Dan masjid, musala, atau tempat ibadah, biasanya dijadikan pos pertama untuk merespon ketika ada bencana,” jelasnya. Dengan menjaga ekosistem kedermawanan ini, Indonesia memiliki sistem pertahanan sosial yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi berbagai krisis kemanusiaan.
Baca juga: Din Syamsuddin Ajak Umat Islam Bangun Kembali Tradisi Ilmu Pengetahuan
Empat Kesenjangan Utama
Meski potensinya besar, Irvan tidak menampik bahwa setidaknya ada 4 tantangan berupa celah, seperti:
- Gap Potensi vs Realisasi: kebocoran atensi dan preferensi kuat masyarakat untuk membayar langsung ke mustahik.
- Gap Realisasi vs Penetrasinya: ada keterbatasan organisasi filantropi dari titik sebarannya, sehingga belum menjangkau secara merata ke seluruh daerah.
- Gap Peluang Digital: donasi digital yang didominasi oleh Generasi Z tumbuh pesat, namun infrastruktur organisasi pengelola zakat masih belum mampu menyandingi.
- Gap Data dan Tata Kelola: fragmentasi data muzaki dan mustahik di seluruh stakeholder, belum ada interoperabilitas nasional.
Budaya Filantropi
“Jadi, Indonesia ini bersyukur punya budaya filantropi,” tegas beliau dilanjut dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang melatarbelakangi budaya filantropinya?”
- Motivasi Agama: sebuah kekuatan civil society yang harus dijaga dan dikuatkan. Hal tersebut telah terbukti menjadi solusi terkait permasalahan-permasalahan umat beragama.
- Budaya Gotong Royong: ketika ada sebuah musibah bencana masyarakat langsung tergerak dan ingin berkontribusi. “Ini luar biasa sekali dan harus disyukuri. Seharusnya pemerintah negara itu terus memfasilitasi ini agar lebih kuat meraih? Regulasi dan memperkuat ekosistemnya,” ujarnya.
Sebagai lembaga filantropi Islam, Rumah Zakat berkomitmen mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk program pemberdayaan berkelanjutan. Tak hanya itu, lembaga ini juga menaruh perhatian besar pada isu kebencanaan dan kemanusiaan, baik di lingkup nasional maupun internasional.
“Kami memperbarui visi di tahun 2024 menjadi lembaga filantropi global yang mewujudkan masyarakat berdaya” jelas Irvan.
Amanah yang Terjaga melalui Tata Kelola Profesional
Bisnis utama lembaga filantropi adalah kepercayaan. Irvan menekankan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan publik, semakin cepat visi dan misi lembaga dalam mewujudkan program-programnya dapat tercapai. “Tugas kami adalah menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Dan kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari masyarakat selama ini kepada rumah zakat,” tuturnya
Setidaknya ada tiga langkah strategis yang dilakukan Rumah Zakat untuk menjaga amanah tersebut. Pertama, memastikan pengelolaan dana dilakukan secara profesional melalui audit keuangan tahunan. Hingga saat ini, Rumah Zakat telah meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian selama 19 kali berturut-turut, dan hasil audit untuk tahun 2025 akan segera dipublikasikan.
Kedua, sebagai Lembaga Amil Zakat, Rumah Zakat rutin menjalani audit syariah oleh Kementerian Agama dengan predikat sangat baik dan transparan. Ketiga, penguatan tata kelola melalui sertifikasi ISO, mulai dari manajemen distribusi, pelayanan donatur, hingga sistem manajemen.
Gen Z: Garda Terdepan 2045
Menutup kajiannya, Irvan memberikan apresiasi atas dinobatkannya Rumah Zakat sebagai lembaga zakat terpopuler di kalangan Gen Z. Ia mengajak anak muda untuk terus terlibat dalam aksi kemanusiaan.
Ia menekankan bahwa keterlibatan anak muda hari ini adalah investasi bagi masa depan bangsa. “Yuk, kita lakukan aksi-aksi kebaikan bersama. Kita bikin gerakan-gerakan dan tentunya mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah kita dan mudah mudahan ini juga melatih kita untuk semakin peka peduli terhadap masyarakat dan melatih jiwa kepemimpinan kita. Mudah-mudahan itu menjadi bekal kita di masa depan karena kami tahu 2045 ini adalah teman teman Gen Z lah yang akan menjadi garda terdepan memajukan Indonesia,” pungkasnya dengan penuh semangat.
Penulis: Nadia P. Ashira
Editor: Naila A. Cetta