“Apapun yang kita lakukan harus berpegang teguh pada niat karena kunci kemenangan jiwa adalah memahami maksud hati agar kita dapat menentukan niat yang benar.”
Demikian salah satu penekanan yang disampaikan oleh Bagus Riyono, psikolog yang menjabat sebagai President of the International Association of Muslim Psychologist, dalam agenda Mimbar Subuh hari kelima Ramadan, Sabtu (22/2). Kajian bertajuk “Menjadi Muslim Tangguh Akhir Zaman dengan Menjaga Cahaya Iman” tersebut mengajak jamaah merefleksikan cara menjaga ketenangan jiwa di tengah berbagai kesulitan zaman.
Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, Bagus menekankan bahwa kekuatan seorang Muslim tidak hanya terletak pada capaian lahiriah, melainkan pada kejernihan hati dan kelurusan niat.
Ketenangan Jiwa dan Makna Kemenangan
Pada awal penyampaiannya, Bagus mengaitkan dinamika dunia hari ini dengan kondisi umat Islam. Menurutnya, semakin mendekati akhir zaman, berbagai peristiwa yang menyayat hati kerap memunculkan rasa sedih, marah, bahkan kecewa. Perasaan itu manusiawi, tetapi tidak boleh dibiarkan menguasai jiwa.
Ia mengingatkan bahwa di balik berbagai ujian, Allah tetap menganugerahkan nikmat yang patut disyukuri. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang. Karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada persepsi berlebihan terhadap kesuksesan duniawi.
“Tidak semua harus kita menangkan di dunia. Kemenangan sejati ada di akhirat,” ujarnya.
Menurutnya, kehidupan dunia sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat. Kesadaran inilah yang membuat jiwa lebih tenang dalam menghadapi ketidaksesuaian realitas.
Ketangguhan sebagai Jati Diri Muslim
Bagus menegaskan bahwa ketangguhan lahir dari hati yang bersih dan niat yang lurus. Jika niat benar, maka ikhtiar akan maksimal dan kesulitan tidak mudah mematahkan semangat.
Ia menyinggung sejarah awal peradaban Islam, ketika umat menghadapi keraguan dan tekanan. Ujian besar seperti Perang Uhud menjadi momentum pembelajaran. Kekalahan tidak membuat kaum Muslimin menyerah, tetapi justru mendorong evaluasi dan perbaikan strategi hingga meraih keberhasilan pada fase berikutnya.
Menurutnya, jati diri umat Islam adalah tangguh—tidak mudah runtuh oleh keadaan, serta selalu bangkit dengan keimanan yang lebih kuat.
Menjaga Hati dari Godaan Kekuasaan
Bagus juga mengingatkan bahwa ujian tidak berhenti pada kesulitan. Kesuksesan dan kekuasaan pun merupakan ujian tersendiri. Ia mengutip hadis riwayat Abu Hurairah RA tentang ambisi terhadap kekuasaan yang kelak bisa berujung penyesalan.
Menurutnya, sebesar apa pun jabatan atau pengaruh seseorang, kontribusi nyata bagi umat jauh lebih bermakna. Ilmu, katanya, memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan kekuasaan.
Pada akhir kajian, ia menekankan pentingnya menjaga hati agar tetap tuma’ninah, tenang secara mental dan spiritual. Jiwa yang damai adalah ciri calon penghuni surga. Karena itu, fokus hidup tidak semata pada capaian, melainkan pada kualitas hati dan niat.
“Allah menganugerahkan rezeki tanpa batas kepada mereka yang menjaga niatnya tetap baik,” pungkasnya.
Penulis: Aisyah Larasati
Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah