Pada Ahad malam, 17 November 2024, Masjid Kampus UGM menyelenggarakan kegiatan Sakinah Public Lecture seri perdana dengan tema “Pemimpin yang Dicintai dan Qawwamah bagi Keluarga.” Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting serta disiarkan secara langsung melalui YouTube Live di kanal resmi Masjid Kampus UGM.
Bayangkan sebuah rumah di mana kehangatan tak hanya berasal dari dindingnya, tapi dari jiwa-jiwa yang saling mencintai di dalamnya. Di sana, seorang ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pemimpin yang dicintai yaitu sbagai pelindung, pengayom, dan guru kehidupan bagi keluarganya. Inilah potret rumah tangga ideal yang diperbincangkan dalam Sakinah Public Lecture di Masjid Kampus UGM, bersama Dr. Muhammad Zaitun Rasmin. Tema yang diangkat, “Pemimpin yang Dicintai dan Qawwamah bagi Keluarga”, bukan sekadar pembahasan tentang peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga, melainkan refleksi mendalam tentang seni memimpin dengan cinta.
Kepemimpinan dalam keluarga, kata Ustaz Zaitun, bukanlah soal kuasa, tapi amanah. Seorang suami disebut qawwam, pemimpin yang bertanggung jawab melindungi dan memelihara keluarganya, bukan menguasai. Ia bukan raja yang menuntut, melainkan gembala yang menjaga. Dalam satu kalimat yang penuh makna, beliau menegaskan: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Kalimat ini menggema seperti dentuman lembut di dada para ayah muda bahwa cinta dan tanggung jawab adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Menjadi pemimpin yang dicintai tak datang secara otomatis. Ia lahir dari perhatian kecil yang tulus, dari senyum yang menghapus lelah istri, dari pelukan hangat yang menenangkan hati anak. Pemimpin yang baik bukan yang ditakuti, tetapi yang dirindukan. Ia mampu menegur tanpa melukai, memimpin tanpa mendominasi, dan mendidik tanpa merendahkan. Dalam rumah yang seperti ini, setiap percakapan menjadi doa, setiap perbedaan menjadi pelajaran, dan setiap masalah menjadi jalan menuju kedewasaan.
Namun, di balik ketenangan itu, ada perjuangan besar yang kadang tak terlihat. Seorang suami yang bekerja keras, menahan ego, menata emosi, dan tetap menjaga kelembutan. Dialah qawwam sejati. Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mengajarkan keseimbangan: antara kekuatan dan kasih sayang, antara tanggung jawab dan kelembutan hati. Karena sesungguhnya, rumah yang kokoh bukan dibangun dari beton dan bata, melainkan dari cinta dan kesabaran.
Dan di situlah, seperti pesan penutup Ustaz Zaitun, keluarga menjadi tiga hal sekaligus: ma’wah (tempat berlindung), madrasah (tempat belajar), dan markas dakwah (tempat menebar kebaikan). Tiga pondasi inilah yang menjadikan rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, tapi sekolah kehidupan. Di sanalah cinta diuji, iman tumbuh, dan peradaban dimulai dari seorang pemimpin yang dicintai, di tengah keluarga yang sakinah. (Alkansa Fauziyyah)