Dalam sebuah kajian bertajuk “Ekonomi Islam & Kemandirian Umat” di Masjid Kampus UGM, Muhammad Shiddiq Al Jawi, M.Si. memaparkan kritik tajam terhadap praktik ekonomi Islam yang berkembang di Indonesia. Dengan analogi keras namun menggugah, beliau menyebut ekonomi syariah yang berjalan hari ini “seperti kaki kambing yang dicangkokkan ke tubuh babi”, sekadar tempelan pada struktur kapitalisme yang tetap dominan.
Syariah Sebagai Pelengkap Kapitalisme
Pertumbuhan perbankan syariah yang pesat ternyata tidak berbanding lurus dengan perbaikan kemiskinan atau ketimpangan. Menurut Shiddiq, problem utamanya adalah pendekatan parsial yang hanya mengislamisasi lembaga keuangan, bukan sistem ekonomi secara keseluruhan. Bank syariah, asuransi syariah, hingga pegadaian syariah hanya menempel pada arsitektur kapitalis, sehingga tidak menyentuh akar persoalan.
Dua Mazhab Ekonomi Islam
Sejak kemunculan Bank Muamalat pada 1992, ekonomi Islam Indonesia terbelah menjadi dua aliran:
-
Parsial
Aliran ini berfokus pada islamisasi institusi kapitalis. Hasilnya: syariah menjadi komplementer, bukan struktur utama. -
Menyeluruh
Pendekatan ini menolak kompromi dengan kapitalisme. Fokusnya adalah penerapan muamalah murni (jual beli, syirkah, ijarah) yang terintegrasi dengan sistem politik Islam.
“Ekonomi Islam yang tidak ditopang politik Islam,” tegas Shiddiq, “akan selalu kalah oleh kerangka kapitalisme.”
Baca juga: Dosen Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga Tekankan Perlunya Isbat Nikah sebagai Solusi Legalitas
Lima Bahaya Tersembunyi Ekonomi Syariah Parsial
Shiddiq memaparkan lima ancaman laten yang muncul ketika syariah hanya menjadi pelengkap:
-
Ketergantungan modal pada bank ribawi
Banyak lembaga syariah lahir dari modal bank konvensional induknya. -
Konflik norma fikih dan praktik perbankan
Contohnya murabahah tiga pihak, yang secara fikih tidak sesuai dengan akad klasik. -
Kedaulatan syariah tunduk pada hukum kapitalis
Contoh: kewajiban mengikuti LPS mengubah musyarakah menjadi qardh. -
Dominasi sistem ribawi pada produk syariah
Dana wadiah yang seharusnya tidak dimanfaatkan justru bercampur dalam pool of fund. -
Ketimpangan ekonomi yang tidak berubah
Dengan pangsa pasar bank syariah hanya 7,44%, struktur ketidakadilan tetap bertahan.
Kemiskinan: Masalah Individu atau Sistem?
Diskusi menarik muncul saat seorang mahasiswa bertanya tentang ketimpangan sebagai konsekuensi kebebasan. Shiddiq menjelaskan bahwa kemiskinan ada dua jenis:
-
Individual, akibat malas atau kondisi fisik tertentu.
-
Struktural, akibat kebijakan negara yang salah arah.
Ia mencontohkan konsesi hutan yang dikuasai oligarki, serta tambang Papua yang memberikan kekayaan pada korporasi, bukan rakyat asli. “Ini bukan soal malas atau rajin,” ujar Shiddiq, “tapi kebijakan yang salah sasaran.”
Menghapus Kapitalisme: Perintah atau Pilihan?
Ketika ditanya apakah Indonesia siap melepas kapitalisme, Shiddiq menjawab tegas:
“Kesiapan nomor dua. Menghapus kemungkaran adalah kewajiban.”
Kapitalisme dianggap mengandung riba, gharar, dan maisir, unsur yang jelas dilarang syariah. Namun ia juga mengingatkan risiko besar yang pernah menimpa Khadafi dan Saddam Hussein ketika menantang dolar Amerika.