• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ibadah dan Kajian Islam
  • Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga: Rebut Kembali Kedaulatan Otak, Jangan Biarkan Teknologi Jadi Tuan!

Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga: Rebut Kembali Kedaulatan Otak, Jangan Biarkan Teknologi Jadi Tuan!

  • Ibadah dan Kajian Islam
  • 21 November 2025, 10.31
  • Oleh: isamaliki2004
  • 0
h

Masjid Kampus UGM kembali dipadati jamaah dalam Kajian Kamis Sore yang mengangkat tema relevan dan provokatif, “Peran Agama & Filsafat Islam di Era Akal Imitasi (AI).” Digelar pada Kamis, 20 November 2025, kajian ini menghadirkan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum.

Dalam suasana sore yang khidmat, Robby membuka wawasan jamaah dengan sebuah analogi menohok tentang mitologi Yunani Kuno, Narcissus, yang mati karena jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air.

“Siapa sesungguhnya Narcissus itu hari ini? Narcissus adalah kita hari ini. Sungainya apa? Sungai digital,” ujar Robby di hadapan jamaah. Ia menekankan bahwa banyak manusia modern kini tenggelam dalam obsesi kesempurnaan persona digital, melupakan realitas, hingga terjebak dalam arus teknologi yang seharusnya mereka kendalikan.

Baca juga: Fatma Amalia Ulas Dampak Hukum Perkawinan Tanpa Akta terhadap Harta dan Nasab

Agama dan Filsafat: Saudara Sepersusuan

Sebelum membedah fenomena AI, Robby meluruskan pandangan mengenai hubungan agama dan akal. Mengutip Ibnu Rusyd (Averroes), beliau menegaskan bahwa filsafat dan agama tidaklah bertentangan.

“Filsafat atau hikmah itu sebenarnya pendampingnya syariat atau agama dan saudara sepersusuannya. Keduanya bersahabat secara alami dan saling mencintai secara esensi,” jelasnya.

Beliau juga memaparkan pandangan Al-Jurjani dan Al-Farabi, di mana agama didefinisikan sebagai ketetapan Ilahi yang membimbing orang-orang berakal sehat. Tanpa bimbingan wahyu dan akal yang sehat, manusia rentan tersesat, bahkan dalam penggunaan teknologi sekalipun.

Bahaya “Alone Together” dan Hilangnya Gema Jiwa

Dalam pemaparannya, Robby menyoroti dampak psikologis dan sosial dari ketergantungan gawai, mulai dari doomscrolling (kecanduan berita negatif), FOMO (takut ketinggalan tren), hingga phubbing (mengabaikan orang di depan mata demi HP).

Mengutip sosiolog Sherry Turkle, beliau menyebut fenomena ini sebagai Alone Together, bersama tapi kesepian. “Kelihatannya boncengan, begitu lampu merah, yang depan ngambil HP, yang belakang pegang HP. Dua-duanya nggak nyambung,” sindirnya.

Lebih dalam lagi, beliau mengingatkan bahwa secerdas apapun AI, ia tidak memiliki jiwa. Interaksi dengan mesin bersifat transaksional, sedangkan interaksi antarmanusia bersifat transformasional.

“Meskipun AI dan robot bisa menggantikan tenaga dan logika, tapi sama sekali tidak bisa menggantikan gema jiwa kita,” tegas Robby.

Menjaga Kedaulatan Otak di Atas AI

Tantangan terbesar di era ini, menurut Robby, adalah AI Detachment atau menjaga jarak dengan kecerdasan buatan untuk mempertahankan kedaulatan otak manusia. Beliau memperingatkan tentang bahaya teknologi otonom, mulai dari robot mata-mata seukuran serangga hingga senjata berbasis AI yang mampu memilih target sendiri.

Beliau mengutip peringatan Douglas Rushkoff: “Jika Anda tidak mengendalikan teknologi, teknologi yang akan mengendalikan Anda”.

Sebagai penutup, Robby mengajak jamaah untuk tidak memusuhi teknologi, melainkan menjaga nalar kritis. Teknologi harus tetap menjadi pelayan manusia, bukan tuan yang menyita seluruh waktu kehidupan.

“Kita harus meyakinkan diri kita bahwa teknologilah yang harus melayani kita, jangan sebaliknya. Tugas utama kita adalah memanfaatkannya sebaik mungkin di jalan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia,” pungkasnya.

Post Views: 2
Tags: Artificial Inteligence Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kecerdasan Buatan Maskam UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Pasar Global Bergejolak, Ekonom UGM Ungkap Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi Indonesia
  • Guru Besar FT UGM Angkat Peran Hilirisasi Industri dalam Menjawab Gejolak Global
  • Jangan Salah Kaprah! Ini Bedanya Cinta dan Syahwat Menurut Fauzil Adhim
  • Dosen Fakultas Teknik UGM Tekankan “Perniagaan dengan Allah” melalui Tiga Amalan Utama
  • Pakar Hukum UGM Bedah Klaim Self-Defense Israel dalam Hukum Internasional
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY