Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar webinar serial “Integrasi Ilmu-Agama” dengan tema studi kebudayaan pada Rabu, 24 September 2024. Webinar sesi ketiga ini menghadirkan Dr. Imam Wicaksono, Lc., M.A., seorang dosen dari Departemen Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Acara yang diselenggarakan langsung melalui Zoom Meeting dan disiarkan melalui kanal YouTube Masjid Kampus UGM ini mengangkat tema “Kebudayaan Profetik sebagai Alternatif Peradaban: Kritik terhadap Budaya Materialistik dan Individualistik”.
Dalam pemaparannya, Imam menyampaikan gagasan bahwa kebudayaan profetik seharusnya tidak hanya dianggap sebagai alternatif, melainkan sebagai solusi utama bagi peradaban. Beliau menekankan bahwa budaya profetik dapat mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh budaya materialistik dan individualistik yang berkembang di tengah masyarakat saat ini.
Asal-Usul Materialisme dan Kekurangannya
Menurut Imam, kehidupan manusia di alam materi berawal dari keterbatasan akal dalam menyelesaikan masalah. Keterbatasan ini melahirkan mitos yang sifatnya irasional dan tidak terikat pada fakta. Mitos kemudian bergeser menjadi ideologi yang bersifat subjektif, lalu berkembang menjadi ilmu yang bersifat objektif dan universal.
Materialisme, sebagai paham yang menjadikan materi sebagai landasan berpikir ilmiah, berpusat pada orientasi terhadap materi. Hal ini memicu obsesi manusia untuk mengumpulkan harta dan mengejar validasi diri dari materi yang dimiliki.
Imam menjelaskan bahwa materialisme dapat mengarah pada sikap negatif atau yang disebut materialistik, di mana seseorang sangat mencintai materi dan menganggap dunia adalah segalanya. Sifat ini membuat seseorang menjadi posesif, berorientasi pada keuntungan materi, dan kehilangan tanggung jawab sosial. Akibatnya, mereka terus-menerus merasa haus dan tidak pernah puas. “Orang seperti ini tidak akan pernah berhenti. Dia akan terus lebih dan lebih. Sehingga, biasanya, dia lepas kontrol.” ujar Dr. Imam.
Baca juga: Masjid Kampus UGM Gelar Peringatan Maulid Nabi, Tekankan Pentingnya Adab sebagai Fondasi Peradaban
Islam dan Materialisme
Meskipun mengkritik materialistik, Dr. Imam menegaskan bahwa Islam tidak anti-materialisme. Islam justru sangat memahami keterbatasan akal manusia dan pentingnya peran materi dalam memotivasi dan memudahkan pemahaman.
Ia mencontohkan bagaimana Islam menggunakan konsep materi untuk memberikan balasan atas kebaikan. Sebagai contoh, pahala salat dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Selain itu, gambaran surga dan neraka dalam Al-Qur’an juga menggunakan unsur-unsur materi untuk memudahkan manusia memahaminya, seperti “sungai-sungai jernih,” “air jahe,” dan “api yang membakar”.
Pilar-Pilar Kebudayaan Profetik sebagai Solusi
Imam menawarkan kebudayaan profetik ala Kuntowijoyo sebagai solusi peradaban dengan tiga pilar utama yang dapat mengatasi budaya materialistik dan individualistik:
Humanisasi (Hubungan dengan Sesama Manusia)
Kebudayaan profetik mengubah pandangan terhadap materi. Materi bukan lagi aset untuk ditumpuk, melainkan amanah yang harus dimanfaatkan. Materi seharusnya menjadi alat untuk memperbaiki hubungan dan tolong-menolong, bukan untuk mengontrol atau menindas orang lain. Praktik seperti zakat, infak, wakaf, dan sedekah adalah wujud nyata dari humanisasi profetik. Selain itu, humanisasi juga melawan individualisme dengan mengajarkan bahwa kesuksesan bukan hanya milik pribadi, melainkan hasil dari peran banyak orang, seperti orang tua, dokter, dan lainnya.
Liberasi (Hubungan dengan Alam)
Pilar liberasi profetik mengajarkan bahwa alam adalah amanah, bukan objek eksploitasi tanpa batas. Imam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis, atau ekoteologi. “Tidak masuk akal,” katanya, jika manusia menambang emas dan timah sebanyak-banyaknya hingga alam rusak dan air tidak bisa diminum, lalu mereka akan makan emas dan timah yang mereka tambang. Kesadaran profetik membawa manusia pada keyakinan bahwa menjaga lingkungan adalah sebuah ibadah.
Transendensi (Hubungan dengan Tuhan)
Pilar ini menggeser orientasi hidup dari validasi materi menuju pengabdian kepada Allah. Imam menyebutkan bahwa harta adalah fasilitas untuk mendekati Allah, bukan untuk menumpuk dan mencari pujian dari manusia. “Puasa itu kan membiarkan manusia dari belenggu konsumtif,” ungkapnya, sebagai contoh nyata bagaimana transendensi mengajarkan manusia untuk tidak lagi terikat pada materi. (Isa Maliki)