• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Diskusi Paradigma Profetik
  • Guru Besar Teknik Nuklir FT UGM: Energi Nuklir Bisa Menyelamatkan Bumi atau Justru Mewariskan Masalah bagi Anak Cucu

Guru Besar Teknik Nuklir FT UGM: Energi Nuklir Bisa Menyelamatkan Bumi atau Justru Mewariskan Masalah bagi Anak Cucu

  • Diskusi Paradigma Profetik
  • 25 Januari 2026, 09.26
  • Oleh: Alkansa Fauziyyah
  • 0

Isu energi tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi telah menjadi persoalan moral dan peradaban. Hal itu dijelaskan dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama Seri Studi Energi bertajuk “Strategi Pengembangan Sistem Energi Nuklir di Indonesia dalam Perspektif Islam” yang diselenggarakan pada Rabu (21/1) via Zoom Meeting.

Guru Besar Teknologi Reaktor Maju Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Andang Widi Harto, M.T., IPU, ASEAN Eng., menjelaskan bahwa manusia dalam Islam diposisikan sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi yang memikul tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.

“Manusia oleh Allah dijadikan sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk mengatur dan mengelola alam ini dengan pengetahuan, kearifan, dan tujuan kebaikan,” ujar Prof. Andang saat memaparkan dasar teologis pengelolaan energi.

Menurutnya, krisis iklim global tidak dapat dilepaskan dari dominasi energi fosil yang masih menjadi tulang punggung dunia. Emisi karbon dari batu bara, minyak, dan gas telah memicu kenaikan suhu bumi secara signifikan dan mengancam keberlanjutan pertanian serta ketahanan pangan.

Baca juga: Rangga Almahendra: Bisnis Keluarga Tidak Cukup dengan Passion

“Sejak revolusi industri, kadar CO₂ di atmosfer terus meningkat dan suhu bumi sudah naik sekitar satu setengah derajat Celsius. Angka ini terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi ekosistem dan peradaban manusia,” jelasnya.

Dalam konteks transisi energi, Andang menilai nuklir memiliki potensi besar sebagai sumber energi rendah emisi yang stabil. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi ini juga membawa risiko serius, terutama terkait keselamatan reaktor dan pengelolaan limbah radioaktif jangka panjang.

Ia menegaskan, pengembangan energi nuklir harus sejalan dengan prinsip syariat, terutama larangan menimbulkan bahaya. “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan. Prinsip ini harus menjadi dasar dalam setiap pengembangan teknologi energi, termasuk nuklir,” katanya.

Lebih jauh, Andang menyoroti persoalan keadilan antar generasi. Limbah radioaktif dari reaktor konvensional dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun. Jika tidak dikelola dengan teknologi yang tepat, generasi mendatang berisiko menanggung beban dari pilihan energi hari ini.

“Kalau kita menikmati listrik sekarang tetapi mewariskan limbah berbahaya kepada anak cucu sampai ribuan tahun, itu jelas tidak adil,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong pengembangan teknologi reaktor generasi lanjut dengan sistem close cycle agar limbah berumur panjang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Langkah ini dinilai lebih sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan dalam Islam.

Selain aspek teknologi, webinar ini juga menyinggung pentingnya pengendalian kebutuhan. Konsep qana’ah (merasa cukup)dipandang relevan dalam menata pola konsumsi energi agar tidak terjebak pada eksploitasi tanpa batas.

Energi nuklir, pada akhirnya, bukan solusi tunggal bagi krisis energi. Namun, dengan ilmu, etika, dan kesadaran sebagai khalifah, teknologi ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi. Hal ini dikarenakan masa depan bumi bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya. (Alkansa Fauziyah / Editor: Indra Oktafian Hidayat )

Tags: diskursus energi Islam energi berkelanjutan energi dan moral energi nuklir energi ramah lingkungan energi untuk generasi masa depan etika energi ilmu dan agama Khalifah di Bumi krisis energi masa depan energi Indonesia Masjid Kampus UGM net zero emission perspektif Islam perubahan iklim Prof Andang Widiharto qanaah dan energi Tanggung Jawab Manusia teknologi nuklir

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Pakar Hukum UGM Bedah Klaim Self-Defense Israel dalam Hukum Internasional
  • Guru Besar FEB UGM Soroti Efisiensi Anggaran Pendidikan Rawan Picu Disparitas Antarwilayah
  • Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan
  • Direktur Haltech 3D Indonesia Ingatkan Bahaya Degradasi Kognitif di Era AI
  • Pakar Geopolitik UGM Menegaskan Keberpihakan pada Iran sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Kezaliman
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY