Khotbah Jumat bertema “Hakikat Ajaran Islam dalam Kacamata Jawa” disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa dan Sastra FIB UGM, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. pada Jumat (22/5) di Masjid Kampus UGM. Dalam khotbahnya, Rudy mengajak jemaah memahami kembali esensi Islam yang tidak berhenti pada simbol dan ritual, tetapi hadir sebagai kekuatan moral yang nyata di tengah kehidupan.
“Beragama itu kehilangan rasa manisnya ketika hanya sibuk menghakimi tanpa menghadirkan amar ma’ruf,” ungkapnya saat menjelaskan pentingnya keseimbangan antara menyeru kebaikan dan menolak kemungkaran. Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan utama khotbah karena menyinggung fenomena kegelisahan umat Islam modern yang mulai kehilangan pemahaman mendalam tentang hakikat agama.
Krisis Pemahaman Hakikat Islam
Dalam pembuka khotbah, Rudy menjelaskan bahwa banyak umat Islam saat ini mengalami kegamangan identitas. Menurutnya, sebagian umat mulai merasa minder menjadi Muslim akibat berbagai opini negatif tentang Islam di media maupun perilaku sebagian oknum yang mengatasnamakan agama.
Ia menyoroti bahwa pemahaman Islam sering kali berhenti pada perkara lahiriah semata, seperti aturan makanan, salat, atau puasa, tanpa memahami makna terdalam dari ibadah itu sendiri.
“Islam itu bukan sekadar tidak makan babi, bukan hanya ketika adzan lalu salat atau saat Ramadhan lalu puasa. Esensi pengabdian kepada Allah itulah yang sering terluput dari pandangan kita.”
Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Inti Keimanan
Salah satu pembahasan utama dalam khotbah ini adalah tafsir Surah Ali Imran ayat 110 tentang predikat khairu ummah atau umat terbaik. Rudy menjelaskan bahwa predikat tersebut bukan hadiah otomatis, melainkan memiliki syarat yang jelas:
Menurutnya, inti dari ajaran Islam terletak pada keberanian untuk menegakkan kebaikan (amar ma’ruf) dan menolak kemungkaran (nahi munkar). Ia menjelaskan bahwa kata ma’ruf merujuk pada kebaikan yang secara universal memang sudah diakui sebagai kebaikan tanpa perlu perdebatan rumit.
“Yang terang itu terang, yang gelap itu gelap, yang hak itu hak, dan yang batil itu batil,” tegasnya di hadapan jemaah.
Ia juga mengingatkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar harus berjalan beriringan. Islam, menurutnya, tidak cukup hanya berbicara tentang kebaikan tanpa keberanian menolak keburukan.
Baca juga: Wakil Ketua Halal Center UGM: Salah Menangani Hewan Kurban Bisa Turunkan Kualitas Daging
Nilai Islam dalam Perspektif Budaya Jawa
Menariknya, khotbah ini juga mengaitkan ajaran Islam dengan falsafah Jawa. Rudy menyebut bahwa konsep amar ma’ruf nahi munkar telah lama hadir dalam nilai-nilai luhur budaya Jawa, salah satunya melalui konsep kaprawiran yang diajarkan dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV.
Menurutnya, prawiro bukan berarti seseorang yang gemar berperang atau menunjukkan kekerasan, melainkan pribadi yang teguh memegang kebenaran dan memiliki keberanian moral.
“Tujuan hidup bukan sekadar mencari kenyamanan, kekayaan, atau keselamatan diri sendiri, tetapi memberi manfaat bagi umat manusia.”
Ia juga mengutip filosofi Jawa memayu hayuning bawana, yaitu menjaga dan memperindah kehidupan dunia sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Dunia adalah Tempat Ujian
Pada bagian penutup khotbah, Rudy mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian sebagaimana disampaikan Imam Syafi’i. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh hanya mengejar kenyamanan hidup semata.
Ia menekankan bahwa tujuan hidup sejati adalah mengolah kaprawiran atau keberanian moral agar manusia mampu kembali kepada Allah dengan membawa kebaikan.
Khotbah Jumat ini memberikan refleksi mendalam bahwa Islam sejatinya adalah agama yang menghadirkan keberanian moral, kejujuran, dan keberpihakan pada kebaikan universal. Dalam perspektif Jawa maupun Islam, manusia diajak untuk hidup tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga demi kemaslahatan bersama.
Penulis: Isa Maliki
Editor: Aldi Firmansyah