• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Dosen Perbankan Syariah UAD Ingatkan Harta Bisa Menjerumuskan Manusia

Dosen Perbankan Syariah UAD Ingatkan Harta Bisa Menjerumuskan Manusia

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 5 Maret 2026, 15.00
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Ramadan datang setiap tahun, tetapi tidak selalu menghadirkan perubahan dalam diri manusia. Padahal, dalam sejarah Islam, bulan suci ini justru menjadi momentum pembentukan karakter umat yang paling kuat. Hal inilah yang disampaikan oleh Dosen Perbankan Syariah UAD, Ahmad Arif Rifan, S.H.I., M.S.I. dalam Mimbar Subuh pada Sabtu (28/2).

Dalam pemaparannya, Arif mengajak jemaah menengok kembali karakter generasi awal Islam, khususnya para sahabat Nabi Muhammad saw. Ia mengutip riwayat sahabat Abdullah bin Mas’ud yang menjelaskan bahwa generasi sahabat memiliki kualitas spiritual yang istimewa karena sikap mereka terhadap dunia dan akhirat.

Ia menjelaskan bahwa para sahabat dikenal memiliki dua karakter utama, zuhud terhadap dunia dan memiliki orientasi kuat terhadap akhirat. Menurutnya, karakter ini menjadi fondasi yang membentuk sikap hidup mereka, termasuk dalam hal berbagi dan bersedekah.

“Generasi sahabat itu memiliki karakter kuat. Mereka sangat zuhud terhadap dunia dan sangat bersemangat terhadap akhirat,” jelasnya.

Teladan Sahabat dalam Menghadapi Harta

Untuk menggambarkan sikap tersebut, Arif menceritakan kisah Sa’ad bin Abi Waqqas ketika sedang sakit keras dan merasa ajalnya mungkin sudah dekat. Dalam kondisi tersebut, Sa’ad justru bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai kemungkinan menyedekahkan sebagian besar hartanya.

Sa’ad awalnya ingin menyedekahkan dua pertiga hartanya, namun Rasulullah menolak. Ia kemudian mengusulkan setengah harta, dan kembali tidak diperbolehkan. Baru ketika Sa’ad bertanya tentang sepertiga hartanya, Rasulullah membolehkannya.

“Sepertiga itu sudah banyak,” sabda Nabi, seraya menambahkan bahwa meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup lebih baik daripada membiarkan mereka hidup dalam kekurangan.

Kisah tersebut, menurut Arif, menunjukkan bagaimana kuatnya semangat berbagi pada generasi sahabat. Bahkan ketika berada di ambang kematian, yang mereka pikirkan bukan sekadar keselamatan diri, tetapi juga bagaimana hartanya dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Baca juga: Zainal Arifin Mochtar: Pemerintah Gagal Menjadikan Moral sebagai Fondasi Hukum

Ramadan dan Perubahan Karakter

Arif kemudian menjelaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum perubahan karakter, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menggambarkan bahwa Nabi adalah manusia yang paling dermawan, dan pada bulan Ramadan kedermawanan itu meningkat jauh lebih besar.

Perubahan tersebut berkaitan erat dengan interaksi Nabi dengan Alquran, yang setiap malam dibacakan bersama Malaikat Jibril.

Menurutnya, kedekatan dengan Alquran dan pemahaman terhadap makna Ramadan semestinya melahirkan pribadi yang lebih pemurah, lebih mudah berbagi, dan lebih peduli terhadap sesama.

“Kalau Rasulullah saja berubah menjadi lebih pemurah di bulan Ramadan, maka seharusnya Ramadan juga mampu mengubah kita,” ujarnya.

Sudah Berapa Kali Ramadan Kita Jalani?

Di hadapan jemaah, Arif mengajak untuk melakukan refleksi sederhana. Rasulullah hanya mengalami sembilan kali Ramadan setelah puasa diwajibkan. Namun dalam waktu yang relatif singkat itu, Ramadan mampu membentuk generasi sahabat menjadi generasi terbaik dalam sejarah Islam.

Sementara banyak orang hari ini telah mengalami puluhan Ramadan sepanjang hidupnya.

“Bukankah di antara kita ada yang sudah mendapatkan Ramadan lebih dari dua puluh kali, tiga puluh kali, bahkan lebih?” katanya.

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa banyaknya Ramadan yang dilalui belum tentu berbanding lurus dengan perubahan karakter seseorang.

Suasana sahur di Masjid Kampus UGM, Sabtu (5/3)

Lebih jauh, Arif menegaskan bahwa salah satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia adalah harta. Ia merujuk pada sejumlah ayat Alquran yang menjelaskan bahwa dunia beserta segala perhiasannya merupakan sarana ujian untuk menilai siapa yang paling baik amalnya.

Ujian tersebut tidak selalu berupa kekurangan, tetapi juga kelebihan. Ada orang yang diuji dengan kesempitan hidup, tetapi ada pula yang diuji dengan kelimpahan rezeki.

Dalam hal ini, Rasulullah saw. pernah mengingatkan bahwa yang paling beliau khawatirkan bukanlah kemiskinan umatnya, melainkan ketika dunia dilimpahkan kepada mereka sehingga menimbulkan persaingan dan permusuhan.

Prosesnya, jelas Arif, sering dimulai dari persaingan dalam perkara dunia, lalu berkembang menjadi rasa iri, kemudian berujung pada permusuhan dan perpecahan di tengah masyarakat.

Sedekah sebagai Jalan Penyucian

Sebagai penutup, Arif menekankan pentingnya sedekah sebagai sarana membersihkan diri. Ia mengutip firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 103 yang menjelaskan bahwa sebagian harta yang dikeluarkan sebagai sedekah dapat menyucikan manusia, baik secara lahir maupun batin.

Menurutnya, sedekah bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa dari sifat kikir dan ketergantungan terhadap dunia.

“Sedekah itu bukan hanya membersihkan harta kita, tetapi juga membersihkan hati kita,” ujarnya.

Melalui Ramadan, ia berharap umat Islam dapat meneladani karakter generasi awal Islam yang tidak terikat pada dunia, tetapi menjadikan harta sebagai sarana untuk berbuat kebaikan.

Di akhir kajian, Arif mengajak jemaah menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri, menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih pemurah dalam berbagi kepada sesama.

Tags: ahmad arif rifan dosen perbankan syariah Kajian Jogja kajian Masjid Kampus UGM Mimbar subuh uad

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Dosen Perbankan Syariah UAD Ingatkan Harta Bisa Menjerumuskan Manusia
  • Zainal Arifin Mochtar: Pemerintah Gagal Menjadikan Moral sebagai Fondasi Hukum
  • Wakil Rektor UMY Kritik Klaim Kebenaran Sepihak dan Budaya Saling Menyalahkan
  • Anggito Abimanyu: Generasi Muda Perlu Pahami Prinsip Syariah dan Waspada Penipuan Investasi
  • Wakil Ketua KPK: Sembilan Nilai Antikorupsi Harus Ditanamkan Sejak Dini
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY