Kajian Kamis Sore yang diselenggarakan di ruang utama Masjid Kampus UGM menghadirkan Dr. Muhammad Iqbal Ahnaf, M.A sebagai pemateri. Pada kesempatan kali ini, Iqbal mengajak jamaah untuk memperluas cara pandang dalam memahami peran seorang Muslim. Tidak hanya menekankan pada nilai-nilai etika, beliau juga menyoroti pentingnya keterampilan (skill) yang harus dimiliki seorang Muslim untuk mampu bertahan dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam.
Hidup sebagai Minoritas dan Mayoritas
Dalam pemaparannya, Iqbal menjelaskan bahwa umat Islam bisa saja hidup sebagai minoritas maupun mayoritas, dan kedua situasi tersebut membawa tantangan yang berbeda. Ketika berada dalam posisi minoritas, menjalankan ajaran agama dapat terasa seperti “menggenggam bara api” atau bisa dipahami penuh ujian dan tekanan. Sebaliknya, ketika menjadi mayoritas, tantangannya muncul dari bagaimana tetap adil dan tidak lalai terhadap hak-hak kelompok lain.
Belajar dari Pengalaman Hidup Nabi Muhammad
Iqbal menampilkan beberapa pesan (quotes) dari sahabat-sahabat Nabi untuk menggugah kesadaran bahwa umat Islam harus belajar dari pengalaman, terutama pengalaman hidup Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, perjalanan hidup Nabi merupakan bentuk tarbiyah ilahiah, yaitu pendidikan langsung dari Allah SWT melalui rangkaian pengalaman hidup yang sangat beragam.
Iqbal menjelaskan bahwa sejak muda Nabi sudah dipersiapkan melalui berbagai pengalaman:
- Menjadi penggembala kambing untuk belajar kepemimpinan.
- Menjadi pedagang untuk menanamkan nilai keadilan dan kejujuran.
- Didekatkan dengan para budak untuk memahami pentingnya memerangi perbudakan.
- Dipertemukan dengan Khadijah untuk memuliakan perempuan.
- Dihadapkan pada berbagai peperangan untuk mengajarkan cara meraih perdamaian.
“Allah memberikan pengalaman hidup pada Nabi Muhammad dengan dunia yang beragam, supaya Nabi Muhammad punya skill,” ujarnya.
Baca juga: Ketua MMB UGM: Teknologi Saja Tak Cukup, Mitigasi Bencana Perlu Pendekatan Sosial–Budaya
Dari Penyintas Menjadi Pembebas
Iqbal menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya menghadapi ujian berat, tetapi juga berhasil bangkit dari kondisi tertindas hingga menjadi pembawa perubahan. Perjalanan dakwah beliau di Makkah dan Madinah menggambarkan transformasi dari minoritas yang tertekan menjadi mayoritas yang melindungi. Dari sini, umat Islam diajak memahami bahwa hidup dalam masyarakat yang beragam menuntut keterampilan untuk mampu beradaptasi, berinteraksi, dan menjaga harmoni sosial.
Iqbal turut menyinggung fenomena yang terjadi di Indonesia, seperti lembaga pendidikan Islam yang menerima siswa non-Muslim namun mewajibkan mereka mengenakan busana Muslim atau mengikuti pelajaran yang tidak sesuai keyakinan mereka. Menurutnya, hal ini bertentangan dengan sikap Nabi Muhammad yang tidak pernah memaksakan seseorang untuk masuk Islam. Beliau juga menekankan bahwa umat Islam di Indonesia telah lama menjadi mayoritas, sehingga terkadang kurang peka terhadap posisi kelompok minoritas.
Untuk menghindari kejutan budaya (culture shock) dan sikap eksklusif, Iqbal menyarankan agar umat Islam lebih banyak bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama maupun latar belakang.
Dalam penutup kajian, Iqbal mengajak jamaah merenungkan dua ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Hajj 39–40 dan Al-Fath 29. Melalui ayat-ayat tersebut, umat Islam diajarkan bahwa Islam tidak memelihara sikap permusuhan dan kebencian. Penggunaan kekuatan atau senjata hanya dibolehkan ketika seseorang benar-benar disakiti atau dihalangi menjalankan ibadah.
Nabi Muhammad selalu menjadikan kedamaian sebagai pilihan utama, dan nilai inilah yang perlu dihidupkan kembali oleh umat Islam saat menghadapi keberagaman masyarakat masa kini.