Puncak perayaan Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM 1447 H digelar melalui RDK Festival di halaman Masjid Kampus UGM pada Jumat (13/3). Acara ini menjadi penanda perjalanan setengah abad dakwah RDK, yang telah berlangsung sejak 1976. Festival tersebut menghadirkan talk show bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa”, dengan narasumber Salim A. Fillah dan Irfan Afifi, serta dimoderatori Fahmi Fabian.
Ketua RDK UGM 1447 H, Hamzah Dzaky Rabbani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa RDK Festival menjadi momentum refleksi perjalanan panjang dakwah Islam di lingkungan kampus.
“RDK UGM pertama kali dilaksanakan pada tahun 1976. Dari dulu namanya Ramadhan In Campus, lalu berkembang menjadi Ramadhan Di Kampus seperti sekarang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjalanan 50 tahun tersebut menunjukkan bagaimana dakwah kampus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar Islam.
“RDK selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sehingga tetap relevan dan dinantikan hingga hari ini,” kata Hamzah.
Dakwah Islam dan Budaya Jawa
Dalam sesi diskusi, Salim A. Fillah menjelaskan bahwa proses islamisasi di Jawa sejak masa para wali dilakukan melalui pendekatan budaya, bukan konfrontasi. Menurutnya, konsep “resonansi” yang diangkat dalam tema diskusi menggambarkan kesamaan frekuensi antara Islam dan budaya lokal.
“Kita tahu resonansi itu kesamaan frekuensi yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun kebersamaan. Itulah yang dilakukan para wali ketika berdakwah di tanah Jawa,” jelasnya.
Ia mencontohkan strategi dakwah Wali Songo yang menggunakan media budaya seperti wayang dan tembang untuk menyampaikan pesan tauhid kepada masyarakat. Pendekatan tersebut, menurutnya, membuat Islam tidak hadir sebagai kekuatan dominasi, melainkan sebagai energi kultural yang menyatu dengan masyarakat.
Baca juga: Diana Setyawati Ajak Mahasiswa Mengubah Cara Pandang untuk Menjaga Kesehatan Mental
Kearifan Islam dalam Tradisi Nusantara
Sementara itu, Irfan Afifi menyoroti pentingnya memahami tradisi Islam Nusantara melalui perspektif kearifan, bukan sekadar kategori “lokal”. Ia menilai istilah “kearifan lokal” sering kali disalahpahami, karena kearifan sejatinya bersifat universal.
“Kearifan itu berasal dari kata ‘arif’, yang berkaitan dengan makrifat atau kedalaman spiritual. Jadi bukan sekadar tradisi lokal,” ungkapnya.
Menurut Irfan, para penyebar Islam di Nusantara merupakan sosok-sosok arif yang menekankan keseimbangan antara syariat dan dimensi batiniah.
“Berislam itu tidak hanya lahirnya saja, tetapi juga batinnya. Tidak hanya fikih, tetapi juga tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut melahirkan berbagai tradisi budaya yang sebenarnya merupakan manifestasi nilai-nilai Islam.
Menjaga Harmoni Agama dan Budaya
Diskusi juga menyoroti fenomena polarisasi agama dan budaya di era digital. Menurut Salim, salah satu faktor yang memicu dikotomi tersebut adalah warisan narasi kolonial yang memisahkan identitas Jawa dan Islam.
“Dulu Jawa adalah Islam. Tetapi kemudian muncul kampanye kolonial yang memisahkan identitas itu,” ujarnya.
Ia menilai penting bagi generasi muda untuk kembali memahami sejarah Islam di Nusantara secara lebih utuh. Selain talk show, RDK Festival juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seperti pameran sejarah RDK, zona harapan Ramadan, serta penampilan seni dan drama mahasiswa.
Pembina UKM Jamaah Salahuddin UGM, Ir. Agung Bramantya, Ph.D. berharap perjalanan 50 tahun RDK dapat menjadi pijakan untuk memperkuat dakwah kampus di masa depan.
“Mudah-mudahan dakwah di Masjid Kampus UGM terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
RDK Festival sekaligus menjadi simbol bahwa dakwah Islam di kampus tidak hanya berbentuk kajian keilmuan, tetapi juga merangkul seni, budaya, dan kreativitas mahasiswa.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat