Webinar bertajuk Relevansi Prinsip Islam dalam Mengatasi Isu Ketahanan Pangan diselenggarakan pada Selasa (12/11) pukul 15.30 WIB melalui kanal YouTube Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini merupakan bagian dari Serial Integrasi Ilmu-Agama: Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik, dengan menghadirkan Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P., Guru Besar Bidang Ilmu Pemasaran Pertanian Fakultas Pertanian UGM.
Dalam pemaparannya, Prof. Jamhari menyoroti isu ketahanan pangan yang kini menjadi tantangan serius bagi Indonesia maupun dunia. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya persoalan ekonomi, melainkan juga berkaitan dengan nilai keimanan, moralitas, dan tanggung jawab sosial sebagaimana diajarkan dalam Islam. Ia mengawali penjelasan dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 bahwa manusia akan diuji dengan rasa lapar. Dari ayat tersebut, Prof. Jamhari menegaskan bahwa iman merupakan modal dasar dalam menghadapi ujian kelaparan dan kekurangan pangan.
“Iman saja tidak cukup tanpa diiringi usaha. Kita diuji dengan rasa lapar agar bisa memetik hikmah dari setiap ujian, dan menjadikannya amal saleh,” ujarnya.
Berdasarkan data Global Food Security Index, Indonesia menempati peringkat 63 dari 113 negara, sedangkan dalam Global Hunger Index berada di peringkat 70 dari 117 negara. Prof. Jamhari menilai angka tersebut menunjukkan bahwa masalah pangan masih memerlukan perhatian serius. Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan mencakup ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas konsumsi, yang ketiganya perlu dikuatkan secara bersamaan.
Selain itu, Prof. Jamhari menyoroti ketimpangan dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Banyak keluarga yang mengonsumsi karbohidrat berlebih, namun kekurangan protein dan gizi mikro. Dalam pandangannya, Islam telah memberikan pedoman yang jelas tentang keseimbangan konsumsi sebagaimana tertuang dalam Surah Al-A’raf ayat 31, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Baca juga: Bunyan Wahib Jelaskan Kompleksitas Waris Cucu Menurut Fikih dan KHI
“Rasulullah mengajarkan agar kita berhenti makan sebelum kenyang. Prinsip itu sejalan dengan ajaran Islam untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam konsumsi,” jelasnya.
Jamhari juga menegaskan pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalan thayiban). Menurutnya, makanan yang baik tidak hanya halal secara zat, tetapi juga bergizi dan menyehatkan. Islam mendorong manusia untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, termasuk dalam hal pangan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam memandang kerja dan produksi sebagai bentuk ibadah. Hal tersebut ditegaskan dalam Surah An-Najm ayat 39, “Dan manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” Melalui ayat ini, Jamhari menekankan bahwa produktivitas pertanian merupakan tanggung jawab moral setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dan berkelanjutan.
Menurutnya, produktivitas pertanian Indonesia masih menghadapi kendala seperti lahan sempit, keterbatasan modal, serta belum meratanya akses teknologi. Untuk itu, ia mendorong penerapan sistem ekonomi syariah berbasis kerja sama dan keadilan. Prinsip ta‘awun atau tolong-menolong dalam kebaikan dapat diterapkan dalam kerja sama antarpetani, pengelolaan koperasi, dan sistem pembiayaan syariah yang tidak memberatkan pihak lemah.
Dalam aspek distribusi pangan, Jamhari mengingatkan larangan menimbun barang osebagaimana sabda Rasulullah saw., “Tidak ada yang menimbun barang kecuali orang yang berdosa.” Ia menekankan bahwa praktik penimbunan dan manipulasi harga sangat bertentangan dengan nilai keadilan dalam Islam. Selain itu, zakat, infak, dan sedekah berperan penting dalam membantu masyarakat yang rawan pangan sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Jamhari juga menyoroti aspek kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menegaskan bahwa eksploitasi lahan dan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan alam sebagaimana diingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
Menutup pemaparannya, Jamhari meneladani kisah Nabi Yusuf a.s. dalam menghadapi krisis pangan Mesir. Menurutnya, prinsip perencanaan dan pengelolaan stok pangan yang dilakukan Nabi Yusuf menunjukkan pentingnya manajemen yang bijak dan berkelanjutan.
“Ketahanan pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan iman dan akhlak. Islam telah memberikan prinsip lengkap mulai dari produksi, konsumsi, hingga distribusi untuk mewujudkan kesejahteraan umat,” pungkasnya.