• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khutbah
  • Dosen FIB UGM: Ilmu Tanpa Etika Hanya Akan Melahirkan Keserakahan

Dosen FIB UGM: Ilmu Tanpa Etika Hanya Akan Melahirkan Keserakahan

  • Tulisan dan Khutbah
  • 4 Januari 2026, 20.55
  • Oleh: safitriingka
  • 0

Topik “Sejarah Ulama sebagai Inspirasi Kehidupan Modern” disampaikan oleh Dr. Imam Wicaksono, Lc., M.A., dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dalam khotbah Jumat pada Jumat (2/1). Pada kesempatan tersebut, beliau mengajak jemaah untuk kembali menengok teladan besar dalam Islam sekaligus merefleksikannya dengan realitas kehidupan masa kini.

Imam membuka khotbah dengan menggambarkan kondisi zaman modern yang dipenuhi oleh berbagai tokoh berpengaruh. Namun, menurut beliau, sebagian besar figur tersebut umumnya hanya menonjol pada satu bidang tertentu. Hal ini berbeda dengan sosok Nabi Muhammad ﷺ yang menjadi figur teladan utama umat Islam. Rasulullah ﷺ merupakan teladan yang utuh, mulai dari kepemimpinan terhadap diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat. Lebih dari itu, Nabi Muhammad ﷺ diutus dengan risalah yang bersifat universal, tidak terbatas bagi bangsa Arab semata, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Jika dikaitkan dengan konteks hari ini, Imam menyinggung fenomena banyaknya figur publik yang membuat konten demi mengejar popularitas dan jumlah pengikut. Rasulullah tidak hidup dengan tujuan tersebut, namun justru seluruh aspek kehidupannya dicatat, diteliti, dan diverifikasi secara sangat ketat. Riwayat tentang beliau diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dengan standar validasi yang tinggi, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam sejatinya telah memiliki teladan terbaik, di mana setiap sisi kehidupannya mengandung nilai kebaikan dan manfaat.

Di tengah-tengah khotbah tersebut, Imam juga mengajak jamaah untuk terus mengingatkan diri sendiri agar meningkatkan ketakwaan. Takwa, menurut beliau, bukan sekadar pengakuan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perbuatan. Takwa memiliki dua unsur utama, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Beliau menegaskan bahwa sikap setengah-setengah dalam beragama tidak bisa disebut sebagai takwa. Misalnya, membangun masjid yang megah namun di sisi lain mengambil hak orang lain. Jika seseorang mengaku sebagai golongan muttaqin, maka ia harus tegas dalam menaati perintah Allah sekaligus tegas dalam meninggalkan laranganNya.

Baca juga: Mengawal Kesehatan Keluarga dari Rumah, Hanggoro Tekankan Pentingnya Pencegahan Kanker Sejak Dini

Imam kemudian menyinggung pidato kemenangan Wali Kota New York yang baru, Zahran, sebagai Muslim pertama yang menjabat posisi tersebut. Dari peristiwa ini, beliau menyampaikan harapan agar umat Islam dapat kembali menyaksikan kebangkitan peradaban Islam sebagaimana pada masa keemasan sekitar 700 tahun pertama Hijriah. Harapan tersebut bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan dorongan untuk meniru cara hidup dan cara berpikir para ulama di masa itu.

Menurut Imam, ada dua indikator utama yang menandai melemahnya peradaban Islam. Pertama, terputusnya etika dari ilmu. Ketika ilmu dilepaskan dari nilai moral, orientasi kemanusiaan akan hilang dan ilmu hanya menjadi alat untuk memenuhi kepentingan dan keserakahan. Akibatnya, meskipun banyak orang pintar, kepercayaan publik justru semakin menurun. Kedua, ilmu yang tunduk pada kepentingan tertentu. Ketika ilmu tidak lagi merdeka, yang muncul adalah eksploitasi berlebihan dan hilangnya keseimbangan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, mempelajari sejarah ulama bukan berarti sekadar bernostalgia atau membaca kisah masa lalu. Lebih dari itu, sejarah ulama mengajarkan bagaimana ilmu seharusnya dikelola agar tetap membawa manfaat dan tidak merusak manusia. Ulama merupakan tiang penyangga keilmuan dan pewaris para nabi. Sejak nabi pertama hingga nabi terakhir, risalah yang dibawa selalu berkaitan dengan ilmu. Karena itu, peran ulama tidak hanya sebagai akademisi dengan kecerdasan intelektual tinggi, tetapi juga sebagai teladan akhlak dan pembawa misi koreksi peradaban.

Lebih jauh, Imam juga menyoroti beberapa pelajaran penting dari kehidupan para ulama. Salah satunya adalah kesungguhan dalam menuntut ilmu. Di masa lalu, para ulama menghadapi banyak keterbatasan dan rintangan untuk menghasilkan karya-karya besar. Beliau mencontohkan Imam Bukhari yang pernah diuji dengan divonis kebutaan. Namun, berkat keteguhan dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu, Allah mengembalikan penglihatannya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kemudahan akses ilmu di masa kini seharusnya mendorong umat Islam untuk menghasilkan karya yang lebih baik, bukan justru menurunkan kualitas diri.

Pelajaran berikutnya adalah pentingnya menjaga integritas sumber informasi. Imam Bukhari dikenal sangat selektif dalam menerima hadis, bahkan menolak riwayat dari perawi yang tidak jujur dalam hal kecil sekalipun. Sikap ini relevan dengan kondisi saat ini, ketika arus informasi di media sosial mengalir tanpa henti. Umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, menelusuri sumber informasi, dan tidak serta-merta menganggap sesuatu yang viral sebagai kebenaran.

Selain itu, para ulama juga sangat menjaga kemurnian ilmu. Imam Bukhari menolak ilmu yang digunakan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan tertentu karena beliau tidak ingin merendahkan martabat ilmu. Dari sini terlihat bahwa ulama memiliki integritas akademik yang tinggi. Mereka menjaga otonomi keilmuan meskipun sering kali harus menghadapi risiko sosial dan tekanan dari berbagai pihak.

Melalui khutbah Jumat ini, jamaah diajak untuk melihat bahwa kesederhanaan, integritas, dan keteguhan para ulama bukanlah nilai usang. Justru nilai-nilai inilah yang relevan untuk menjawab tantangan kehidupan modern. Sejarah ulama menjadi cermin bagi umat Islam agar ilmu, etika, dan ketakwaan dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban yang lebih beradab.

Tags: Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja Masjid Kampus UGM Maskam UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Dosen FIB UGM: Ilmu Tanpa Etika Hanya Akan Melahirkan Keserakahan
  • Mengawal Kesehatan Keluarga dari Rumah, Hanggoro Tekankan Pentingnya Pencegahan Kanker Sejak Dini
  • Arqom Kuswanjono Soroti Makna Muhasabah Spiritual dan Sosial
  • Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM: Iman Menjadi Penjaga dari Rasa Sedih dan Takut
  • Guru Besar FISIPOL UGM Kritisi Sistem Pemerintahan Desa yang Jauh dari Keadilan
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY