• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Guru Besar FMIPA UGM Sebut UKM Jama’ah Shalahuddin Lebih Strategis daripada Ruang Kelas dalam Pembentukan Karakter

Guru Besar FMIPA UGM Sebut UKM Jama’ah Shalahuddin Lebih Strategis daripada Ruang Kelas dalam Pembentukan Karakter

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 22 Februari 2026, 22.11
  • Oleh: aldifirmansyah
  • 0

Di tengah tantangan degradasi moral dan kompleksitas sosial modern, pendidikan karakter kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum formal, melainkan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Guru Besar FMIPA Bidang Kimia, Prof. Dr. Chairil Anwar, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter di Indonesia sangat bergantung pada integrasi antara nilai religius, keteladanan nyata, dan praktik sosial yang konsisten di luar kelas. 

Di hadapan jemaah tarawih, Chairil Anwar menekankan bahwa model pendidikan karakter terbaik adalah  kesalehan akhlak yang dimiliki Rasulullah Muhammad Saw.  Merujuk pada  HR. Al-Baihaqi, ia mengingatkan bahwa bahwa misi utama diutusnya Rasulullah tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Menurutnya, karena akhlak merupakan manifestasi perilaku, maka pembetukannya tidak dapat direduksi dalam sekat akademik atau hitungan SKS semata. “Karakter tidak dibentuk melalui ceramah semata, tetapi melalui praktik keseharian, keteladanan, dan kebiasaan yang terus diulang dalam ruang sosial,” ungkapnya dalam Ramadan Public Lecture (RPL) yang diselenggarakan oleh Panitia Ramadhan di Kampus (RDK), Jumat malam (20/2).

Lebih lanjut, Chairil Anwar memparkan bahwa institusi keagamaan memiliki peran sentral dalam transformasi ini.  Menurutnya, masjid, khususnya Masjid Kampus UGM tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan pilar kemajuan bangsa.

Jamaah Shalahuddin sebagai Ruang Praktik Karakter

Dalam konteks kampus, Chairil Anwar melihat Lembaga Dakwah Kampus UGM, Jama’ah Shalahuddin (JS), hadir sebagai ruang pembelajaran karakter yang hidup dan terus tumbuh. Sejak berdiri sekitar lima dekade lalu, organisasi ini membawa misi utama dakwah Islam di kampus, bahkan ketika kondisi sosial dan struktural pada masa awal pendiriannya belum sepenuhnya mendukung.

Salah satu nilai karakter yang ditekankan adalah istikamah. Dalam konteks JS, nilai ini tumbuh melalui kebersamaan dalam aktivitas dakwah, pengabdian, dan perjuangan yang dijalani bersama. “Pendidikan karakter tersebut tidak berlangsung kaku seperti di kelas, tetapi melalui proses hidup bersama, berpikir bersama, bekerja bersama, dan berjuang bersama di jalan Allah Swt,” ungkapnya.

Nilai lain yang ditekankan adalah amanah. Dalam kondisi keterbatasan dukungan pendanaan, aktivitas dakwah menuntut kejujuran dan tanggung jawab tinggi dalam mengelola kepercayaan publik. “Amanah menjadi nilai yang semakin mahal di tengah realitas sosial hari ini, ketika penyalahgunaan kepercayaan dan korupsi masih menjadi persoalan serius,” ujarnya.

Selain itu, nilai tablig atau menyampaikan kebenaran juga menjadi bagian penting dari pembentukan karakter. Dakwah tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa UGM, tetapi melibatkan jejaring lintas kampus di Yogyakarta. Proses ini menjadi latihan kepemimpinan sekaligus pembentukan karakter sosial yang tidak didapatkan di ruang kelas formal.

Foto bersama pada RPL, Kamis (20/2)

Dengan Akhlak Yang Baik, Islam Bisa Memimpin Dunia

Chairil Anwar menegaskan bahwa akhlaqul karimah memiliki daya transformatif yang melampaui batas geografis dan kultural. Dengan karakter yang kuat, Islam dapat tampil sebagai kekuatan moral yang mampu memimpin dan diterima di berbagai konteks sosial.

Ia mencontohkan dinamika kepemimpinan di London yang dipimpin oleh Sadiq Aman Khan, seorang Muslim yang merupakan anak dari imigran Pakistan dengan ayah berprofesi sebagai sopir. Hal serupa juga terlihat di New York, melalui sosok Zohran Mamdani, anak imigran India yang mampu tampil dan diterima dalam panggung politik kota tersebut.

Dalam konteks ini, Chairil Anwar menegaskan bahwa di tengah masyarakat multikultural, nilai-nilai karakter menjadi kunci utama. Akhlaqul karimah memungkinkan individu Muslim—termasuk mereka yang berasal dari kelompok minoritas dan latar belakang imigran—memperoleh kepercayaan publik dan memikul amanah kepemimpinan. Dengan demikian, akhlak yang baik tidak berhenti sebagai identitas keagamaan, tetapi menjelma sebagai modal sosial.

Modal Besar Bangsa Indonesia

Untuk menguatkan argumennya, Chairil Anwar menegaskan bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki modal karakter yang sangat besar. Ia merujuk pada dua kajian internasional yang menunjukkan kuatnya fondasi kebahagiaan dan relasi sosial masyarakat Indonesia.

Pertama, flourishing study (kajian lintas negara tentang kesejahteraan manusia) yang dilakukan oleh Harvard University menunjukkan bahwa pada 2025 Indonesia menempati peringkat pertama indeks kebahagiaan sosial dengan skor 8,47 dari 10, melampaui banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang. Kedua, berdasarkan World Giving Index, Indonesia pada periode 2021–2024 konsisten berada di posisi teratas dalam praktik donasi, kerelawanan, dan kepedulian terhadap orang asing.

Merujuk pada temuan tersebut, Chairil Anwar mengajak jamaah untuk merefleksikan bahwa kekokohan sebuah bangsa tidak semata diukur dari aspek material atau tingkat pendapatan. Kebahagiaan justru bertumbuh dari makna hidup, kualitas relasi sosial, serta karakter kebersamaan yang mengakar dalam masyarakat. “Budaya gotong royong dan kedermawanan merupakan modal sosial yang berharga dan perlu terus dirawat sebagai fondasi kemajuan Indonesia ke depan,” pungkasnya. 

Merawat Karakter dari Ruang Sehari-hari

Menutup pemaparannya, Chairil Anwar mengajak jamaah untuk tidak menyia-nyiakan modal besar karakter bangsa. Ia menekankan pentingnya merawat dan menguatkan nilai-nilai tersebut melalui praktik keseharian, terutama di ruang-ruang keagamaan seperti masjid.

Aktivitas Ramadan, mulai dari penyediaan konsumsi hingga pengelolaan kegiatan keumatan, menjadi contoh konkret bagaimana karakter dibentuk melalui tindakan nyata. Melalui proses inilah pendidikan karakter tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dan diwariskan.

Penulis: Al Hafiz P. Arif

Editor: Naila A. Cetta, Aldi Firmansyah, & Indra Oktafian Hidayat

Tags: akhlakul karimah jama'ah shalahuddin Keteladanan Rasulullah pendidikan karakter Prof. Chairil Anwar rdk ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Adiwarman Karim Soroti Ekonomi Inklusif dan Pentingnya Ikhtiar dalam Mengubah Nasib
  • Dosen Fakultas Psikologi UGM Sebut Puasa Turunkan Stres dan Lindungi Otak dari Brainrot
  • Guru Besar FMIPA UGM Sebut UKM Jama’ah Shalahuddin Lebih Strategis daripada Ruang Kelas dalam Pembentukan Karakter
  • Mantan Rektor UGM Panut Mulyono Ingatkan Peran Penting Pendidikan sebagai Pilar Kemajuan Bangsa
  • Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Soroti Fondasi Sekular dalam Konsep HAM Modern
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY