Dalam kehidupan seorang perempuan, kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan menstruasi atau kehamilan. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan panjang yang dipengaruhi usia, hormon, gaya hidup, hingga kondisi medis tertentu. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam kajian Sakinah Akademi Masjid Kampus UGM bersama dr. Sarrah Ayuandari, Ph.D., Sp.OG, seorang spesialis obstetri dan ginekologi yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia kesehatan perempuan. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan penuh empati, beliau mengajak para peserta memahami tubuh mereka sendiri, hal yang sering kali terabaikan oleh banyak perempuan.
Dalam pemaparannya, dr. Sarrah menjelaskan bahwa siklus hidup perempuan memiliki fase-fase unik yang menentukan fungsi reproduksi sejak masa pubertas hingga menopaus. Salah satu hal penting yang ditekankan adalah bahwa cadangan sel telur bersifat menurun dan tidak dapat diperbarui. Penurunan ini menjadi sangat signifikan setelah usia 35 tahun. Bagi sebagian perempuan, terutama yang memiliki kondisi medis seperti endometriosis, kista ovarium, atau menjalani terapi kanker, penurunan cadangan sel telur dapat terjadi lebih cepat dari biasanya.
Di sinilah topik egg freezing atau pembekuan sel telur menjadi relevan. Menurut dr. Sarrah, metode ini awalnya diciptakan untuk membantu perempuan penderita kanker yang berisiko kehilangan kesuburannya akibat pengobatan. Namun, kini penggunaannya berkembang luas hingga menjadi opsi bagi perempuan yang ingin menunda pernikahan atau kehamilan karena alasan sosial maupun karier. Meski demikian, beliau menegaskan bahwa egg freezing bukan sekadar tren, tetapi keputusan medis yang harus melalui konsultasi mendalam, pemeriksaan kesehatan, dan perhitungan yang matang.
Baca juga: Guru Besar FK-KMK UGM: Tanpa Persiapan Prahamil, Stunting Mustahil Dicegah
Selain membahas teknologi reproduksi, dr. Sarrah mengingatkan pentingnya memahami siklus menstruasi normal: interval 24–38 hari, durasi maksimal 8 hari, dan volume perdarahan yang tidak berlebihan. Menstruasi yang terlalu lama, terlalu sedikit, sangat nyeri, atau jarang terjadi bisa menjadi tanda bahwa ada gangguan pada rahim, indung telur, atau hormon. Banyak peserta tersadar bahwa apa yang selama ini dianggap “biasa saja” ternyata justru perlu mendapatkan perhatian medis lebih cepat.
Beliau juga meluruskan berbagai mitos yang beredar di masyarakat, mulai dari larangan minum es saat haid, takut keramas karena darah “membeku”, hingga kebiasaan minum jamu. Dengan penjelasan ilmiah, dr. Sarrah menegaskan bahwa mitos-mitos tersebut tidak berdasar, sementara langkah paling tepat untuk menjaga kesehatan reproduksi tetaplah pola hidup yang seimbang: mengurangi makanan tinggi gula, menjaga berat badan ideal, rutin bergerak, dan mengelola stres.
Tidak hanya memberi ilmu, kajian ini juga membuka ruang tanya jawab yang penuh kehangatan. Banyak peserta menyampaikan kegelisahan, mulai dari menstruasi yang tidak pernah datang, perdarahan berlebihan, hingga kekhawatiran perempuan penderita kanker tentang masa depan reproduksinya. Dengan sabar, dr. Sarrah menjawab satu per satu, memberikan harapan bahwa penanganan yang tepat selalu dimulai dari keberanian untuk memeriksakan diri.
Pada akhirnya, kajian ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan reproduksi bukanlah tugas di masa depan, tetapi sesuatu yang harus dimulai sejak hari ini. Bersama dr. Sarrah Ayuandari, para peserta pulang dengan pemahaman baru bahwa tubuh perempuan begitu berharga dan membutuhkan perhatian yang penuh kesadaran, bukan sekadar mengikuti mitos atau menunggu gejala menjadi semakin parah.