Masjid Kampus UGM kembali dipadati jamaah dalam Kajian Kamis Sore yang mengangkat tema relevan dan provokatif, “Peran Agama & Filsafat Islam di Era Akal Imitasi (AI).” Digelar pada Kamis, 20 November 2025, kajian ini menghadirkan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum.
Dalam suasana sore yang khidmat, Robby membuka wawasan jamaah dengan sebuah analogi menohok tentang mitologi Yunani Kuno, Narcissus, yang mati karena jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air.
“Siapa sesungguhnya Narcissus itu hari ini? Narcissus adalah kita hari ini. Sungainya apa? Sungai digital,” ujar Robby di hadapan jamaah. Ia menekankan bahwa banyak manusia modern kini tenggelam dalam obsesi kesempurnaan persona digital, melupakan realitas, hingga terjebak dalam arus teknologi yang seharusnya mereka kendalikan.
Baca juga: Fatma Amalia Ulas Dampak Hukum Perkawinan Tanpa Akta terhadap Harta dan Nasab
Agama dan Filsafat: Saudara Sepersusuan
Sebelum membedah fenomena AI, Robby meluruskan pandangan mengenai hubungan agama dan akal. Mengutip Ibnu Rusyd (Averroes), beliau menegaskan bahwa filsafat dan agama tidaklah bertentangan.
“Filsafat atau hikmah itu sebenarnya pendampingnya syariat atau agama dan saudara sepersusuannya. Keduanya bersahabat secara alami dan saling mencintai secara esensi,” jelasnya.
Beliau juga memaparkan pandangan Al-Jurjani dan Al-Farabi, di mana agama didefinisikan sebagai ketetapan Ilahi yang membimbing orang-orang berakal sehat. Tanpa bimbingan wahyu dan akal yang sehat, manusia rentan tersesat, bahkan dalam penggunaan teknologi sekalipun.
Bahaya “Alone Together” dan Hilangnya Gema Jiwa
Dalam pemaparannya, Robby menyoroti dampak psikologis dan sosial dari ketergantungan gawai, mulai dari doomscrolling (kecanduan berita negatif), FOMO (takut ketinggalan tren), hingga phubbing (mengabaikan orang di depan mata demi HP).
Mengutip sosiolog Sherry Turkle, beliau menyebut fenomena ini sebagai Alone Together, bersama tapi kesepian. “Kelihatannya boncengan, begitu lampu merah, yang depan ngambil HP, yang belakang pegang HP. Dua-duanya nggak nyambung,” sindirnya.
Lebih dalam lagi, beliau mengingatkan bahwa secerdas apapun AI, ia tidak memiliki jiwa. Interaksi dengan mesin bersifat transaksional, sedangkan interaksi antarmanusia bersifat transformasional.
“Meskipun AI dan robot bisa menggantikan tenaga dan logika, tapi sama sekali tidak bisa menggantikan gema jiwa kita,” tegas Robby.
Menjaga Kedaulatan Otak di Atas AI
Tantangan terbesar di era ini, menurut Robby, adalah AI Detachment atau menjaga jarak dengan kecerdasan buatan untuk mempertahankan kedaulatan otak manusia. Beliau memperingatkan tentang bahaya teknologi otonom, mulai dari robot mata-mata seukuran serangga hingga senjata berbasis AI yang mampu memilih target sendiri.
Beliau mengutip peringatan Douglas Rushkoff: “Jika Anda tidak mengendalikan teknologi, teknologi yang akan mengendalikan Anda”.
Sebagai penutup, Robby mengajak jamaah untuk tidak memusuhi teknologi, melainkan menjaga nalar kritis. Teknologi harus tetap menjadi pelayan manusia, bukan tuan yang menyita seluruh waktu kehidupan.
“Kita harus meyakinkan diri kita bahwa teknologilah yang harus melayani kita, jangan sebaliknya. Tugas utama kita adalah memanfaatkannya sebaik mungkin di jalan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia,” pungkasnya.