Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, M.Si. mengajak umat Islam untuk membangun mentalitas inovatif dan berani menciptakan masa depan melalui riset, kreativitas, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan dalam public lecture pada Sabtu (14/3) malam dengan tajuk “Asinkron Ekosistem Riset: Dari Politik Anggaran yang Tidak Berpihak sampai lemahnya Budaya Ilmiah”.
Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan inspirasi dan kemajuan bagi peradaban melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Krisis Bisa Melahirkan Inovasi
Arif Satria menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi berbagai disrupsi besar, mulai dari perubahan iklim, pandemi COVID-19, hingga ketegangan geopolitik dan perang tarif global. Namun, menurutnya, setiap krisis justru dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya teknologi baru.
Ia mencontohkan kisah ilmuwan Muslim Omar Yaghi yang berhasil mengembangkan konsep metal-organic framework (MOF), sebuah teknologi yang mampu memanen unsur-unsur penting dari udara.
“Krisis kadang justru melahirkan inspirasi. Ketika seseorang menghadapi keterbatasan, dari situlah muncul cara pandang baru yang melahirkan inovasi,” ujarnya.
Melalui teknologi tersebut, udara dapat dimanfaatkan untuk menangkap oksigen bagi kebutuhan medis, karbon dioksida untuk pertanian, hingga air yang dapat dipanen langsung dari udara. Bagi Arif, kemampuan membaca potensi alam seperti ini merupakan bukti pentingnya riset dan eksplorasi ilmiah.
Baca juga: Dosen President University: Puasa Harus Mengantarkan Manusia Mengenal Allah
Spirit Al-Badi’ dan Mentalitas Inovator
Arif menekankan bahwa inovasi sebenarnya memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Salah satunya tercermin dalam Asmaul Husna, yaitu sifat Allah Al-Badi’ yang berarti Maha Pencipta sesuatu yang benar-benar baru. Menurutnya, umat Islam perlu menginternalisasi sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia ilmu pengetahuan dan penelitian.
“Kalau Al-Khaliq bermakna menciptakan secara umum, maka Al-Badi’ berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Spirit inilah yang harus kita internalisasi agar kita menjadi inovator,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa manusia didorong untuk menggali rahasia alam dan memikirkan ciptaan Allah, selama tidak mencoba memikirkan hakikat zat-Nya. Dengan cara itu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan membawa manfaat bagi kehidupan manusia.
Dari Best Practice Menuju Future Practice
Dalam ceramahnya, Arif juga mengingatkan bahwa banyak orang masih terjebak pada pola pikir best practice, yaitu sekadar meniru keberhasilan pihak lain. Padahal, pola tersebut hanya akan membuat suatu bangsa menjadi pengikut. Sebaliknya, ia mendorong lahirnya future practice, yakni kemampuan menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.
“Masa depan memang tidak bisa diprediksi sepenuhnya, tetapi cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya hari ini,” ujarnya mengutip pemikiran Abraham Lincoln.
Ia juga menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada kekuatan riset, inovasi, dan kewirausahaan. Hal tersebut sejalan dengan teori endogenous growth yang dikemukakan oleh ekonom peraih Nobel Paul Romer, bahwa pertumbuhan ekonomi masa depan akan digerakkan oleh riset dan inovasi. Di akhir ceramahnya, Arif mengingatkan bahwa tujuan utama dari inovasi adalah memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka inovasi harus menghasilkan kemanfaatan yang berkelanjutan dan memberi dampak besar bagi kemajuan umat,” tuturnya.
Ia berharap umat Islam mampu melahirkan lebih banyak ilmuwan dan inovator yang menggali rahasia alam serta menciptakan solusi bagi berbagai persoalan dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat bergerak menuju cita-cita sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan penuh keberkahan.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat