Isu energi tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi telah menjadi persoalan moral dan peradaban. Hal itu dijelaskan dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama Seri Studi Energi bertajuk “Strategi Pengembangan Sistem Energi Nuklir di Indonesia dalam Perspektif Islam” yang diselenggarakan pada Rabu (21/1) via Zoom Meeting.
Guru Besar Teknologi Reaktor Maju Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Andang Widi Harto, M.T., IPU, ASEAN Eng., menjelaskan bahwa manusia dalam Islam diposisikan sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi yang memikul tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
“Manusia oleh Allah dijadikan sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk mengatur dan mengelola alam ini dengan pengetahuan, kearifan, dan tujuan kebaikan,” ujar Prof. Andang saat memaparkan dasar teologis pengelolaan energi.
Menurutnya, krisis iklim global tidak dapat dilepaskan dari dominasi energi fosil yang masih menjadi tulang punggung dunia. Emisi karbon dari batu bara, minyak, dan gas telah memicu kenaikan suhu bumi secara signifikan dan mengancam keberlanjutan pertanian serta ketahanan pangan.
Baca juga: Rangga Almahendra: Bisnis Keluarga Tidak Cukup dengan Passion
“Sejak revolusi industri, kadar CO₂ di atmosfer terus meningkat dan suhu bumi sudah naik sekitar satu setengah derajat Celsius. Angka ini terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi ekosistem dan peradaban manusia,” jelasnya.
Dalam konteks transisi energi, Andang menilai nuklir memiliki potensi besar sebagai sumber energi rendah emisi yang stabil. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi ini juga membawa risiko serius, terutama terkait keselamatan reaktor dan pengelolaan limbah radioaktif jangka panjang.
Ia menegaskan, pengembangan energi nuklir harus sejalan dengan prinsip syariat, terutama larangan menimbulkan bahaya. “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan. Prinsip ini harus menjadi dasar dalam setiap pengembangan teknologi energi, termasuk nuklir,” katanya.
Lebih jauh, Andang menyoroti persoalan keadilan antar generasi. Limbah radioaktif dari reaktor konvensional dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun. Jika tidak dikelola dengan teknologi yang tepat, generasi mendatang berisiko menanggung beban dari pilihan energi hari ini.
“Kalau kita menikmati listrik sekarang tetapi mewariskan limbah berbahaya kepada anak cucu sampai ribuan tahun, itu jelas tidak adil,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong pengembangan teknologi reaktor generasi lanjut dengan sistem close cycle agar limbah berumur panjang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Langkah ini dinilai lebih sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan dalam Islam.
Selain aspek teknologi, webinar ini juga menyinggung pentingnya pengendalian kebutuhan. Konsep qana’ah (merasa cukup)dipandang relevan dalam menata pola konsumsi energi agar tidak terjebak pada eksploitasi tanpa batas.
Energi nuklir, pada akhirnya, bukan solusi tunggal bagi krisis energi. Namun, dengan ilmu, etika, dan kesadaran sebagai khalifah, teknologi ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi. Hal ini dikarenakan masa depan bumi bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya. (Alkansa Fauziyah / Editor: Indra Oktafian Hidayat )