• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita dan Informasi
  • Masjid Kampus UGM Gelar Seminar Internasional Bahas Masa Depan Islam sebagai Paradigma Ilmu dan Peradaban

Masjid Kampus UGM Gelar Seminar Internasional Bahas Masa Depan Islam sebagai Paradigma Ilmu dan Peradaban

  • Berita dan Informasi
  • 10 November 2025, 11.23
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Masjid Kampus UGM menggelar International Seminar on Islam and Civilization 2025 bertema “Integration of Knowledge and Islam as Science: The Future of Islamic Thought.” pada Ahad (9/11). Kegiatan ini berupaya menghidupkan kembali tradisi ilmiah Islam yang berpadu dengan nilai-nilai keuniversalan dan semangat keilmuan modern.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Hymne Gadjah Mada. Dalam sambutan mewakili Rektor UGM, Dr. Eli Susanto, S.IP., Ph.D. (Direktur Perencanaan UGM) menyampaikan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis bagi akademisi dan praktisi untuk menelaah kembali kekayaan pemikiran Islam. “Dalam era yang ditandai oleh perubahan cepat pada bidang sosial, teknologi, maupun etika, penting bagi kita untuk membangun formasi intelektual, moral, dan spiritual yang menuntun kemanusiaan menuju keadaban sejati,” ujarnya. Eli juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan refleksi kritis untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Baikuni, M.A., Ketua Dewan Guru Besar UGM, yang menegaskan bahwa pemikiran Islam harus hadir sebagai jembatan antara iman dan akal, antara tradisi dan modernitas, antara kearifan lokal dan tantangan global. “Seminar ini bukan hanya forum akademik, tetapi juga pertemuan nilai, antara tradisi dan modernitas, antara keimanan dan nalar. Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah menerangi dunia dengan sinar ilmu yang memadukan wahyu dan rasio,” terang Prof. Baikuni.

Beliau juga mendorong agar forum semacam ini melahirkan kolaborasi riset yang nyata dalam bidang filsafat, sains dan teknologi, keadilan sosial, sistem kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan — semuanya berpijak pada nilai-nilai Islam.

Islam sebagai Paradigma Ilmu

Sesi utama seminar ini menghadirkan tiga tokoh kunci dunia pemikiran Islam:

  1. Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil. (Universitas Gadjah Mada)
  2. Prof. Dr. Jasser Auda (Maqasid Institute)
  3. Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog (International Association of Muslim Psychologists)

Dipandu oleh Dr. M. Rodinal Khair Khosri, M.Phil. dari Fakultas Filsafat UGM, sesi ini menghadirkan dialog mendalam mengenai bagaimana Islam tidak hanya berdampingan dengan ilmu pengetahuan, tetapi menjadi paradigma ilmu itu sendiri.

Heddy Shri Ahimsa: Menghidupkan Kembali Ilmu Profetik

Dalam paparan bertajuk “Prophetic Methodology as the Future of Islamic Thought,” Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra menegaskan bahwa Islam perlu dipahami bukan sekadar sebagai sistem kepercayaan, melainkan sebagai paradigma ilmu yang berakar pada wahyu.

Mengutip pemikiran almarhum Prof. Kuntowijoyo, beliau menjelaskan konsep Ilmu Sosial Profetik yang menempatkan ilmu sebagai sarana transformasi sosial dan spiritual. “Islam adalah sains, dan sains sejati adalah yang memiliki ruh profetik. Ilmu profetik berakar pada Al-Qur’an, tetapi berbuah dalam realitas sosial. Ia menuntun manusia untuk tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memperbaikinya,” jelasnya.

Prof. Heddy juga memaparkan langkah metodologis membangun sains profetik mulai dari identifikasi kata kunci Al-Qur’an hingga penerapan konsep tersebut dalam riset empiris. Dengan demikian, dunia dapat dilihat dari perspektif Al-Qur’an secara operasional, bukan sekadar teoretik.

 

Jasser Auda: Dunia Membutuhkan Islam sebagai Jalan Peradaban

Sementara itu, Prof. Dr. Jasser Auda memberikan pandangan global tentang krisis epistemologis dan moral dunia modern. Dalam presentasi bernasnya, beliau menyoroti bagaimana ilmu kontemporer terjebak dalam sekularisasi nilai. “Ilmu dalam Islam adalah kebenaran, bukan hipotesis. Yang faktual bukanlah teori, tetapi wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya. Dunia membutuhkan Islam bukan sebagai agama yang terpisah dari sains, melainkan sebagai sistem pengetahuan dan peradaban,” tegasnya.

Beliau menyerukan perlunya revisi total terhadap disiplin ilmu modern agar selaras dengan pandangan dunia Qur’ani, sekaligus menolak paradigma “Islamisasi ilmu” yang bersifat apologetik. Sebagai gantinya, Prof. Auda menawarkan pendekatan fenomenologis: mendisiplinkan ilmu berdasarkan fenomena kehidupan seperti keadilan, kemiskinan, dan kesehatan bukan sekadar berdasarkan kategori disiplin Barat.

“Kita perlu mendefinisikan ulang manusia, pengetahuan, dan realitas dari perspektif Al-Qur’an. Dunia sedang mencari arah baru, dan Islam punya potensi besar untuk menjadi jawabannya,” pungkasnya.

Bagus Riyono: Membangun Psikologi Berbasis Tazkiyah al-Nafs

Sebagai penutup sesi utama, Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog mempresentasikan gagasan Islam as a Science in Psychology. Ia mengajukan paradigma baru psikologi Islam yang berpijak pada konsep nafs dan bertujuan mencapai nafs al-muthmainnah — jiwa yang tenang dan sehat secara spiritual.

“Kesehatan mental sejati bukan sekadar ketiadaan gangguan, melainkan tercapainya ketenangan batin yang bersumber dari kesadaran akan Allah,” ungkapnya.

Melalui pendekatan tazkiyah al-nafs, beliau merumuskan tiga langkah transformasi diri: memperkuat (taqwiyah), memurnikan (tazkiyah), dan menumbuhkan (namiyah) hati. Pendekatan ini menggabungkan pesan Al-Qur’an dengan psikologi modern, sehingga melahirkan konsep terapi yang lebih utuh dan bermakna.

Diskusi yang hangat dan reflektif ini menegaskan peran Masjid Kampus UGM bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban ilmu. Di bawah kepemimpinan Dr. Muhammad Yusuf, M.A., Masjid Kampus terus berkomitmen menghadirkan wacana ilmiah yang memadukan spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan. “Masjid Kampus bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat berpikir dan berdialog. Dari sinilah lahir gagasan-gagasan yang menyatukan iman dan ilmu, wahyu dan rasio,” tutur Yusuf.

Tags: Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ini Tiga Kunci Hidup Bermakna Menurut Syatori Abdurrauf
  • Sambut Ramadan, Syatori Abdurrauf Ajak Jemaah Kelola Hati dan Kendalikan Diri
  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
  • Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid
  • Ekonom UGM Soroti Kesenjangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pasar Kerja Pascakrisis
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY