Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIPOL UGM, Suci Lestari Yuana, S.IP., MIA., Ph.D. mengisi kajian Webinar Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Lingkungan Hidup. Tema yang dibahas adalah “Circular Economy dalam Perspektif Islam: Merumuskan Tata Kelola Sampah untuk Keberlanjutan Sosial-Ekologis” pada (15/10/2025). Kajian ini dilaksanakan secara daring serta dapat disaksikan melalui platform YouTube Masjid Kampus UGM.
Suci mengawali paparannya dengan mengajak peserta untuk merenungkan konsep ekonomi sirkular. “Karena saya kira, semakin ke sini kita sering mendengar istilah ekonomi sirkular itu sebagai solusi teknis dari permasalahan krisis sampah misalnya yang ada di Indonesia. Bisa juga ekonomi sirkular sering muncul sebagai sebuah solusi efisiensi sumber daya atau bagaimana ekonomi sirkular bisa mengurangi emisi karbon,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa jika dilihat lebih dalam, ekonomi sirkular juga bisa bicara tentang hubungan manusia dengan alam. Dalam perspektif Islam, ekonomi sirkular juga bisa bicara tentang iman dan tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi ini.
Suci membagi paparannya menjadi empat bagian, yakni latar belakang munculnya gagasan ekonomi sirkular, perkembangan kajian ekonomi sirkular, konteks kebijakan di Indonesia, dan proyek yang mana project ini mengeksplorasi bagaimana sekolah sebagai sebuah komunitas sosial bisa menjadi agen perubahan dalam transisi berkelanjutan. “Konsep ekonomi sirkular ini lahir dari refleksi banyak akademisi yang melihat bahwa selama ini cara kita mempelajari ekonomi itu terlalu linier. Model ekonomi linier yang dari ekstraksi ke manufaktur, distribusi, konsumsi, dan disposal atau pembuangan,” jelasnya mengenai latar belakang munculnya ekonomi sirkular sebagai kritik terhadap ekonomi linier yang berujung pada pembuangan sampah. Ia menambahkan bahwa tujuan ekonomi sirkular adalah mempertahankan produk dan material dalam siklus produksi selama mungkin.
Baca juga: Soroti Penyakit Hati, Guru Besar Fakultas Psikologi UGM: Obati Hati dengan Lima Langkah Ini
“Jadi ada setidaknya lima prinsip R dalam ekonomi sirkular. Prinsip R ini juga terus berkembang dalam kajian. Nanti saya akan bagikan juga ada sampai 9R tapi kalau dulu mungkin teman-teman sering dengar 3R reduce, reuse, recycle. Nah, di prinsip 5R ini ada dua tambahan, rethink dan juga repair,” papar Suci mengenai prinsip-prinsip ekonomi sirkular. Ia menambahkan bahwa dua tambahan tersebut penting. “Karena semakin mempelajari mengenai ekonomi sirkular, kami menyadari bahwa tantangan terbesar dari perubahan atau mendorong perubahan ekonomi sirkular itu adalah perubahan mindset itu sendiri sehingga kami merasa rethink perlu menjadi salah satu prioritas utama dalam konsep ekonomi sirkular. Lalu, yang kedua itu prinsip repair. Repair sangat relevan dengan prinsip dari ekonomi sirkular yang mencoba untuk memperpanjang usia suatu produk supaya bisa digunakan,” jelasnya.
Melanjutkan dengan pembahasan mengenai konteksnya di Indonesia, Suci memaparkan, “Jadi di Indonesia sendiri, saya ambil dari laporannya BAPPENAS, Indonesia sudah mencoba melihat ekonomi sirkular itu dari 9R. Jadi sebelum rethink itu ada proses refuse atau menolak dulu untuk membuat hal yang baru. Kita mencoba menolak dulu baru rethink, reduce, reuse, dan repair. Di level manufaktur tuh ada refurbase, remanufaktur, repurpose, recycle, dan recover.” Ia melihat bahwa berdasarkan data BAPPENAS ini, terdapat potensi yang sangat besar untuk ekonomi sirkular dalam meningkatkan PDB di Indonesia.
Pada paparan selanjutnya, Suci membahas proyek Mundane Circular Economy yang fokus pada peran sekolah sebagai agen perubahan dalam transisi menuju ekonomi sirkular. “Bayangannya bagaimana kita bisa membuat ekonomi sirkular itu bukan hanya sebagai sebuah teori yang abstrak, tapi bagaimana kita bisa membuat ekonomi sirkular ini sebagai sebuah praktik sehari-hari yang biasa,” jelasnya mengenai motivasi dari proyek tersebut. “Ketika bicara mengenai sirkularitas mungkin kesannya kan kalau ekonomi sirkular itu hal yang baru, tapi kalau dilihat pada praktiknya sehari-hari sebenarnya komponen dari sirkularitas ini udah sering sekali gitu kita temukan dan menjadi bagian dari budaya adat di Indonesia,” terangnya. Ia menambahkan bahwa sirkularitas itu sebenarnya bukan hanya sebagai cara melakukan ekonomi, tetapi juga cara hidup. Bagaimana kita berhubungan dengan alam, bagaimana kita membuat keputusan di level komunitas juga menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
Sebagai penutup paparannya, Suci menyampaikan pembelajarannya yang ia ambil dari buku Quraish Shihab. “Yang pertama tadi bahasanya itu yang dipakai adalah bahwa alam itu ditundukkan atau penundukan alam di mana berarti sebenarnya Al-Qur’an atau dalam Islam sendiri kita mengakui agensi dari aktor-aktor non manusia. kita mengakui bahwa sungai, laut, tanah, langit itu punya hak, punya agensi yang diperjuangkan,” jelasnya. Ia menambahkan, “Lalu poin kedua dalam buku ini yang saya highlight gitu adalah tentang bagaimana Rasulullah punya kebiasaan memberikan nama-nama pada benda-benda di sekitarnya begitu. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri itu memiliki hubungan yang bersahabat bukan hanya dengan alam yang luas, tetapi juga dengan material-material kecil di sekitarnya.” (Miftahul Khairati)