• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ibadah dan Kajian Islam
  • Shiddiq Al Jawi Soroti Kemiskinan Sistemik Akibat Ekonomi Kapitalis

Shiddiq Al Jawi Soroti Kemiskinan Sistemik Akibat Ekonomi Kapitalis

  • Ibadah dan Kajian Islam
  • 28 November 2025, 14.46
  • Oleh: alkansafauziyyah2303
  • 0

Dalam sebuah kajian bertajuk “Ekonomi Islam & Kemandirian Umat” di Masjid Kampus UGM, Muhammad Shiddiq Al Jawi, M.Si. memaparkan kritik tajam terhadap praktik ekonomi Islam yang berkembang di Indonesia. Dengan analogi keras namun menggugah, beliau menyebut ekonomi syariah yang berjalan hari ini “seperti kaki kambing yang dicangkokkan ke tubuh babi”, sekadar tempelan pada struktur kapitalisme yang tetap dominan.

Syariah Sebagai Pelengkap Kapitalisme

Pertumbuhan perbankan syariah yang pesat ternyata tidak berbanding lurus dengan perbaikan kemiskinan atau ketimpangan. Menurut Shiddiq, problem utamanya adalah pendekatan parsial yang hanya mengislamisasi lembaga keuangan, bukan sistem ekonomi secara keseluruhan. Bank syariah, asuransi syariah, hingga pegadaian syariah hanya menempel pada arsitektur kapitalis, sehingga tidak menyentuh akar persoalan.

Dua Mazhab Ekonomi Islam

Sejak kemunculan Bank Muamalat pada 1992, ekonomi Islam Indonesia terbelah menjadi dua aliran:

  1. Parsial
    Aliran ini berfokus pada islamisasi institusi kapitalis. Hasilnya: syariah menjadi komplementer, bukan struktur utama.

  2. Menyeluruh
    Pendekatan ini menolak kompromi dengan kapitalisme. Fokusnya adalah penerapan muamalah murni (jual beli, syirkah, ijarah) yang terintegrasi dengan sistem politik Islam.

“Ekonomi Islam yang tidak ditopang politik Islam,” tegas Shiddiq, “akan selalu kalah oleh kerangka kapitalisme.”

Baca juga: Dosen Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga Tekankan Perlunya Isbat Nikah sebagai Solusi Legalitas

Lima Bahaya Tersembunyi Ekonomi Syariah Parsial

Shiddiq memaparkan lima ancaman laten yang muncul ketika syariah hanya menjadi pelengkap:

  1. Ketergantungan modal pada bank ribawi
    Banyak lembaga syariah lahir dari modal bank konvensional induknya.

  2. Konflik norma fikih dan praktik perbankan
    Contohnya murabahah tiga pihak, yang secara fikih tidak sesuai dengan akad klasik.

  3. Kedaulatan syariah tunduk pada hukum kapitalis
    Contoh: kewajiban mengikuti LPS mengubah musyarakah menjadi qardh.

  4. Dominasi sistem ribawi pada produk syariah
    Dana wadiah yang seharusnya tidak dimanfaatkan justru bercampur dalam pool of fund.

  5. Ketimpangan ekonomi yang tidak berubah
    Dengan pangsa pasar bank syariah hanya 7,44%, struktur ketidakadilan tetap bertahan.

Kemiskinan: Masalah Individu atau Sistem?

Diskusi menarik muncul saat seorang mahasiswa bertanya tentang ketimpangan sebagai konsekuensi kebebasan. Shiddiq menjelaskan bahwa kemiskinan ada dua jenis:

  • Individual, akibat malas atau kondisi fisik tertentu.

  • Struktural, akibat kebijakan negara yang salah arah.

Ia mencontohkan konsesi hutan yang dikuasai oligarki, serta tambang Papua yang memberikan kekayaan pada korporasi, bukan rakyat asli. “Ini bukan soal malas atau rajin,” ujar Shiddiq, “tapi kebijakan yang salah sasaran.”

Menghapus Kapitalisme: Perintah atau Pilihan?

Ketika ditanya apakah Indonesia siap melepas kapitalisme, Shiddiq menjawab tegas:
“Kesiapan nomor dua. Menghapus kemungkaran adalah kewajiban.”

Kapitalisme dianggap mengandung riba, gharar, dan maisir, unsur yang jelas dilarang syariah. Namun ia juga mengingatkan risiko besar yang pernah menimpa Khadafi dan Saddam Hussein ketika menantang dolar Amerika.

Tags: Ekonomi Islam Ekonomi Islam & Kemandirian Umat Kajian Jogja Kajian Kamis Sore Kajian Kampus Jogja Maskam UGM Muhammad Shiddiq Al Jawi

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Dosen DTETI FT UGM Ingatkan Risiko Jika Ulama Tidak Terlibat dalam Menjawab Isu Kontemporer
  • Ketua Senat Akademik FKT UGM Sebut Indonesia Mengalami Penghancuran Ekologi secara Sistematis
  • Dewan Pengarah PSE UGM Dorong Yogyakarta Menjadi Hydrogen Valley Nasional
  • Direktur RZIS UGM: Paradigma Wirausaha Islam Menjauhkan Keluarga dari Praktik Riba
  • Dekan Fakultas Biologi UGM: Alam Rusak karena Manusia Gagal Menjaga Amanah
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY