Persoalan melemahnya solidaritas umat Islam di era modern tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan internal yang belum terselesaikan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Imam Wicaksono, Lc., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, dalam kajian Mimbar Subuh di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/3). Dalam ceramah bertajuk “Praktik Nilai Spiritual Sosial dalam Tafsir Keislaman pada Era Modern”, Imam mengajak umat Islam untuk melakukan refleksi kritis terhadap kondisi umat saat ini sebagai langkah awal menuju perbaikan.
Maskam UGM
Wakil Presiden RI periode 2004–2009 dan 2014–2019, Dr. (H.C.) Drs. Muhammad Jusuf Kalla, menghadiri Ramadan Public Lecture (RPL) sebagai pembicara pada Kamis (5/3) di Masjid Kampus UGM. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar” di hadapan jemaah salat Isya dan Tarawih.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adinegara, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil. Hal tersebut ia sampaikan dalam public lecture Ramadan di Masjid Kampus UGM di hadapan jamaah salat tarawih dan mahasiswa.
Menurut Bima, berbagai program ekonomi berskala besar sering kali tidak benar-benar menjejak pada realitas ekonomi rakyat. Akibatnya, pelaku usaha kecil seperti pedagang pasar dan warung tidak merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut.
RDK UGM kembali menggelar Ramadan Public Lecture (RPL) pada Sabtu (28/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung selepas salat isya ini menghadirkan dosen Hubungan Internasional FISIP UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D., dengan tema “Jalan Panjang Perdamaian: Hubungan Multilateral dan Peran Strategis Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia.”
Dalam paparannya, Shofwanmengajak jemaah melihat dinamika konflik global melalui perspektif sejarah dan politik internasional. Ia menekankan bahwa berbagai gejolak dunia hari ini tidak dapat dilepaskan dari perebutan pengaruh global serta upaya sebagian kekuatan besar membentuk ulang tatanan internasional.
Mengapa hukum di Indonesia sering terasa hadir secara formal tetapi gagal menyelesaikan persoalan masyarakat? Pertanyaan ini menjadi kegelisahan publik ketika berbagai regulasi terus dibuat, namun problem sosial dan ketidakadilan tetap bermunculan.
Menjawab kegelisahan tersebut, program SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) menghadirkan Guru Besar Fakultas Hukum UGM, Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M. sebagai pembicara dalam kajian yang digelar di Masjid Kampus UGM, Sabtu (28/2). Kajian yang dimoderatori Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, ini berlangsung selepas salat Asar dan diikuti ratusan jemaah.
Dalam pemaparannya, akademisi yang akrab disapa Uceng itu menyoroti hubungan erat antara hukum dan moralitas serta dampaknya terhadap kualitas penegakan hukum di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, S.Ag., M.Ag. menegaskan bahwa keberagaman merupakan fondasi utama dalam membangun manusia Indonesia yang inklusif dan harmonis. Hal ini ia sampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Jumat (27/2).
Dalam pemaparannya, Zuly menjelaskan bahwa pluralitas Indonesia, baik dari sisi agama, etnis, kelas sosial, maupun ekspresi sosial adalah sunatullah yang tidak dapat diingkari. Upaya menyeragamkan masyarakat dalam satu identitas tunggal justru bertentangan dengan prinsip penciptaan yang telah digariskan Allah dalam Alquran, khususnya Surah Al-Hujurat.
“Kalau Allah menghendaki manusia seragam, tentu tidak diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Perbedaan itu untuk saling mengenal dan saling menolong,” ujarnya.
RDK UGM kembali menggelar Ramadan Public Lecture pada Selasa (17/2) malam menjelang pelaksanaan salat tarawih. Mengangkat tema “Socio-Spiritual Movement: Masjid sebagai Pondasi Kohesi Sosial di Indonesia”, kajian ini menghadirkan Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Dr. Mohamad Yusuf, M.A., sebagai narasumber sekaligus membuka rangkaian acara Ramadan.
Dalam pemaparannya, Yusuf menyoroti fenomena penyempitan makna masjid di kalangan masyarakat. Seringkali, masjid hanya dipandang sebagai lokasi pelaksanaan ibadah mahdah semata, seperti salat dan zikir. Padahal, di tengah keragaman masyarakat yang rentan memicu gesekan sosial, masjid sejatinya memiliki peran vital sebagai media perekat umat (kohesi sosial) sekaligus pusat pembangunan peradaban.
Khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Kampus UGM pada Jumat (13/2), mengangkat tema “Ramadan yang Berkah dalam Perspektif Waktu: Perjalanan Manusia Menuju Surga”. Dalam penyampaiannya, Agung mengajak jemaah memaknai kehidupan sebagai perjalanan panjang yang terus berlanjut menuju keselamatan hakiki, serta menempatkan Ramadan sebagai momentum penting untuk memperbaiki arah perjalanan tersebut.
Pada bagian awal khotbah, Ia menegaskan bahwa kehidupan manusia berjalan terus tanpa terputus hingga datangnya kematian. “Perjalanan manusia itu adalah perjalanan yang sifatnya continue. Tidak ada perjalanan manusia yang sifatnya discontinue. Ketika perjalanan itu terhenti, maka selesailah sudah,” ujarnya. Kematian disebut sebagai batas berhentinya amal, namun selama hidup manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah kebaikan.
Puasa di bulan Ramadan tidak semata dimaknai sebagai praktik menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai mekanisme pembentukan manusia secara utuh, meliputi aspek fisik, mental, dan spiritual. Hal tersebut disampaikan Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD-KGer, FINASIM, S.E., M.M., AIFO-K, Dokter sekaligus Dosen Departemen Penyakit Dalam FK-KMK UGM, dalam Kajian Pra-Ramadan yang digelar di Masjid Kampus UGM, Kamis (5/2).
Dalam kajian bertajuk “Ramadan dan Kesehatan Holistik: Menjaga Keseimbangan Fisik, Mental, dan Spiritual” itu, Probosuseno menegaskan bahwa puasa merupakan instrumen ilahiah yang dirancang untuk memulihkan manusia dari berbagai persoalan mendasar kehidupan. Pemulihan tersebut, menurutnya, tidak hanya menyentuh dimensi biologis, tetapi juga psikis dan spiritual.
Menuju bulan Ramadan, Masjid Kampus UGM mengadakan Kajian Pra-Ramadan dengan Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihin) sebagai pembicara pada Senin (2/2). Kajian Pra-Ramadan ini berlangsung di Ruang Utama Masjid Kampus UGM dengan mengusung tema “Fikih Ramadan dan Etika Sosial Keumatan”.