Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Kamis Sore yang membahas tema “Pemulihan Ekonomi dan Ketahanan Sosial dalam Masyarakat Pascakrisis”. Kajian ini disampaikan oleh Prof. Drs. Mudrajad Kuncoro M.Soc.Sc.,Ph.D. (Guru Besar Bidang Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Sekolah Vokasi UGM) pada Kamis (29/1).
Mudrajad mengawali kajian dengan menggambarkan kondisi Indonesia yang tengah berada dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Menurutnya, Indonesia saat ini bergerak sangat cepat, penuh ketidakpastian, semakin kompleks, dan sulit diprediksi. Perubahan yang masif ini menuntut cara berpikir dan pendekatan baru dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk itu, Mudrajad menawarkan pendekatan VUCA versi solusi, yaitu Vision, Understanding, Clarity, dan Agility, sebagai bekal dalam menyikapi dinamika zaman.
Mudrajad juga menyinggung fase transisi besar yang dialami Indonesia, mulai dari pandemi COVID-19 pada 2019 hingga ancaman resesi global yang diperkirakan terjadi pada 2026. Selain dampak pandemi, Indonesia juga dihadapkan pada berbagai persoalan lain seperti konflik geopolitik, inflasi global, dan ketidakstabilan ekonomi. Dalam situasi ini, ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki cara berpikir strategis dan mampu mengambil keputusan jangka panjang di tengah ketidakpastian.
Lebih lanjut, Mudrajad membahas arah transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045, yakni cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan makmur. Ia mengutip pandangan Presiden Indonesia yang menyebutkan bahwa paradoks yang dihadapi Indonesia saat ini bukan terletak pada kekurangan sumber daya, melainkan pada persoalan kepemimpinan dan kehendak politik untuk mengambil keputusan yang tepat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Mudrajad menilai bahwa Indonesia sejatinya telah berhasil keluar dari krisis akibat pandemi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi nasional masih belum menunjukkan akselerasi yang signifikan dan cenderung berada pada level menengah. Kondisi ini menjadi tantangan besar, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Baca juga: Pakar Energi UGM: Sampah Bisa Menjadi Listrik, tetapi Pengelolaannya Masih Bermasalah
Dalam konteks pemulihan ekonomi, Mudrajad menyoroti pentingnya terobosan kebijakan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berjalan secara inklusif dan berkelanjutan. Dari sisi penawaran (supply side), pemerintah mendorong peningkatan likuiditas, deregulasi, serta penyelesaian berbagai hambatan struktural (debottlenecking). Sementara dari sisi permintaan (demand side), kebijakan ditempuh melalui relaksasi efisiensi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), paket stimulus ekonomi, serta berbagai insentif lainnya. Seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, peningkatan investasi, ekspansi kredit, serta naiknya daya beli dan konsumsi masyarakat.
Selain pemulihan ekonomi, Mudrajad juga menekankan pentingnya ketahanan sosial sebagai pilar utama pascakrisis. Ia menyoroti meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta kecemasan sosial yang dirasakan masyarakat setelah pandemi. Menurutnya, meskipun Indonesia telah mengalami transformasi ekonomi dari sektor pertanian menuju industri manufaktur dan perdagangan, perubahan tersebut belum diiringi dengan transformasi pasar tenaga kerja yang memadai. Akibatnya, muncul kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas penyerapan tenaga kerja.
Dalam kajian tersebut, Mudrajad juga mengulas ketimpangan ekonomi di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa hipotesis Kuznets tentang kurva U-terbalik tidak terbukti dalam konteks Indonesia. Justru, hubungan antara ketimpangan dan GDP per kapita selama periode 1964–2023 membentuk pola huruf U, yang menunjukkan bahwa ketimpangan kembali meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi.
Sebagai langkah strategis ke depan, Mudrajad menawarkan sejumlah solusi transformasi. Pertama, hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam harus dijalankan secara konsisten, tidak hanya berhenti pada ekspor bahan mentah seperti nikel, tetapi hingga proses pengolahan bernilai tambah. Kedua, pengembangan model inovasi agro-maritim (SAGO). Ia menyoroti potensi besar sagu dan singkong yang dimiliki Indonesia, yang seharusnya dapat diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa ketergantungan pada impor. Ketiga, penguatan pengamanan dan ketahanan sosial, khususnya bagi kelompok rentan seperti kaum duafa dan pekerja yang terkena PHK, melalui penyediaan jaminan kehilangan pekerjaan (JKP).
Pada bagian akhir kajian, Mudrajad menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan yang inklusif agar proses pemulihan dapat dirasakan bersama dan bangsa ini menjadi lebih kuat. Strategi tersebut mencakup prinsip pro-growth, pro-jobs, pro-poor, penguatan usaha berkelanjutan, sistem jaminan sosial, serta perluasan inklusi keuangan, sehingga tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan nasional.
Penulis: Safitri Ingka
Editor: Indra Oktafian Hidayat