Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si menegaskan bahwa krisis ekologi kontemporer memerlukan solusi yang melampaui batas-batas disiplin ilmu. Presentasi ini berfokus pada integrasi mendalam antara perspektif ilmiah yang didasarkan pada data, dengan perspektif spiritualitas yang memberikan landasan etika dan moral. Djati Mardiatno menekankan bahwa krisis ekologi saat ini merupakan cerminan nyata dari kegagalan manusia dalam menyeimbangkan kemajuan peradaban dengan tanggung jawab ekologis.
Secara ilmiah, data menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan: kenaikan suhu rata-rata global, peningkatan muka air laut, dan polusi mikroplastik yang masif di lautan. Akar masalahnya jelas, didorong oleh peningkatan gas rumah kaca, penggunaan bahan bakar fosil, dan kerusakan ekosistem. Konsekuensinya berupa penurunan kualitas air, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, dan kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, pendekatan ilmiah menawarkan solusi konkret seperti konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan teknologi ramah lingkungan, dan penerapan analisis kebijakan seperti AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) untuk mengelola dampak aktivitas manusia secara rasional.
Baca juga: Ingin Merasa Lebih ‘Kaya’? Akhmad Akbar Susamto: Kuncinya di Hati, Bukan Gaji
Di sisi lain, dimensi spiritual memberikan jawaban moral yang mendasar. Agama memandang alam sebagai ciptaan suci dan menetapkan manusia sebagai penjaga bumi (khalifah) yang memiliki tanggung jawab moral mutlak. Konsep spiritualitas menekankan perlunya keseimbangan ekologis dan upaya reformasi (islah) yang berorientasi pada kebaikan (shalih) dan kebermanfaatan (mashlahah), sejalan dengan peringatan keras dalam kitab suci tentang mereka yang berbuat kerusakan tanpa menyadarinya. Praktik spiritual dan nilai inti seperti rasa syukur terhadap alam, empati terhadap makhluk hidup, dan gaya hidup berkelanjutan menjadi cara untuk memperkuat kesadaran ekologis kolektif.
Untuk mengatasi krisis ini, integrasi yang utuh antara ilmu dan spiritualitas menjadi kunci. Hal ini didasarkan pada prinsip Holistik, yakni menggabungkan data ilmiah dengan nilai spiritual; Etika Lingkungan, yang menuntut agar alam diposisikan sebagai mitra hidup bukan objek eksploitasi; dan Kesadaran Kosmik, yang mengakui manusia adalah bagian integral dari komunitas semesta. Integrasi ini diwujudkan dalam gerakan Ekoteologi, yang menuntut agar konservasi lingkungan menjadi inti dari akidah dan praktik keagamaan. Masjid, misalnya, didorong untuk bertransformasi menjadi pusat konservasi lingkungan, tempat masyarakat belajar menanam, memilah sampah, dan merawat bumi sebagai amanah ilahiah.
Sebagai penutup, Djati Mardiatno menekankan bahwa krisis ekologi adalah krisis spiritual dan moral yang telah memicu krisis kemanusiaan. Solusi terbaik adalah pendekatan interdisipliner yang menyatukan ilmu, etika, dan spiritualitas. Pendidikan dan kebijakan publik harus mengadopsi nilai-nilai ekologis yang berakar pada kesadaran spiritual. Agama memiliki kekuatan moral untuk menolong manusia keluar dari krisis ini, bukan dengan cara mencampurkan keyakinan, tetapi melalui saling menginspirasi dan berkolaborasi secara nyata dalam menjaga kelestarian bumi untuk generasi mendatang. (Thareeq Arkan)
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=-X-8cjTgF6E[/embedyt]