Islam bukan sebatas pengakuan melalui lisan, melainkan sebuah komitmen yang kokoh dan diterapkan dalam perbuatan. Prinsip ini merujuk pada firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al Fussilat Ayat 30 yang menjanjikan ketenangan dan surga bagi mereka yang teguh dalam pendiriannya. Ayat tersebut menjadi pokok bahasan yang disampaikan oleh Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.. dalam Kajian Kamis Sore, yang berlangsung di Masjid Kampus UGM (25/12). Beliau menekankan pentingnya keselarasan antara keyakinan dan konsistensi.
Ibadah dan Kajian Islam
Masjid Kampus UGM menyelenggarakan Kajian Kamis Sore dengan tajuk “Spiritual Well-Being melalui Regulasi Emosi & Pembentukan Resiliensi Diri”. Kajian ini menghadirkan Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, President of the International Association of Muslim Psychologists, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Bagus menguraikan struktur dan dinamika psikologis manusia, menekankan tesis bahwa perilaku yang teramati (overt behavior) hanyalah lapisan permukaan atau manifestasi eksternal semata. Ia menegaskan perlunya memahami dimensi internal, seperti spiritual well-being dan resiliensi, sebagai fondasi utama yang mendasari pembentukan perilaku tersebut.
Kajian Kamis Sore yang diselenggarakan di ruang utama Masjid Kampus UGM menghadirkan Dr. Muhammad Iqbal Ahnaf, M.A sebagai pemateri. Pada kesempatan kali ini, Iqbal mengajak jamaah untuk memperluas cara pandang dalam memahami peran seorang Muslim. Tidak hanya menekankan pada nilai-nilai etika, beliau juga menyoroti pentingnya keterampilan (skill) yang harus dimiliki seorang Muslim untuk mampu bertahan dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam.
Masjid Kampus UGM kembali menyelenggarakan Kajian Kamis Sore dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada kesempatan ini, beliau membawakan tema “Menimbang Kejernihan Iman: Refleksi Qur’ani atas Hidup dan Hati”, yang menyoroti keterkaitan antara kualitas iman dan kesehatan mental dalam perspektif Al-Qur’an.
Dalam sebuah kajian bertajuk “Ekonomi Islam & Kemandirian Umat” di Masjid Kampus UGM, Muhammad Shiddiq Al Jawi, M.Si. memaparkan kritik tajam terhadap praktik ekonomi Islam yang berkembang di Indonesia. Dengan analogi keras namun menggugah, beliau menyebut ekonomi syariah yang berjalan hari ini “seperti kaki kambing yang dicangkokkan ke tubuh babi”, sekadar tempelan pada struktur kapitalisme yang tetap dominan.
Masjid Kampus UGM kembali dipadati jamaah dalam Kajian Kamis Sore yang mengangkat tema relevan dan provokatif, “Peran Agama & Filsafat Islam di Era Akal Imitasi (AI).” Digelar pada Kamis, 20 November 2025, kajian ini menghadirkan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum.
Dalam suasana sore yang khidmat, Robby membuka wawasan jamaah dengan sebuah analogi menohok tentang mitologi Yunani Kuno, Narcissus, yang mati karena jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air.
“Siapa sesungguhnya Narcissus itu hari ini? Narcissus adalah kita hari ini. Sungainya apa? Sungai digital,” ujar Robby di hadapan jamaah. Ia menekankan bahwa banyak manusia modern kini tenggelam dalam obsesi kesempurnaan persona digital, melupakan realitas, hingga terjebak dalam arus teknologi yang seharusnya mereka kendalikan.
Kajian Kamis Sore kembali digelar di ruang utama Masjid Kampus UGM pada kamis (13/11). Tema kajian kali ini membahas tentang “Thibbun Nabawi dalam Praktik Medis Kontemporer” yang disampaikan oleh Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K)KL, M.Kes. yaitu seorang dokter ahli bedah & founder Nur Hidayah Group.
“Di dunia digital, yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya waktu dan perhatian, tapi juga akhlak,” ujar Dr. Imam Wicaksono, Lc., M.A., membuka kajian sore di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada. Bagi beliau, ruang virtual bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang yang menguji karakter seseorang.
Media sosial, kata beliau, ibarat pisau bermata dua. “Ia bisa jadi sarana dakwah, belajar, bahkan tempat berbagi inspirasi. Tapi bisa juga menjerumuskan kita dalam riya, pamer, atau bahkan kebohongan.” Teknologi menghadirkan kemudahan, namun jika tak dibingkai dengan akhlak, ia bisa mengikis kesadaran diri sedikit demi sedikit.
Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Kamis Sore pada Kamis, 30 Oktober 2025 di Ruang Utama Masjid Kampus UGM. Kajian kali ini menghadirkan dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana.
Menelusuri Jejak Santri dari Zaman Rasulullah
Istilah santri bukan sekadar label bagi seseorang yang menuntut ilmu agama di pesantren. Kata ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, mencerminkan hubungan erat antara ilmu, adab, dan perjuangan dalam Islam. Dalam kajiannya, Tajul Muluk menjelaskan bahwa makna santri dapat ditelusuri hingga masa Rasulullah ﷺ melalui komunitas Ahlus Suffah, generasi awal pembelajar yang menjadi cikal bakal tradisi pesantren.