Menjelang Iduladha 1447 H, Masjid Kampus UGM menggelar Sekolah Kurban ASUH pada Sabtu (23/5) di Ruang Utama dan Pelataran Masjid Kampus UGM. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 takmir masjid dari berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai upaya meningkatkan tata kelola kurban yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).
Kegiatan berlangsung sejak pukul 07.00 WIB dan menghadirkan tiga narasumber dari bidang kesehatan hewan, penyembelihan halal profesional, hingga pengolahan kuliner daging kurban. Mereka adalah Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D., Direktur H&S Foods Consultants sekaligus Master Trainer Butcher, drh. Sonny Handoko, DVM, M.Sc., M.Des., MB, serta praktisi kuliner Nusantara, Chef Muhammad Wildan Handriyana.
Acara diawali dengan praktik langsung penyembelihan hewan kurban oleh drh. Sonny Handoko. Dalam sesi tersebut, peserta diperlihatkan tahapan penyembelihan sesuai standar halal dan kesejahteraan hewan, mulai dari teknik perobohan hewan, proses penyembelihan, pengeletan, hingga pemotongan karkas secara higienis dan efisien.
Sonny menegaskan bahwa pelaksanaan kurban tidak cukup hanya memenuhi aspek syariat, tetapi juga harus memperhatikan aspek kesehatan masyarakat dan kesejahteraan hewan. Menurutnya, proses penanganan hewan sebelum dan sesudah penyembelihan sangat menentukan kualitas daging yang dihasilkan.
“Penyembelihan kurban harus dilakukan secara profesional. Hewan tidak boleh stres berlebihan karena akan memengaruhi kualitas daging. Selain itu, higienitas alat, lokasi, dan penanganan karkas juga menjadi bagian penting dari standar ASUH,” ujarnya.
Setelah proses pemotongan selesai, daging hasil sembelihan langsung diolah oleh Chef Muhammad Wildan Handriyana bersama tim. Para peserta diperlihatkan praktik pengolahan daging kurban yang higienis, mulai dari penanganan bahan mentah, teknik pemasakan, hingga penyajian makanan agar tetap berkualitas dan aman dikonsumsi.

Chef Wildan menjelaskan bahwa pengolahan daging kurban sering kali menghadapi persoalan kebersihan dan teknik memasak yang kurang tepat. Karena itu, edukasi mengenai pengolahan pangan menjadi penting agar distribusi dan konsumsi daging kurban lebih optimal.
“Daging kurban yang baik harus ditangani dengan benar sejak awal. Kalau proses penanganannya tepat, hasil masakannya juga akan lebih sehat, empuk, dan berkualitas,” katanya.
Sementara itu, Prof. Agung Budiyanto menekankan pentingnya edukasi kurban berbasis ilmu pengetahuan dan nilai syariat. Menurutnya, takmir masjid memiliki peran strategis dalam memastikan pelaksanaan kurban di masyarakat berjalan aman dan sesuai standar.
Ia berharap Sekolah Kurban ASUH dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas bagi para panitia kurban di DIY. Dengan meningkatnya pemahaman mengenai kesehatan hewan, standar halal, dan higienitas pangan, pelaksanaan kurban di masyarakat diharapkan semakin profesional dan memberikan kemaslahatan yang lebih luas.
“Kurban bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi juga bagian dari ibadah yang harus menjaga aspek kesehatan, kebersihan, kesejahteraan hewan, dan kemanfaatan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kegiatan Sekolah Kurban ASUH ditutup dengan makan bersama seluruh peserta menggunakan olahan daging kurban yang telah dimasak selama praktik berlangsung. Suasana kebersamaan dan antusiasme peserta tampak mewarnai rangkaian acara hingga akhir kegiatan.
