• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Dosen FIB UGM Sebut Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Telah Lama Hadir dalam Nilai Luhur Budaya Jawa

Dosen FIB UGM Sebut Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Telah Lama Hadir dalam Nilai Luhur Budaya Jawa

  • Tulisan dan Khotbah
  • 28 Mei 2026, 07.35
  • Oleh: isamaliki2004
  • 0

Khotbah Jumat bertema “Hakikat Ajaran Islam dalam Kacamata Jawa” disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa dan Sastra FIB UGM, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. pada Jumat (22/5) di Masjid Kampus UGM. Dalam khotbahnya, Rudy mengajak jemaah memahami kembali esensi Islam yang tidak berhenti pada simbol dan ritual, tetapi hadir sebagai kekuatan moral yang nyata di tengah kehidupan.

“Beragama itu kehilangan rasa manisnya ketika hanya sibuk menghakimi tanpa menghadirkan amar ma’ruf,” ungkapnya saat menjelaskan pentingnya keseimbangan antara menyeru kebaikan dan menolak kemungkaran. Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan utama khotbah karena menyinggung fenomena kegelisahan umat Islam modern yang mulai kehilangan pemahaman mendalam tentang hakikat agama.

Krisis Pemahaman Hakikat Islam

Dalam pembuka khotbah, Rudy menjelaskan bahwa banyak umat Islam saat ini mengalami kegamangan identitas. Menurutnya, sebagian umat mulai merasa minder menjadi Muslim akibat berbagai opini negatif tentang Islam di media maupun perilaku sebagian oknum yang mengatasnamakan agama.

Ia menyoroti bahwa pemahaman Islam sering kali berhenti pada perkara lahiriah semata, seperti aturan makanan, salat, atau puasa, tanpa memahami makna terdalam dari ibadah itu sendiri.

“Islam itu bukan sekadar tidak makan babi, bukan hanya ketika adzan lalu salat atau saat Ramadhan lalu puasa. Esensi pengabdian kepada Allah itulah yang sering terluput dari pandangan kita.”

Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Inti Keimanan

Salah satu pembahasan utama dalam khotbah ini adalah tafsir Surah Ali Imran ayat 110 tentang predikat khairu ummah atau umat terbaik. Rudy menjelaskan bahwa predikat tersebut bukan hadiah otomatis, melainkan memiliki syarat yang jelas:

Menurutnya, inti dari ajaran Islam terletak pada keberanian untuk menegakkan kebaikan (amar ma’ruf) dan menolak kemungkaran (nahi munkar). Ia menjelaskan bahwa kata ma’ruf merujuk pada kebaikan yang secara universal memang sudah diakui sebagai kebaikan tanpa perlu perdebatan rumit.

“Yang terang itu terang, yang gelap itu gelap, yang hak itu hak, dan yang batil itu batil,” tegasnya di hadapan jemaah.

Ia juga mengingatkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar harus berjalan beriringan. Islam, menurutnya, tidak cukup hanya berbicara tentang kebaikan tanpa keberanian menolak keburukan.

Baca juga: Wakil Ketua Halal Center UGM: Salah Menangani Hewan Kurban Bisa Turunkan Kualitas Daging

Nilai Islam dalam Perspektif Budaya Jawa

Menariknya, khotbah ini juga mengaitkan ajaran Islam dengan falsafah Jawa. Rudy menyebut bahwa konsep amar ma’ruf nahi munkar telah lama hadir dalam nilai-nilai luhur budaya Jawa, salah satunya melalui konsep kaprawiran yang diajarkan dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV.

Menurutnya, prawiro bukan berarti seseorang yang gemar berperang atau menunjukkan kekerasan, melainkan pribadi yang teguh memegang kebenaran dan memiliki keberanian moral.

“Tujuan hidup bukan sekadar mencari kenyamanan, kekayaan, atau keselamatan diri sendiri, tetapi memberi manfaat bagi umat manusia.”

Ia juga mengutip filosofi Jawa memayu hayuning bawana, yaitu menjaga dan memperindah kehidupan dunia sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah di bumi.

Dunia adalah Tempat Ujian

Pada bagian penutup khotbah, Rudy mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian sebagaimana disampaikan Imam Syafi’i. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh hanya mengejar kenyamanan hidup semata.

Ia menekankan bahwa tujuan hidup sejati adalah mengolah kaprawiran atau keberanian moral agar manusia mampu kembali kepada Allah dengan membawa kebaikan.

Khotbah Jumat ini memberikan refleksi mendalam bahwa Islam sejatinya adalah agama yang menghadirkan keberanian moral, kejujuran, dan keberpihakan pada kebaikan universal. Dalam perspektif Jawa maupun Islam, manusia diajak untuk hidup tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga demi kemaslahatan bersama.

Penulis: Isa Maliki

Editor: Aldi Firmansyah

Post Views: 6
Tags: filosofi jawa Kajian khotbah Masjid Kampus UGM Rudi Wiratama

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Jelang Iduladha, Pakar UGM Ungkap Kesalahan Fatal dalam Pengelolaan Kurban
  • Belum Pulih dari Luka Masa Lalu, tetapi Sudah Menikah? Ini Dampaknya Menurut Psikolog
  • Dosen FIB UGM Sebut Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Telah Lama Hadir dalam Nilai Luhur Budaya Jawa
  • Wakil Ketua Halal Center UGM: Salah Menangani Hewan Kurban Bisa Turunkan Kualitas Daging
  • Eko Prasetyo: Hari Ini Manusia Tidak Lagi Merdeka, tetapi Telah Menjadi Budak Sistem
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY