Khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Kampus UGM pada Jumat (13/2), mengangkat tema “Ramadan yang Berkah dalam Perspektif Waktu: Perjalanan Manusia Menuju Surga”. Dalam penyampaiannya, Agung Budiyanto mengajak jemaah memaknai kehidupan sebagai perjalanan panjang yang terus berlanjut menuju keselamatan hakiki, serta menempatkan Ramadan sebagai momentum penting untuk memperbaiki arah perjalanan tersebut.
Pada bagian awal khotbah, Ia menegaskan bahwa kehidupan manusia berjalan terus tanpa terputus hingga datangnya kematian. “Perjalanan manusia itu adalah perjalanan yang sifatnya continue. Tidak ada perjalanan manusia yang sifatnya discontinue. Ketika perjalanan itu terhenti, maka selesailah sudah,” ujarnya. Kematian disebut sebagai batas berhentinya amal, namun selama hidup manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah kebaikan.
Beliau kemudian menggambarkan proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan hingga dewasa sebagai rangkaian yang tidak terputus. Dari asal penciptaan yang sederhana, manusia dimuliakan Allah dan diberi kesempatan hidup di dunia sebagai ruang memperbaiki amal. Ia menjelaskan bahwa kehidupan saat ini merupakan kesempatan kedua bagi manusia untuk menambah kebaikan dan menghapus dosa sebelum memasuki kehidupan akhirat.
Agung juga menekankan bahwa ukuran amal di akhirat tidak dapat dihitung secara matematis. Perbedaan dimensi waktu antara dunia dan akhirat membuat manusia tidak layak merasa bangga atas ibadahnya. Ia mengingatkan bahwa kesombongan spiritual (ujub) dapat merusak nilai amal dan menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Baca juga: Ketua PWNU DIY Soroti Pentingnya Sanad Keilmuan dalam Beragama
Dalam konteks Ramadan, Beliau menegaskan bahwa keberkahan tidak diukur dari jumlah ibadah semata, melainkan dari keimanan dan keikhlasan. Nilai ukhrawi, menurutnya, berada dalam ranah gaib yang tidak dapat dihitung dengan logika manusia. Karena itu, ibadah Ramadan seharusnya dilakukan tanpa semangat hitung-hitungan, melainkan dengan harapan ampunan dan ridha Allah.
Beliau kemudian menjelaskan keutamaan ibadah Ramadan melalui berbagai contoh, seperti puasa yang menghapus dosa, menghidupkan malam Ramadan, salat tarawih, serta sedekah berbuka puasa. Semua itu menunjukkan bahwa logika pahala di bulan Ramadan melampaui hitungan rasional manusia dan sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Agung Budiyanto mengajak jemaah memaksimalkan Ramadan dan berharap meraih Lailatul Qadar. Ia menyampaikan secara langsung, “Shalat sejak hari pertama sampai akhir, insyaallah nyantol Lailatul Qadar itu, lebih baik dari delapan puluh lima tahun.” Dari pesan ini, beliau menegaskan pentingnya konsistensi ibadah sepanjang Ramadan.
Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya waktu, hal ini disampaikan melalui kisah sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Dalam kisah tersebut, seorang sahabat yang hidup lebih lama justru masuk surga lebih dahulu dibanding sahabat yang wafat syahid, karena tambahan waktu itu digunakan untuk bertemu Ramadan dan memperbanyak amal. Kisah ini menegaskan bahwa kesempatan hidup, terutama jika digunakan untuk beribadah, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Agung Budiyanto menutup khotbahnya dengan peringatan agar jemaah tidak menjadi orang yang merugi, yaitu mereka yang bertemu Ramadan tetapi tidak berkurang dosanya dan tidak bertambah amalnya. Selain itu, beliau mengajak seluruh jemaah memanfaatkan waktu yang singkat dengan sebaik-baiknya, serta berharap Ramadan menjadi jalan menuju keberkahan dan keselamatan abadi.
Penulis: Safitri Ingka
Editor: Indra Oktafian Hidayat