Pemberdayaan ekonomi umat melalui sektor pertanian dan peternakan dipandang sebagai pilar vital bagi ketahanan nasional. Meski profesi petani dan peternak kerap dipandang sebelah mata, peran mereka sangatlah sentral. Hal ini terbukti secara nyata, tidak hanya melalui kontribusi strategis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga sebagai fondasi utama kedaulatan pangan bangsa. Refleksi ini menjadi titik awal pembahasan khutbah yang disampaikan oleh Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D, IPM. (Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM) pada Jumat (23/1) di Masjid Kampus UGM.
Yuny mengungkapkan bahwa kita sering memandang profesi ini sebelah mata dan hanya berfokus pada hasilnya tanpa sadar melihat jerih payahnya. “Kadang kita tidak mampu merenungkan betapa jerih payah petani dan peternak yang luar biasa. Kita tahunya hanya menyantap tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana itu dikelola dengan baik agar kemudian menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa ini,” ujarnya (23/1).
Beliau mengajak jamaah untuk merefleksikan betapa krusialnya peran petani dan peternak bagi stabilitas nasional. Yuny menekankan bahwa jika produksi berhenti meski hanya dua pekan, dampaknya akan sangat fatal. “Seandainya saja petani dan peternak kita itu berhenti berusaha selama 2 pekan saja, negara akan terjadi inflasi yang luar biasa. Akan terjadi perebutan makanan yang luar biasa, dan akhirnya boleh jadi negara akan kolaps karena kondisi ekonomi yang amburadul,” ungkapnya.
Yuny mendorong untuk optimalisasi fungsi masjid dalam mendukung dua profesi tersebut. Menurutnya, masjid tidak hanya memiliki fungsi untuk ibadah dan tarbiah (pendidikan, pembinaan ibadah harian, pengajian, pembinaan membaca Alquran), tetapi juga harus menjalankan fungsi iktisadiah demi penguatan ekonomi umat.
Yuny kemudian memberikan skema konkret mengenai kolaborasi antara masjid dan peternak. Beliau memberikan ilustrasi jika satu masjid di perkotaan dapat menjalin kemitraan dengan lima keluarga peternak di desa melalui sistem pemeliharaan yang terencana dan berkualitas. “Dengan model ini, masjid akan mendapatkan keuntungan harga karena memangkas rantai distribusi yang panjang, sementara masyarakat peternak memperoleh margin keuntungan yang lebih layak. Jadi, sebenarnya banyak langkah kecil namun luar biasa yang bisa kita lakukan bersama,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa profesi petani dan peternak memiliki akar historis yang mulia. Bertolak pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengingatkan bahwa setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. memiliki pengalaman sebagai penggembala. “Bahkan, Rasulullah SAW pun juga dahulu menggembala kambing milik penduduk Makkah,“ bebernya.
Menutup khutbahnya, Yuny menekankan kepada generasi muda bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan sarana pendidikan untuk membangun karakter mulia. “Bertani dan beternak bukan sekadar urusan teknis, melainkan sekolah karakter yang mendidik kita menjadi entrepreneur sesungguhnya,” pungkasnya.
Penulis: Aldi Firmansyah
Editor: Indra Oktafian Hidayat