• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Jangan Salah Kaprah! Ini Bedanya Cinta dan Syahwat Menurut Fauzil Adhim

Jangan Salah Kaprah! Ini Bedanya Cinta dan Syahwat Menurut Fauzil Adhim

  • Sakinah Academy
  • 21 April 2026, 11.41
  • Oleh: Alkansa Fauziyyah
  • 0

Apakah mencintai lawan jenis merupakan bagian dari fitrah manusia atau sekadar dorongan syahwat yang dihiaskan? Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun menyimpan kompleksitas teologis dan psikologis yang mendalam. Dalam kajian bertajuk “Fitrah or Desire? Identitas dan Kompleksitas Cinta dalam Relasi Berpasangan” yang digelar oleh Sakinah Akademy Masjid Kampus UGM, pertanyaan tersebut dijawab secara gamblang oleh seorang pakar psikologi dan parenting, Muhammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Kajian ini membahas dua konsep besar yang kerap rancu dalam benak banyak orang, yakni fitrah dan desire atau syahwat, khususnya dalam konteks relasi berpasangan. Tema ini dipilih karena kini, banyak generasi muda yang terjebak dalam kerancuan memahami identitas diri saat menjalin hubungan. Banyak yang tidak menyadari  menukar prinsip dengan perasaan ketika memasuki relasi berpasangan sehingga kehilangan akar jati diri sebagai hamba Allah Swt.

Di tengah derasnya arus budaya pop dan narasi romantisisme yang mendominasi media sosial, banyak anak muda yang tumbuh dengan pemahaman keliru tentang cinta. Cinta kerap digambarkan sebagai sesuatu yang “suci” secara absolut dan tak perlu diatur, padahal Islam memiliki pandangan yang jauh lebih bernuansa. Alumnus Fakultas Psikologi UGM ini mengemukakan bahwa kerancuan antara fitrah dan syahwat inilah yang seringkali menjadi akar persoalan dalam relasi berpasangan.

Dalam Kajian Sakinah Akademy, Masjid Kampus UGM, pada Senin sore (20/4), Fauzil  memamparkan hal tersebut dengan pendekatan linguistik dan teologis. Ia kemudian menelaah makna kata “fitrah” secara bahasa dan istilah dalam Al-Qur’an. Ia merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 30, yang menurutnya satu-satunya ayat yang memuat kata fitrah sekaligus secara bahasa dan istilah. Dalam ayat tersebut, ditegaskan bahwa  bahwa fitrah adalah penciptaan paling awal yang dinisbahkan kepada Allah sehingga konsekuensinya bersifat terpuji secara mutlak. “Alfitrah itu penciptaan yang paling awal.  Karena fitrah dinisbahkan kepada Allah dalam Al-Qur’an, maka pastilah baik, pastilah terpuji.” ungkapnya.

Baca juga: Dosen Fakultas Teknik UGM Tekankan “Perniagaan dengan Allah” melalui Tiga Amalan Utama

Fauzil menegaskan bahwa ketertarikan terhadap lawan jenis bukanlah termasuk fitrah dalam pengertian ini. Dalam kesempatan ini, ia mengajak peserta untuk merenungkan fakta sederhana, yakni bayi yang baru lahir tidak menunjukkan ketertarikan kepada lawan jenis. “Ketertarikan itu baru muncul ketika seseorang telah memasuki usia tertentu, yang dalam Al-Qur’an dideskripsikan sebagai sesuatu yang “dihiaskan” (zuyina) kepada manusia.” jelasnya.

Merujuk pada Surah Ali Imran, Fauzil menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan kata zuyina (dihiaskan) untuk menggambarkan kecintaan manusia kepada syahwat, termasuk kepada lawan jenis. Kata ini menunjukkan bahwa hasrat tersebut merupakan sesuatu yang ditambahkan setelah penciptaan awal, bukan bagian dari fitrah asali. “Mencintai lawan jenis itu dihiaskan kepada manusia. Karena itu sifatnya bukan fitrah, melainkan syahwat yang perlu dikawal dengan benar agar tidak memalingkan manusia dari fitrah yang sesungguhnya,” tuturnya.

Dengan penegasan ini, Fauzil mendorong peserta untuk membedakan antara dua jenis gejolak: gejolak yang bersifat syahwat, dan gejolak yang terkait dengan cinta. “Syahwat bersifat lebih instan dan dapat terlampiaskan, sementara cinta adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang, khususnya dalam ikatan pernikahan yang sah,” tegasnya.

Lebih dalam, Fauzil menjelaskan mengenai  tingkatan-tingkatan cinta dalam perspektif Islam klasik. Hal tersebut ia ambil dari karya ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam kitab Raudhul Muhibbin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta). Dimulai dari al-alaqah (keterikatan awal), kemudian berkembang menjadi al-iradah (keinginan dan kehendak), lalu al-shababah (ketika perasaan mulai menguasai relung jiwa), dan seterusnya hingga tingkat yang paling berbahaya, yakni al-isyq (cinta yang memabukkan) hingga al-tatayyum (penghambaan karena cinta).

Fauzil kemudian mencontohkan kisah Abdurrahman bin Muljam Al-Himyari, seorang hafizh Al-Qur’an yang diangkat menjadi pengajar di Mesir pada zaman Umar bin Khattab, namun akhirnya melakukan pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib demi memenuhi syarat yang diajukan seorang perempuan yang ia cintai. Kisah ini menjadi peringatan keras betapa cinta yang tidak dikendalikan dapat menggiring seseorang kepada kehancuran moral dan spiritual. “Ada cinta yang disebut mahabbah madzmumah, cinta yang tercela. Cinta itu tercela ketika ia menjadi sebab jauhnya seorang hamba dari Allah Swt,” jelasnya.

Fauzil Adhim menekankan bahwa pernikahan adalah pintu utama yang disediakan Islam untuk menyalurkan syahwat secara bermartabat sekaligus menumbuhkan cinta yang sesungguhnya. Ia merujuk pada Surah Ar-Rum yang menyebutkan bahwa di antara tanda kebesaran Allah adalah diciptakannya pasangan agar manusia mendapatkan ketenangan (sakinah), dilanjutkan dengan tumbuhnya mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang).

Ia kemudian menggarisbawahi  pentingnya mempersiapkan diri sebelum menikah, bukan dengan mengobari syahwat, melainkan dengan memperdalam pemahaman tentang tanggung jawab. Fauzil mengisahkan pengalamannya sendiri yang mulai mempersiapkan diri untuk menikah sejak SMA dengan membaca buku-buku tentang kewajiban suami, dan akhirnya menikah saat kuliah di Fakultas Psikologi UGM. “Syahwat itu tak perlu dikobarkan, ia sudah cenderung berkobar sendiri. Yang perlu didahulukan adalah tanggung jawab,” pungkasnya.

Kajian ini menjadi pengingat yang relevan di tengah maraknya narasi “ikuti perasaanmu” yang kerap menyesatkan. Dengan menghadirkan kerangka teologis yang kokoh sekaligus pendekatan psikologis yang membumi, Muhammad Fauzil Adhim berhasil memberikan perspektif segar bahwa mencintai dengan benar bukan berarti menyerah pada dorongan hasrat, melainkan justru membangun cinta di atas fondasi identitas diri sebagai hamba Allah yang kuat.

Bagi generasi muda yang tengah mencari makna dalam relasi berpasangan, pesan utama kajian ini amat jelas, yakni kenali terlebih dahulu siapa dirimu sebagai hamba, sebelum kamu mencoba mendefinisikan dirimu sebagai pasangan seseorang. Karena hanya dari sana, cinta yang sejati dapat bertumbuh.

Penulis: Alkansa Fauziyyah

Editor: Aldi Firmansyah

 

Post Views: 4
Tags: Al-Qur'an cinta dalam islam desire fitrah generasi muda identitas diri kompleksitas cinta mahabbah Masjid Kampus UGM mawaddah Muhammad Fauzil Adhim Sakinah Akademi syahwat

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Jangan Salah Kaprah! Ini Bedanya Cinta dan Syahwat Menurut Fauzil Adhim
  • Dosen Fakultas Teknik UGM Tekankan “Perniagaan dengan Allah” melalui Tiga Amalan Utama
  • Pakar Hukum UGM Bedah Klaim Self-Defense Israel dalam Hukum Internasional
  • Guru Besar FEB UGM Soroti Efisiensi Anggaran Pendidikan Rawan Picu Disparitas Antarwilayah
  • Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY